Seri Linguistik: Absensi atau Presensi?

Seri Linguistik: Absensi atau Presensi?

Saat masih menjadi seorang siswa, beberapa kali saya mendapati buku catatan nama-nama siswa tergeletak di meja guru. Tertulis pada sampul buku tersebut kata absensi siswa. Di bawah kata itu tertulis kelas dan tahun pelajaran. Sampai SMA, buku itu selalu saya lihat dipegang oleh wali kelas, guru mapel, atau oleh sekretaris kelas. Namun, kadang-kadang judul sampul itu tertulis dengan kata daftar hadir.


Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa absensi berarti daftar hadir. Namun, ternyata anggapan saya itu keliru. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata kata absen mengandung arti ketidakhadiran. Kata ini merupakan serapan dari bahasa Belanda absentie. Dalam bahasa Inggris disebut absence. Setelah menjadi bahasa Indonesia mengalami proses afiksasi --sebagaimana umumnya kata dalam bahasa Indonesia-- yang dapat mengubah kelas dan arti kata sesuai konteks pada kalimat: absen; mengabsen; pengabsenan, keabsenan, terabsen.


Kata mengabsen yang diujarkan guru --atau siapa pun-- untuk menyebutkan nama-nama yang tertera pada daftar tulisan/buku tidaklah keliru karena mengabsen berarti memanggil (menyebutkan, membacakan) nama-nama orang pada daftar nama untuk memeriksa hadir tidaknya. Namun, jika yang dimaksud pada sampul buku di kelas atau tulisan lain adalah catatan kehadiran siswa/seseorang, kata yang tepat bukanlah absensi melainkan presensi.


Presensi secara etimologi juga berasal dari bahasa Belanda presentie yang berarti kehadiran. Jadi, kata yang tepat untuk menuliskan kehadiran --siswa atau siapa pun-- adalah presensi bukan absensi. Lain kasus, jika seseorang menyuruh orang lain untuk menuliskan kehadirannya sedangkan si penyuruh tidak hadir, kalimat ini rasanya tidak tepat, "Tolong, saya nitip absen."


Kita cermati pernyataan berikut.


1. Dia tidak naik kelas karena absensinya kurang dari 50%.


2. Meskipun nilai-nilai kesehariannya di bawah KKM, absensinya 100%.


Salah kaprah untuk kasus kebahasaan macam ini kerap ditemukan. Pada contoh kalimat di atas misalnya. Kalimat kesatu mengandung maksud bahwa subjek dinyatakan tidak naik kelas karena kehadirannya kurang dari 50% dari jumlah kehadiran semestinya. Lagi-lagi, kata absensi yang tidak tepat penggunaannya, sehingga kalimat tersebut menjadi tidak logis maknanya: dia tidak naik kelas karena ketidakhadirannya kurang dari setengahnya kehadiran semestinya. Makna yang sama terjadi pada kalimat kedua.


Tulisan tentang kesalahan berbahasa macam ini banyak kita temukan. Sampai saat ini, kesalahan penggunaan kata tersebut masih kerap pula kita temukan. Mungkinkah jadi indikator kekurangtelitian? Atau kemalasan? Entahlah.


Kata absen ini menjadi salah satu contoh saja. Kasus lain misalnya terjadi pada kata bergeming, acuh.


Geming (bergeming) artinya tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Acuh artinya peduli; mengindahkan. Bila kita maknai kalimat berikut, ketidaklogisannya tampak jelas.


1. Dia tak bergeming meskipun telah dipanggil beberapa kali oleh istrinya.


2. Walaupun kesedihan tampak jelas dari raut wajah ibunya, dia tetap mengacuhkan.


Kalimat kesatu dan kedua menggunakan kata tugas (konjungsi) meskipun dan walaupun. Kedua kata ini berfungsi sebagai penanda hubungan perlawanan. Tak berbeda dengan kesalahan pada contoh sebelumnya, lagi-lagi kedua kalimat ini maknanya jadi tidak logis pula.


Bahasa bersifat universal. Dari bahasa mana pun berasal, bebas diserap untuk mewakili sebuah konsep dengan tetap berpatokan pada proses sistematis sesuai kaidah bahasa penyerapnya. Begitu pun proses penyerapan dalam bahasa Indonesia diatur melalui regulasi kebahasaan yang jelas.


Sudah semestinya kita acuh terhadap hal ini. Bergeming, bukanlah solusi terbaik bagi khazanah budaya kita.


 


Penulis:


Ruhiman

Guru Bahasa Indonesia  MTsN 2 Bandung Barat


Dibaca: 152 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter