Cipatujah (Kemenag)
Kepala Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Dr. H. Asep Barhia, S.Ag., M.Pd.I
menghadiri kegiatan Hisab dan Rukyatul Hilal yang dilaksanakan di Pantai
Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (18/02/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penentuan awal Bulan Ramadhan 1447
Hijriyah.
Turut hadir dalam
kegiatan tersebut unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya yang diwakili
Kabag Kesra dan Kasubbag Bina Agama, jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten
Tasikmalaya, pimpinan ormas Islam, serta unsur Pemerintah Kecamatan Cipatujah.
Dalam sambutannya,
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Dr. H. Asep Barhia,
S.Ag., M.Pd.I menyampaikan Rukyatul hilal bukan sekadar tradisi tahunan,
melainkan perintah syar’i yang memiliki landasan kuat.
“Di dalam hadis
Rasulullah SAW Bersabda: “Shumu li ru’yatihi wa afthiru li ru’yatihi” berpuasalah
kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Inilah dasar
normatif (syar’i) yang menjadi pijakan utama umat Islam dalam menentukan awal
bulan Hijriah,”Ucapnya
Selanjutnya H. Asep
mengatakan Islam juga merupakan agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, pelaksanaan rukyatul hilal di Indonesia memadukan dua
pendekatan yaitu pendekatan syar’iyah melalui rukyat, dan pendekatan ilmiah
melalui hisab astronomi. “Data hisab memberikan informasi mengenai posisi
geometris bulan tinggi hilal, elongasi, umur bulan, serta parameter visibilitas
yang menjadi panduan teknis dalam pelaksanaan rukyat di lapangan”Ujarnya
Selanjutnya H. Asep
mengatakan pendekatan integratif ini menunjukkan bahwa antara wahyu dan ilmu
tidaklah bertentangan, melainkan saling menguatkan. Hisab berfungsi sebagai
instrumen prediktif berbasis sains, sementara rukyat menjadi verifikasi empirik
atas kemungkinan terlihatnya hilal. Keduanya berjalan dalam kerangka metodologi
yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sekaligus sah secara syar’i.
H. Asep juga
menambahkan Kegiatan pada hari ini di Cipatujah memiliki nilai strategis karena
secara geografis berada di pesisir selatan yang memungkinkan ufuk barat relatif
terbuka. Ini menjadi bagian dari ikhtiar ilmiah kita untuk memperoleh data
observasi yang akurat dan terdokumentasi dengan baik.
“Hasil rukyat dari
berbagai titik di Indonesia nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam
sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia,
sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam memberikan kepastian hukum kepada
umat”Tambahnya
H. Asep juga berharap
seluruh proses observasi hari ini dilaksanakan dengan standar profesionalitas,
objektivitas, serta integritas ilmiah.
“Setiap hasil pengamatan hendaknya dicatat secara sistematis, disertai dokumentasi yang memadai, sehingga dapat diuji dan diverifikasi sesuai kaidah keilmuan”Harapanya
Diakhir kegiatan H. Asep
mengaakan melalui kegiatan ini kita menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung
tinggi dalil naqli (wahyu) sekaligus dalil aqli (rasio).
“Semoga Allah SWT
membimbing setiap ikhtiar kita, menerima amal kita, dan menjadikan ilmu yang
kita gunakan hari ini sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya.”Pungkasnya
Kontributor : Dadan
Ramdani
