Pembinaan Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Bagi Penyuluh Agama Islam Non PNS

Pembinaan Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Bagi Penyuluh Agama Islam Non PNS

Sumedang (HUMAS Kab Sumedang)

Dalam rangka meningkatkan SDM Penyuluh Agama Islam Non PNS, Kantor Kemenag kab. Sumedang gelar kegiatan pembinaan Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan bagi Penyuluh Agama Islam Non-PNS dilingkungan Kantor Kemenag Kab. Sumedang, dibuka oleh Kepala KanKemenag Kab. Sumedang, H. Jajang Apipudin, M.Ag, bertempat di Aula Kantor Kemenag kab. Sumedang. Kamis (07/10)

Kegiatan yang diselenggarakan Seksi Bimas Islam KanKemenag Kab. Sumedang ini berlangsung selama satu (1) hari, dengan waktu pelaksanaan gelombang 1 pukul 07.00 – 12.00 WIB dan gelombang 2 pukul 12.30 – 18.15 WIB,  diikuti 105 orang Penyuluh Agama Islam Non PNS lingkup Kemenag Kab. Sumedang pada setiap gelombangnya.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pandangan juga pemahaman kepada peserta tentang moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang beragam, hal ini dimaksudkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, saling menghormati antar warga negara, terciptanya anti kekerasan, serta menghargai tradisi dan budaya yang tidak bertentangan dengan agama seperti yang disampaikan dalam laporan Kasi Bimas Islam KanKemenag Kab Sumedang, Drs. Syamsuridjal, ME.Sy selaku ketua panitia kegiatan.

Menurutnya Kata “pengarusutamaan” berasal dari kata arus utama (mainstream - Ing) tersusun dari 2 kata yang berbeda, yakni kata “main” dan “stream”. Kata main berarti utama, sedangkan kata stream = arus, atau aliran. Jadi kata “mainstream” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara umum dapat berarti arus utama, atau aliran utama.

Orang yang tidak mengikuti arus utama dikatakan “Antimainstream” dapat diterjemahkan sebagai bukan arus utama, aliran lain, arus lain, dan lain sebagainya

Lebih jauh Ia menjelaskan bahwa kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke-sedang-an, tidak kelebihan, dan tidak kekurangan, alias seimbang.

Cara pandang kita dalam beragama secara moderat yang dihadapi oleh bangsa kita adalah menjamurnya ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian, hingga retaknya hubungan antara umat beragama.

Maka untuk meminimalisir terjadinya hal tersebut,  Drs. Syamsuridjal, ME.Sy mengatakan, hal ini diharapkan dapat dicegah dengan cara melibatkan peran aktif  Penyuluh Agama Islam Non-PNS dalam menjalankan tugasnya di tengah masyarakat.

Sementara itu, dalam nada yang sama, H. Jajang Apipudin, M.Ag mengungkapkan dalam sambutannya, bahwa kegiatan ini sangat mulia dan tinggi nilai manfaatnya, ikuti dengan sebaik-baiknya, karena ini adalah usaha kita sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah agar bisa menjalankan tugas dengan totalitas kerja yang baik.

“Penyuluh Agama Islam adalah garda terdepan Kementerian Agama yang berhubungan langsung dengan masyarakat yang beranekaragam sosial, budaya dan agama, usahakan dengan kehadiran Bapak dan Ibu di tengah masyarakat bisa menjadi inspirasi bagi umat yang masih minim pengetahuannya agar kerukunan beragama tetap terjaga,”pungkasnya.


Dibaca: 31 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter