Pencarian

>

Kick Off Geber Masjid, Menag: Harus Jadi Sumber Inspirasi dan Pusat Peradaban

Kota Bekasi (KEMENAG)

Masjid bukan hanya bangunan fisik dengan mimbar dan sajadah, ia adalah pusat peradaban. Dari masjid lahir nilai-nilai ilmu etika dan solidaritas sosial. Masjid harus menjadi sumber inspirasi, penggerak kebajikan dan penyejuk bagi umat. Jika Masjidil hadir di tengah masyarakat dengan wajah peradaban, maka umat akan merasakan cahaya kasih sayang Allah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian dikatakan Menteri Agama RI dalam sambutannya yang dibacakan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Drs. H. Arsyad Hidayat, Lc. MA, pada acara kick off Gerakan Bersih-Bersih Masjid (Geber Masjid), Senin(16/2/2026), di Masjid Jami Al-Azhar Jakapermai Kota Bekasi.

Pada kesempatan itu hadir Kakanwil Kemenag Jabar, H. Dudu Rohman, S. Ag, M. Si.Ses Ditjen Bimas Islam, Hj. Lubenah, S.Ag., M.A.; Direktur JPH, H. Fuad Nasar; Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam; Sekjen PP Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dr. H. Rahmat Hidayat; Ketua Umum DPP BPKRMI, H. Nanang Mubarok; Kabid Urais dan Bina Syariah Kanwil Kemenag Jabar, Dr. H. Ohan Burhan, M. Pd; dan Kepala Kantor Kemenag Kota Bekasi, H. Ali Mashuri, S.H., M.Hum., Kepala Dikmental TNI AL, Laksma TNI H. Harun Arsyid, S.Ag, Kepala Dikmental TNI AU, Jenderal H. Jaetul Muchlis, Kepala Dikmental TNI AD, Brigjen TNI Nur Rohman

“Majid bukan sekadar bangunan fisik dengan kubah dan menara melainkan pusat pembinaan iman, pusat pendidikan Islam, pusat pelayanan sosial dan pusat penguatan nilai-nilai kebangsaan. Dari masjid lahir generasi berakhlak, masyarakat yang berdaya, dan bangsa yang bermartabat,” kata Arsyad Hidayat. 

Menurutnya, Alquran dalam surat At-Taubah ayat 18 menegaskan, yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan beriman pada hari kemudian, mendirikan salat menunaikan zakat dan tingginya takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Ayat ini mengajarkan, memakmurkan masjid adalah wujud nyata keimanan bukan hanya menghadirkan jamaah tetapi juga menjaga merawat dan memuliakannya. Karena itu masjid memerlukan pemberdayaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Masjid tidak cukup hanya ramai pada saat waktu salat tetapi juga harus menjadi rumah jemaah sepanjang waktu. 

Pemberdayaan ini meliputi bidang ekonomi, pendidikan sosial bahkan literasi digital. Dengan demikian masjid dapat menjawab tantangan zaman modern, sekaligus menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi umat 

Jejaring luas

Arsyad mengungkapkan data jumlah masjid dan musala di Indonesia. Menurutnya, berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (Simas) Kementerian Agama, saat ini tercatat sebanyak 315.124 masjid dan 388 713 mushola yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan demikian, di total ada lebih dari 700 ribu masjid mushola yang tercatat. 

Angka ini bisa mungkin lebih dari satu juta. Akan tetapi yang masuk tercatat dan terdaftar pada Simas Kemenag ada di angka 700 ribuan. Angka ini menunjukkan betapa luasnya jejaring rumah ibadah umat Islam di negeri ini. Masjid dan mushala tersebar dari pusat kota hingga pelosok desa dari wilayah pesisir hingga pegunungan. 

Di balik angka yang besar ini terdapat tanggung jawab yang besar pula. Sudah seharusnya tidak hanya berbicara tentang angka tetapi tentang kualitas pengelolaan, kebersihan, kenyamanan dan kebermanfaatannya bagi umat. 

“Karena itu kick off Gerakan Bersama Bersih-Bersih Masjid yang kita laksanakan hari ini menjadi sangat strategis dan relevan. Gerakan ini merupakan wujud sinergi dan gotong royong nasional.Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pimpinan pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) yang selama ini konsisten menggerakkan pemberdayaan dan kemakmuran masjid,” tuturnya.

Dia juga memberi apresiasi hubungan dengan jajaran TNI AD, TNI AL, dan TNI AU melalui pembinaan mental keagamaan, serta seluruh satuan kerja pekerja agama secara vertikal dari pusat sampai daerah.  

Kegiatan tersebut, katanya, berkaitan menyambut bulan suci Ramadan. Bulan puasa merupakan bulan penyucian diri, bulan peningkatan kualitas ibadah, dan bulan penguatan kepedulian sosial. Menyambut Ramadan tidak cukup dengan persiapan spiritual semata tetapi juga dengan menyiapkan ruang ibadah yang bersih sehat dan nyaman. 

Pihaknya ingin memastikan, ketika jemaah datang untuk salat tarawih, tadarus Alquran, itikaf dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya, mereka merasakan kenyamanan dan ketenangan tempat wudu yang bersih karpet yang terawat ventilasi yang baik sanitasi yang memadai. Semua itu adalah bagian dari pelayanan kepada umat.  

Budaya baru

Gerakan Bersama Bersih-Bersih Masjid, lanjut Arsyad, hendaknya menjadi momentum membangun budaya baru. Dalam pengelolaan masjid tidak hanya bersih menjelang bulan suci Ramadan, tetapi bersih sepanjang hari dan sepanjang tahun. Tidak hanya rapi saat kegiatan besar tetapi juga tertata rapi setiap hari. 

“Saya mendorong agar gerakan ini diikuti dengan peningkatan kapasitas manajemen masjid, penguatan peran takmir, serta transparasi pengelolaan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung tata kelola yang lebih profesional. Mesjid harus dikelola dengan semangat instan melakukan yang terbaik karena Allah melihat setiap ikhtiar kita bersama,” ujarnya. 

Masjid yang bersih dan terawat akan menghadirkan kenyamanan, kenyamanan akan menghadirkan kedekatan, kedekatan akan melahirkan partisipasi, dan partisipasi akan melahirkan kemakmuran. Di sinilah makna gerakan ini menjadi sangat penting. Dia bukan sekadar kegiatan kebersihan atau bersih-bersih tetapi juga bagian dari strategi besar memakmurkan masjid dan menguatkan umat.

Kegiatan Geber masjid juga dilaksanakan secara Zoom meeting Se Indonesia. Pada kesempatan itu,  peserta bersih bersih masjid melakukan penanaman pohon serta  membersihkan sampah di sekitar lokasi. Acara diakhiri dengan silaturahmi 

Kontributor : Eva Nurwidiawati