Tips Menghadapi Pujian

Tips Menghadapi Pujian

Tina Haryati, S.Pd.I, M.Pd Guru MTsN 5 Karawang

(Alumnus Pascasarjana STAI Sukabumi)

Tepuk tangan yang bergemuruh, sanjungan yang terus menerus, tidak pelak akan membuat kita merasa senang dan bangga. Bahkan memotivasi diri untuk terus berkarya dan bekerja dengan lebih baik lagi. Namun, akan jadi petaka tatkala sanjungan itu berubah menjadi tujuan dalam bekerja atau berkarya. Kerja keras seolah-olah hanya untuk orang lain puas, padahal diliputi rasa gelisah dari mengharap ceceran remah-remah pujian.

Dibalik nikmat sejuk sebuah pujian tersembunyi bara api kecil yang perlahan menghanguskan kesadaran. Sangat sulit menahan emosi karena sebuah makian atau hinaan, tapi lebih sulit menghidari kerusakan diri akibat pujian yang ditelan begitu saja. Makian dapat menghilangkan kesadaran kita dalam seketika, tapi pujian dan sanjungan membius secara perlahan dengan sangat lembut.

Seringkali jalan berduri lebih membuat orang berhati-hati, seperti halnya kritik pedas yang membuat orang membenahi dan mengokohkan pondasi. Berada dijalan mulus seringkali membuat orang teramat nyaman hingga lupa akan tujuan, begitupun halnya pujian yang membuat orang terbuai, hingga lalai dan akhirnya mudah diruntuhkan.

Berikut adalah cara menghadapi pujian agar tidak menjadi terbuai, dan lalai:

  • Hakikatnya segala puji milik Allah

Dalam muqodimah kitab Tijan Ad-Darori buah karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang merupakan syarah dari kitab Risalah Fi Ilmi Tauhid karya Imam Ibrahim Al-Bajuri disebutkan bahwa puji itu terbagi empat yaitu; (1) Qodimun liqodimin: yaitu puji Allah terhadap dzatNya. (2) Qodimun lihaditsin: yaitu puji Alloh terhadap makhlukNya. (3) Haditsun liqodimin: yaitu puji makhluk terhadap Alloh. (4) Haditsun lihaditsin: yaitu puji makhluk terhadap sesama makhluk.

Dari empat bagian puji tersebut, semua bermuara kepada Dzat yang maha Esa yakni Allah SWT. Karena ketika memuji ciptaanNya, hakikatnya adalah memuji penciptaNya. Oleh karenanya ketika datang pujian maka kembalikan kepada Allah.

  • Hakikatnya Pujian adalah Topeng.

Ungkapan pujian dari banyak orang adalah ujian, serupa topeng kegelapan yang menutup sisi nyata diri kita yang sejatinya penuh aib dan cela. Andaikan mereka tahu, mungkin menyapa saja mereka tidak mahu. Andaikan Aib ini Allah buka, niscaya hina dina sepanjang masa.

Begitu Allah Maha Baik, menutup aib HambaNya begitu rapat. Maka jika datang pujian, berdo’alah sebagaimana Rasulullah contohkan “Ya Allah ampunilah aku dari apa yang mereka tidak ketahui (dari diriku)”. (HR. Bukhori)

  • Pujian adalah Motivasi

Jika pujian yang diterima sesuai dengan apa yang ada pada diri kita maka yang dapat dilakukan adalah; (1) Jadikan pujian sebagai pemicu kreativitas. (2)Membangun kepercayaan diri. (3) Memperoleh rasa bahagia. (4) Mendapatkan timbal balik yang fositif (5) Menurunkan berat badan, karena menurut penelitian pujian yang diiringi senyuman dapat membakar kalori.

Mendapat pujian memang menyenangkan, tapi hendaklah pujian ini menjauhkan diri dari sifat sombong dan tinggi hati. Oleh karenanya berdo’alah kepada Allah, sebagaimana do’a yang dicontohkan Rasulullah ketika mendapat pujian: “Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira” (HR. Bukhori)

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Maka perbanyaklah memuji Allah, Pujilah makhluk-makhluk ciptaan Allah, saling memujilah karena Allah, dan berbahagialah jika mendapat pujian, tapi bahagia yang sekedarnya tidak terbuai apalagi menjadi lalai.

Puji Allah nya ka Allah,

Puji Allah hanya  ka makhluk.

Puji makhluk nya ka Allah

Puji makhluk ka makhluk deui

(Nadhom Sunda Puji Anu Opat)



Dibaca: 140 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter