Sikap Toleransi Dibutuhkan sebagai Landasan Pembangunan

Sikap Toleransi Dibutuhkan sebagai Landasan Pembangunan

Jl. Wastukancana (Humas  Bidang Penais Zawa) 

Sikap toleransi sangat relevan dan diperlukan dalam konteks kehidupan saat ini. Dengan toleransi akan terbangun kerjasama di antara umat beragama. Sikap tersebut dalam negara Indonesia yang demokratis,  diperlukan  sebagai  landasan  pelaksanaan  pembangunan di segala aspek kehidupan yang lebih luas.  

Demikian dikatakan Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dr. H. Adib,  M.Ag., saat membuka dialog kerukunan intra umat beragama Islam dan moderasi beragama tingkat Jabar di Hotel California Bandung, Kamis (16/9/2021). Kegiatan akan berlangsung hingga Jumat (17/9/2021). Para  peserta hadir di hotel tersebut. Sementara Adib membuka acara  melalui aplikasi zoom. 

Menurutnya, pada sisi lain, secara fungsional kearifan lokal juga banyak digaungkan sebagai marwah toleransi dalam sistem bermasyarakat dan beragama. Rekonsiliasi konflik tidak terlepas dari kearifan lokal sebagai bagian dari resolusi. Sehingga kearifan lokal itu berposisi sebagai narasi yang dapat membangun moderasi beragama. 

Pengarusutamaan moderasi beragama sebagai salah satu program strategis Kementerian Agama dapat dimaknai sebagai sikap memilih jalan tengah dalam beragama, atau berperilaku seimbang/adil dalam beragama. 

Salah satu ciri moderasi beragama adalah toleransi. Toleransi adalah sikap untuk memberi ruang dan tidak menggangu hak orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinan, dan menyampaikan pendapat, meskipun berbeda. 

“Karena itu, toleransi adalah sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lemah lembut dalam menerima perbedaan. Toleransi selalu disertai dengan sikap hormat, menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari kita, dan berpikir positif,” ujarnya.

Moderasi beragama kemudian menjadi objek penting dalam upaya merekatkan bangsa, yang menghendaki pengelolaan masyarakat secara adil dan seimbang. 

Perbedaan pendapat

Adib juga menyinggung tentang perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Hal itu, katanya, sesuatu yang wajar terjadi.  Karena itu, yang dibangun adalah sikap menerima perbedaan tersebut. Bagi yang sudah mempelajari persoalan-persoalan khilafiyah, tentu sangat sadar tentang  dimungkinkannya terjadi perbedaan pandangan. Terutama dalam masalah yang bersifat furuiyah. 

Salah satu imam mazhab, yaitu Imam Syafi’i , dalam menyampaikan fatwanya memikiki dua pendapat yang disebut qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim (pendapat terdahulu) terhadap sebuah perkara, disampaikan saat Imam Syafii bermukim  di Baghdad, Irak. Ketika berada di Mesir, dia mengeluarkan pendapat baru atau  qaull jadid. 

“Itu baru dari satu orang. Apalagi kalau menghadapi kondisil tertentu di sebuah daerah. Tentu akan berbeda pula. Kita harus membangun sikap menerima perbedaan. Di kalangan umat Islam pun terdapat berbagai perbedaan. Mazhab fikihnya beragam.  Semuanya punya landasan hukum. Tinggal kita memilih yang mana,” ujar Adib.

Program priortas

Dikatakan Adib, Kementerian Agama pada Rakernas tahun 2021 telah menyepakati arah kebijakan dan program prioritas. Ada tiga arah kebijakan Kemenag tahun 2021, yaitu moderasi beragama, transformasi digital, dan good governance. 

Arah kebijakan ini dituangkan dalam tujuh kebijakan prioritas, yaitu penguatan moderasi beragama, transformasi digital, revitalisasi KUA, cyber Islamic university, kemandirian pesantren, religiosity index, dan pencanangan tahun toleransi 2022.

Kajian harus terus digalakan untuk membangkitkan tradisi intelektual generasi selanjutnya. “Terutama yang berisikan kemoderatan sikap sebagai bangunan yang kokoh, untuk membendung segala upaya yang mengkaburkan kita dari jati diri bangsa dan agama,” ungkap Adib..

Sementara itu Kabid Penais Zawa,  Dr. H. Jamaluddin, S.H.,M.Si., menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan  untuk meningkatkan kualitas penguatan pengarusutamaan moderasi beragama. 

Selain itu juga untuk mempraktikkan strategi pendekatan dan kegiatan untuk mewujudkan dan memelihara kerukunan umat beragama, melalui kemitraan dengan seluruh aktor kerukunan di tengah masyarakat. 


Kontributor : Eva Nurwidiawati


Dibaca: 70 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter