Revitalisasi Pendidikan Masa Pandemi

Revitalisasi Pendidikan Masa Pandemi

Menyikapi fenomena pandemi covid -19 yang belum menunjukkan keadaan menggembirakan, kebijakan pemerintah pada aktivitas pendidikan khususnya di madrasah sampai saat ini masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Keputusan tersebut dilandasi oleh pertimbangan aspek keselamatan dan  kesehatan warga madrasah agar tidak semakin meluasnya virus ini. Meskipun ada segelintir madrasah yang telah melaksanakan pembelajaran tatap muka, tetapi masih terbatas pada daerah yang benar-benar diyakini masuk dalam kawasan aman (hijau). Itu pun dengan pengawasan dan penerapan aturan yang sangat ketat sesuai panduan kesehatan.

Kegiatan yang telah berlangsung lebih dari enam bulan melalui media internet (dalam jaringan/online) tersebut, memunculkan beragam cerita yang secara umum didominasi oleh keluhan dari para peserta didik. Hal senada dirasakan juga oleh para orang tua perihal tugas baru yang sebelumnya dibebankan sepenuhnya kepada guru di madrasah/sekolah. Mereka kini  memiliki tambahan tugas sebagai pendamping pembelajaran putra-putrinya di rumah. Lain dari itu, ada hal yang mesti mereka sediakan terkait pola pembelajaran ini, yakni telepon pintar beserta kuotanya.

Alternatif lain yang dapat dilakukan pihak madrasah pada kondisi kini yakni pembelajaran secara luar jaringan (luring). Bahan ajar untuk pembelajaran luring seperti buku paket, modul, LKS, dll. merupakan bentuk solusi yang dipersiapkan agar para siswa tetap aktif melakukan pembelajaran. Model ini bukan tanpa kendala. Para peserta didik harus  memiliki pemahaman yang baik terkait penggunaan bahasa pada materi yang disajikan. Begitupun peran pendamping pembelajaran, setidaknya harus siap menerima pertanyaan anak-anaknya serta mampu menjadi motivator belajar yang subtil.  

Kondisi yang dialami para peserta didik dalam melakukan PJJ bisa jadi lebih berat daripada apa yang dirasakan orang tua dan guru mereka. Adaptasi atas kebiasaan baru ini tidak serta-merta berjalan dengan mulus tanpa kendala. Terbukti dengan adanya beberapa peristiwa yang perlu kiranya jadi bahan renungan bagi pihak-pihak terkait: pemerintah, guru (satuan pendidian), dan orang tua,. Hal dimaksud menyangkut pelaksanaan pembelajaran yang mestinya lebih menitikberatkan pada aspek kenyamanan bagi peserta didik. Harus diakui, sampai kini, peran guru dalam aktivitas pembelajaran begitu penting di mata anak didik, kehadirannya seolah tak tergantikan. Keterasingan atas kondisi baru yang dirasakan peserta didik menjadi penyebab yang membuat mereka secara  psikologis kesulitan mencapai pengalaman belajar yang maksimal. 


Implementasi Kurikulum

Acuan pelaksanaan pendidikan adalah kurikulum yang memuat rencana, bahan, metode, dan evaluasi. Entitasnya, aplikasi dari kurikulum adalah pembelajaran. Menilik situasi dan kondisi kini, ada beberapa catatan yang mesti dipersiapkan agar pendidikan di masa pandemi ini tidak berdampak mengecewakan pada masa mendatang. Mau tidak mau jika target kurikulum tetap dijalankan seperti pembelajaran normal, bisa menjadi bom waktu yang akan merusak konstelasi pendidikan yang sedang dibangun. Mengapa bisa demikian?

Pada masa pandemi ini, hal negatif yang bisa terus tumbuh secara masif adalah kejenuhan yang pada gilirannya menimbulkan karakter negatif semisal keputus-asaan.  Perlu persamaan persepsi atas waktu pembelajaran agar tidak menimbulkan sikap masa bodoh yang terus menguat. PJJ pada dasarnya merupakan pemindahan tempat belajar ke rumah karena alasan tertentu. Waktu pembelajaran untuk anak usia pendidikan dasar khususnya, sebaiknya menggunakan jam belajar sekolah meskipun porsinya dikurangi. Disiplin atas waktu belajar tersebut setidaknya menjadi pembiasaan yang terus terjaga dan menjadi pengikis anggapan bahwa kenaikan kelas dan kelulusan dapat dengan mudah dicapai tanpa hal itu.

Setiap proses pembelajaran memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kompetensi tertentu yang meliputi kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan tersebut dicapai melalui kepiawaian guru dalam menciptakan pola pembelajaran dengan metode/teknik tertentu. Selama masa pembelajaran di rumah, hal tersebut tampaknya sulit terealisasi jika tak ada kesadaran dan kemampuan dari pihak-pihak terkait untuk meraihnya. Pemaksaan akan ketercapaian target kurikulum tak akan dengan mudah membuat anak didik mampu memahami materi ajar selayaknya mereka belajar secara berhadapan langsung dengan guru. Yang muncul kemudian adalah perasaan jenuh dan tertekan akibat beban tugas yang kian banyak. Di sisi lain, pemahaman dan kenyamanan akan semakin menurun.

Yang saya maksudkan di sini, bukan berarti bahwa semua anak didik akan mengalami kendala yang sama. Namun, indikasi perihal kondisi jiwa yang dirasakan peserta didik pada umumnya sudah semakin tampak. Tentu, respons dan pemahaman orang tua akan pembelajaran berbeda-beda. Namun, kenyataan menunjukkan tidak semua orang tua yang semestinya mengawasi dan mendampingi anaknya belajar, selalu ada di rumah. Permasalahan lainnya, tidak semua orang tua memahami teknik yang tepat menghadapi situasi ini. Hal tersebut bila terus dipaksakan akan melahirkan sindrom yang akan berdampak lebih parah secara psikologis bagi generasi pembelajar kini jika pihak-pihak terkait tak melakukan evaluasi lebih jauh dan komprehensif. 

Menyiasati kondisi darurat macam kini, seorang pendidik wajib membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi para pembelajar. Penggunaan model pembelajaran Blended learning  misalnya. Model yang mengombinasikan pola pembelajaran daring dan tatap muka. Kegiatan tatap muka perlu kiranya dirancang secara matang mengenai tempat, waktu, dan jumlah pembelajar agar aspek keamanan dan kenyamanan anak didik tetap terjaga. Pun dengan konten materi ajar yang tak melulu penekanan pada aspek pengetahuan dan keterampilan. Contohnya, permainan-permainan mendidik yang memberikan ruang keceriaan bagi anak didik perlu kiranya jadi salah satu menu pilihan pembelajaran. 

Ihwal ini, pemerintah menyikapinya dengan memberikan panduan terkait kurikulum darurat pada masa pandemi ini. Panduan tersebut mencakupi tiga opsi yakni, tetap menggunakan Kurikulum Nasional 2013, menggunakan kurikulum darurat, atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Perhatian lainnya berupa bantuan kuota internet kepada guru dan peserta didik untuk menunjang program PJJ ini. Dengan situasi dan kondisi yang berbeda pada beberapa wilayah di negara kita, tampaknya opsi ketiga bisa dijadikan sebuah pegangan untuk tetap terlaksananya pembelajaran. Perihal bantuan kuota internet, akan berbeda ceritanya bila kebijakannya tanpa proses layaknya kewajiban memiliki kuota terlebih dahulu, yakni pada waktu jam pembelajaran akses internet dapat digunakan secara gratis oleh pembelajar.


Penguatan Nilai-nilai Karakter Siswa

Pemahaman akan pentingnya pendidikan belum sepenuhnya disadari oleh beberapa pihak. Orang tua misalnya, sebagian mereka memahaminya sebagai sebuah tanggung jawab yang sepenuhnya berada pada pundak para guru. Pemahaman yang sempit jika perspektif mereka hanya tertuju pada kegiatan formal di madrasah saja. Sejatinya, pendidikan dimaknai sebagai sebuah proses untuk menggali dan menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaan yang akan berdampak bagi kemaslahatan kehidupan yang semakin dinamis. Untuk dapat meraihnya, perlu usaha keras dari semua komponen dalam mewujudkannya, tak hanya  lembaga pendidikan dan guru saja.

Ketimpangan kemampuan anak didik dan akses internet adalah sebuah fenomena umum yang terjadi di negara kita. Ini sebuah kendala yang patut dijadikan bahan pertimbangan bagi madrasah untuk menyamakan persepsi bagi para gurunya agar komunikasi pembelajaran lewat media daring tidak mubazir sehingga menimbulkan kebingungan dan kejenuhan bagi siswa. Kekhawatiran selanjutnya yang terjadi, anak didik bahkan orang tua mengalami stres. Contoh kasus macam itu sudah dapat kita temukan, bahkan berujung kematian. Miris sekali bila kejadian tersebut terus bertambah banyak.

Opsi yang disampaikan pemerintah tadi bisa jadi sebuah pencerahan bagi madrasah. Peningkatan kompetensi pengetahuan dan keterampilan sepertinya mengalami kendala. Namun, penguatan nilai-nilai karakter tentu akan jauh lebih dapat dimaksimalkan melalui sinergisitas madrasah  dengan pihak orang tua sebagai pengendali pembelajaran anak saat ini. Kesadaran para orang tua dan anggota keluarga lainnya akan tanggung jawab pendidikan kiranya perlu terus dikuatkan. Bahwa bagaimana pendidikan akan mampu menjadi jawaban atas tantangan kehidupan ini bergantung pada sikap seluruh komponen bangsa. Hal tersebut berawal dari masyarakat pada tatanan mikro, yakni keluarga.

Penguatan karakter melalui penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan secara kontekstual dan kultural pada kondisi kini dapat dilakukan secara berproses dengan catatan pemahaman dan kesadaran tersebut dimiliki oleh para orang tua dan juga guru. Disiplin waktu belajar, bekerja keras, pantang menyerah, percaya akan kemampuan diri, adalah sebagian nilai-nilai yang perlu terus ditanamkan.

Orang tua diyakini sebagai salah satu pihak yang ikut bertanggung jawab bagi kesuksesan program-program madrasah. Artinya, keberhasilan madrasah ditentukan juga oleh seberapa jauh tingkat partisipasi orang tua terhadap implementasi program-program yang diselenggarakan madrasah. Ada korelasi antara kemajuan dan kualitas madrasaah dengan tingkat kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya.

Implikasinya, orang tua dituntut berpartisipasi aktif dalam merancang dan mengembangkan nilai-nilai karakter yang sepatutnya dimiliki anak didik. Hal ini berarti bahwa pihak orang tua perlu (1) meningkatkan kesadaran terhadap arti penting nilai-nilai karakter bagi anaknya dengan upaya perhatian yang semestinya; (2) mendampingi dan menyediakan fasilitas belajar yang diperlukan anaknya; dan (3) melakukan kerja sama secara sinergis dengan pihak madasah guna mencari solusi terbaik terhadap berbagai permasalahan belajar yang dialami anak didik.

 

Budaya Literasi

Hal lainnya yang dapat dikuatkan saat PJJ adalah peningkatan kemampuan literasi anak. Kompetensi yang mutlak harus dimiliki masyarakat di era digital kini agar mampu membuat keputusan sosial yang tepat untuk berkompetisi dengan masyarakat dunia lainnya. Peluang untuk menguatkan hal tersebut kini terbuka luas melalui berbagai sumber. Setidaknya kegiatan literasi dasar yang menyangkut kemampuan membaca dan menulis anak didik.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa budaya literasi bangsa kita masih rendah. Melalui pendampingan belajar yang teratur, peningkatan kemampuan literasi anak dilakukan melalui kontrol dan  disiplin waktu pembelajaran. Upaya membiasakan anak untuk melakukan pola pembelajaran pada waktu yang disepakati bersama orang tua, lambat laun akan menghasilkan  keteraturan. Literasi menjadi jalan masuk bagi anak termasuk orang tua untuk mengeksplorasi pengetahuan, pemahaman, dan melatih daya kritisnya.


Melek Teknologi

Abad ini dikenal sebagai era 4.0 atau era digital yang menganggap kemajuan teknologi sebagai sebuah kebutuhan penting untuk kehidupan manusia. Disrupsi sebagai penanda era ini mengakibatkan beberapa bagian kehidupan yang semula ada akan berkurang bahkan hilang sama sekali karena keberadaanya telah tergantikan oleh teknologi. Dinamika kehidupan yang relatif cepat ini memaksa manusia untuk melek teknologi. Lebih dari itu mampu menjadikan teknologi ini sebagai media berkreativitas yang terbuka kemungkinan menjadi lahan yang menguntungkan secara finansial.

Tak hanya siswa, guru, bahkan orang tua pada kondisi pandemi kini mulai terbuka pemikiran dan kesadaran akan dampak teknologi bagi kehidupan. Terlepas dari sisi buruknya, kemajuan teknologi kini menjadi prasyarat dalam mengembangluaskan ilmu pengetahuan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pada konteks pembelajaran kini, tuntutan itu lebih ditekankan pada sosok guru sebagai fasilitator pembelajaran. Pemanfaatan pelbagai media daring menjadi sebuah pilihan bagi guru untuk menyesuaikannya dengan materi ajar. Sisi lain, teknik belajar yang menarik dan menyenangkan diharapkan mampu mengerdilkan dampak negatif secara psikologis akibat pembelajaran di rumah. Insya Allah.


oleh: Ruhiman, S.Pd.

Pendidik di MTsN 2 Bandung Barat

Email: ruhiman77@gmail.com   

HP: 085320115801


Dibaca: 11 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter