H. Deni Firman Nurhakim
(Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Karawang Timur
Kantor Kemenag Kab. Karawang)
Ada yang mengatakan, berpuasa itu berdampak pada turunnya semangat kerja. Fakta di lapangan pun mengkonfirmasinya: puasa menjadikan orang bekerja kurang bergairah, karena tubuh cepat lelah dan tidak ingin yang susah-susah. Akibatnya, produktivitas kerja pun menurun. Sepintas, puasa dan etos kerja itu tidak berkorelasi secara positif. Namun, benarkah demikian?
Mari kita coba telaah hubungan antara puasa dengan etos kerja itu dari perspektif yang lebih mendalam, bukan sekadar selayang pandang.
***
Afinitas Etos Kerja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.
Semangat kerja tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari ragam faktor, baik yang datang dari diri sendiri (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik). Secara sosiologis, cara seseorang bekerja itu sangat dipengaruhi oleh nilai, norma, agama, sistem ekonomi, dan lingkungan sosial tempat ia hidup.
Dilihat dari tiga pemengaruh pertama, puasa memberikan afinitas (dorongan/kesesuaian yang kuat) bagi timbulnya etos kerja yang produktif. Hal tersebut terlihat dari nilai dan norma puasa dalam agama Islam sebagai berikut:
Pertama. Dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 183 disebutkan, tujuan puasa yang seharusnya diperjuangkan adalah untuk mencapai derajat takwa, “... la’allakum tattaquun”. Tapi -sebagaimana sabda Nabi Saw- alih-alih meraih predikat takwa, banyak orang yang berpuasa itu hanya mendapati rasa lapar dan dahaga saja. Padahal, menahan rasa lapar dan dahaga itu hanya sarana belaka dalam berpuasa, bukan tujuan. Sedangkan tujuan riilnya adalah agar seseorang bisa merasakan kehadiran Allah di mana saja. ‘Rasa’ itulah yang memantik orang tergerak untuk menjalankan perintah Allah dan menghindari larangan-Nya (baca: bertakwa).
Apabila nilai takwa tersebut menjadi landasan idiil seseorang dalam bekerja, maka sekalipun tidak ada pimpinan yang melihat atau mengawasinya ia tetap bekerja dengan disiplin, baik, dan produktif. Terlebih lagi, Allah Swt menitahkan hamba-hambaNya untuk terus produktif,
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain) !” (Q.S. Al-Insyirah/94:7).
Kedua. Puasa mengandung kesediaan menunda kesenangan sesaat, seperti menahan diri dari lapar, dahaga, dan melakukan hubungan suami-isteri, demi kesenangan abadi. Apabila nilai menunda kesenangan ini dianut sebagai prinsip dalam bekerja, maka puasa mengajarkan kepada kita untuk “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”.
Meraih prestasi di bidang apapun membutuhkan kerja keras dan keberanian menunda bahkan mengorbankan kesenangan. Pesan tersebut jelas terrekam dalam Q.S. Ar-Ra’d (13): 11, Allah Swt tidak akan mengubah nasib seseorang bila pada dirinya itu tidak terdapat tekad membaja yang menggerakkan segenap potensi yang dimilikinya untuk berubah.
Ketiga. Puasa mengajak pelakonnya untuk merasakan derita orang-orang yang dicoba Allah dengan lilitan lapar dan dahaga. Ajakan ini mengajarkan untuk selalu peka dan peduli terhadap sesama. Apabila nilai ini dihayati saat bekerja, maka sisi terpenting dalam bekerja bukan lagi bersifat pribadi, seperti segera menyudahi pekerjaan dan menerima upahnya, melainkan publik. Maksudnya, bagaimana pekerjaan itu menjadi ‘’sajadah panjang’’ bagi kita serta membawa manfaat bagi banyak orang. Nabi Muhammad Saw bersabda,
“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain”. (H. R. Ahmad dan Ath-Thabrani).
***
‘Alaa kulli haal, kini menjadi jelas bahwa lemasnya tubuh saat berpuasa sebenarnya menyimpan potensi besar bagi peningkatan produktivitas kerja. Persoalannya, apakah kita mau mendayagunakannya atau tidak? Semoga saja, iya. Wallahu A’lam bis Showab.
DAFTAR PUSTAKA
Buku/Kitab
An-Nawawi, Yahya Bin Syarofiddin. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Surabaya: Al-Hikmah, tt
Internet:
