Semua Agama Hadapi Tantangan Disrupsi

Semua Agama Hadapi Tantangan Disrupsi

Jl.  Lemahneundeut - Bandung ( Humas - Bagian Tata Usaha) 

Semua agama menghadapi tantangan tersendiri pada era disrupsi dewasa ini. Sikap moderasi dalam beragama menjadi faktor penting untuk  menanggapi situasi tersebut. Demikian dikatakan   Dr.  H.  Adib,  M. Ag.,  Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, saat berbicara dengan tema “Mengelola Kemajemukan dalam Bingkai Moderasi” pada acara Forum Group Discussion (FGD)  Kota Bandung di Hotel Sari Ater Komboti, Sarijadi Bandung Kamis (9/9/2021). Bertindak sebagai moderator Kepala Kantor Kemenag Kota Bandung. Drs.  H.  Tedi Ahmad Junaedi,  M. Si. 

Menurutnya, disrupsi adalah sebuah era di mana terjadinya inovasi dan perubahan secara besar-besaran dan secara fundemental mengubah semua tatanan dan lanskap yang ada ke cara-cara baru. “Dalam kaitan itu, terdapat lima tantangan agama di era disrupsi saat ini,” tutur Adib.

Tantangan pertama, kata Adib, adalah jebakan algoritma kata kunci. Pencarian di internet dengan kata kunci, mengakibatkan bisa terjadi sempit pemahaman terhadap agama. 

Tantangan kedua, adalah popularitas versus keilmuan. Secara nyata dapat dilihat misalnya kiai yang mumpuni kalah tenar dengan ustadz/ustadzah yang baru muncul dari dunia maya. 

Ketiga, pandangan ekslusivisme. Konten dakwah online banyak didominasi oleh kelompok yang cenderung eksklusif terhadap muslim lain yang tidak sepaham. Keempat, banjir informasi. Derasnya arus informasi menyebabkan sulit menyaring mana yang shahih (valid) dan mana yang tidak.

“Tantangan kelima adalah fenomena hijrah. Ini menjadi tren baru yang menyempit pada pakaian dan kelompok pengajian,” ujar Adib.

Situasi seperti ini, lanjutnya, harus ditanggapi dengan sikap moderasi beragama. Pahami bagaimana agama dimaknai dan dipraktekkan di bagian lain di dunia. Pahami pula bagaimana agama dimaknai dan beradaptasi dengan unsur kearifan dan budaya lokal. 

“Para pemeluk agama harus memiliki perspektif yang moderat dalam arti tidak ekstrem dan juga tidak liberal.” Tambahnya.

Mengutip Deklarasi Abdu Dhabi 4 Februari 2019, Adib menegaskan, musuh bersama kita saat ini sesungguhnya adalah ekstremisme akut, hasrat saling memusnahkan, perang, intoleransi, serta rasa benci di antara sesama umat beragama dan semuanya mengatasnamakan agama. 


Bangun peradaban

Pada bagian lain, Adib menerangkan, kondisi aman dan damai merupakan prasyarat terbangunnya bangsa yang sejahtera. Bangsa yang sejahtera memiliki kapabilitas untuk membangun peradaban yang maju. Kondisi aman dan damai merupakan prasyarat terbangunnya bangsa yang sejahtera. 

Dia mengutip sejumlah ungkapan yang berasal dari berbagai agama. Lord Budha mengatakan, kedamaian yang sempurna hanya bisa tinggal di tempat semua kesombongan telah lenyap. Sementara Yesus Kristus berujar, diberkatilah para pembuat perdamaian, mereka dikenali sebagai anak-anak Allah. 

Kitab Bhagavad-Gita menyebutkan, seperti mengalir sungai-sungai ke laut tetapi tidak dapat membuat laut meluap luas, sehingga aliran arti dunia ke laut perdamaian yang bijak. Kitab suci Al-Quran 48:4 menyatakan, Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin, untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).

Dijelaskan, nilai inti kerukunan adalah penerimaan, toleransi dan kerjasama. Toleransi (tolerance) adalah sikap menghormati (respect) keragaman (diversity) dalam bentuk apapun sebagai manusia. 

Penerimaan (acceptance) adalah sikap menerima bahwa keragaman adalah kenyatan, bersifat inklusif, dan hidup berdampingan secara sosial (social co-existing). Kerjasama (cooperation) adalah sikap mau bekerjasama secara nyata untuk mencapai tujuan bersama terlepas dari perbedaan dan keragaman yang ada.

Sementara sumber konflik umat beragama selama ini, lanjutnya, antara lain dipicu faktor eksogen. Di dalamnya terdapat isu global (terorisme, HAM, hegemoni politik ekonomi); ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial politik; perlakuan diskriminatif kepada kelompok agama tertentu; terminologi mayoritas-minoritas; dan gangguan kepentingan (ekonomi, ideologi, dan eksistensi).

Kemudian faktor endogen, yakni tingkat pemahaman agama yang  sempit yang mengarah pada fanatisme agama; liberalisasi dan radikalisasi agama; formalisme agama; dan aliran sempalan. Sedangkan faktor relasional, misalnya berupa pendirian rumah ibadah; penyiaran agama; bantuan pihak asing; perkawinan beda agama dan penodaan agama. 

Kontributor : Eva Nurwidiawati

Foto : Asep Naja

Editor : Tri Budiono



Dibaca: 142 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter