Optimalisasi Zakat Profesi Untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

Optimalisasi Zakat Profesi Untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

Soekarno Hatta (INMAS KOTA Bandung) Besarnya harapan Walikota Bandung dalam optimalisasi penghimpunan dana zakat di kota Bandung sampai membuat Gerakan Ayo Bayar Zakat. Gerakan tersebut dilaunching besamaan dengan Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Besar Al Ukhuwah Bandung, Jum’at (29/4).

Atas ‘greget’ Walikota Bandung ‘Kang Emil’ itu saya mencoba mengingat satu tulisan yang dibuat dua tahun yang lalu, juga sepertinya didasari oleh harapan besar dan ‘greget’ untuk optimalisasi dana zakat di Kementerian Agama khususnya Kantor kota Bandung tempat saya bekerja. Berikut adalah buah pikiran saya dan semoga memberikan pencerahan bagi yang lainnya.

Mengeluarkan zakat adalah salah satu sifat orang bertakwa. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian.” (Adz-Dzariyat: 19).  Rasulullah s.a.w. Bersabda; “Ada tiga hal yang aku bersumpah, maka hafalkanlah yaitu tidak akan berkurang harta mereka kerana bersedekah, tidak ada seorang hamba pun yang dizalimi kemudian ia bersabar, pasti Allah akan menambahkan kemuliaan dan tidak ada seorang hamba pun yang membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran.” (At-Tirmidzi).

Allah S.W.T. memperingatkan orang yang menolak membayar zakat dengan berfirman: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahawa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (At-Taubah:34-35)

Rasulullah s.a.w. bersabda; “Tidak seorangpun (yang memiliki simpanan), kemudian ia tidak mengeluarkan zakatnya, pasti akan dipanaskan simpanannya itu di neraka jahanam, dijadikan cairan panas yang di lambung di dahinya, sehingga Allah berikan keputusan di antara para hamba-Nya di hari yang lama seharinya selama lima puluh ribu tahun, sehingga diketahui ke mana perjalanannya, yaitu ke syurga atau neraka.”

Beberapa waktu yang lalu pada acara pembukaan rapat kerja dikementerian agama kota Bandung,  Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat menyampaikan arahan yang salah satunya tentang pentingnya melakukan optimalisasi zakat profesi dilingkungan Kementerian Agama, mendorong agar mereka yang mendapatkan tunjangan profesi seperti guru dan pegawai lainnya untuk mengelurakan zakat profesinya di UPZ kementerian agama.

Banyak manfaat yang dapat didayagunakan dalam pemberdayaan dana zakat profesi khususnya untuk kemajuan bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dilingkungan kementerian agama. Mengeluarkan zakat, infak, shadaqah adalah sudah di jamin Allah S.W.T, tidak akan mengurangi harta kita, dan itu adalah salah satu tanda terima kasih kita atas segala rezeki yang telah terima selama ini.

Dengan cara memberikan sebahagian harta kita kepada orang yang kurang berkemampuan seperti yang tergolong sebagai penerima zakat, dan Allah S.W.T tidak sedikitpun meminta kembali semua kasihNYA, malahan menjamin tidak akan mengurangi harta kita setelah kita bersedekahZakat, Infaq/Shadaqah, dan Wakaf (ZISKAF) dapat memainkan dua fungsi penting. Pertama, ia mensucikan hati atau jiwa si pemberi dari kejahatan-kejahatan sifat kikir dan sebagai gantinya mendorong pemberian sedekah dan mengeluarkan barang atau harta yang baik. Kedua, ia akan mengantarkan suatu komunitas menuju perkembangan yang sehat. ZISKAF dapat mencegah segala pengaruh yang bersifat penghalang bahkan mendorong orang untuk ikut membantu mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi, pendidikan dan sosial.

Dengan menjadikan ZISKAF sebagai suatu kewajiban bagi setiap muslim yang mampu, maka ZISKAF sebenarnya sekaligus menjadi suatu rangsangan yang sangat kuat pada orang-orang untuk menginvestasikan modal mereka agar dapat berkembang dan dengan demikian akan meningkatkan seluruh kekayaan masyarakat. Dengan memiliki jumlah satker yang cukup banyak, kementerian agama memiliki potensi besar dalam penghimpunan dana zakat profesi.

Sebagai sebuah contoh sampai pada tahun 2012 yang lalu, UPZ kementerian agama kota Bandung berhasil menghimpun dana zakat profesi sekitar 45.000.000 per bulan. Berdasarkan data saat ini jumlah guru yang telah mendapatkan tunjangan sertfikasi di kemenag kota Bandung sebanyak 2.297 guru, dengan asumsi tunjuangan sertifikasi itu kurang lebih 1.500.000 perbulan maka dapat dikalkulasikan potensi zakat profesi yang dapat dihimpun oleh UPZ sekitar 86.137.500 perbulan dan dalam satu tahun dapat dihimpun 1.033.650.000.

Sungguh potensi zakat yang luar biasa apabila dikelola dengan optimal. Dapat dibayangkan betapa sangat berarti dana zakat tersebut apabila  didayagunakan untuk membantu program-program peningkatan pendidikan baik formal maupun non formal dilingkungan kementerian agama kota Bandung.

Pendidikan dan permasalahnnya memang menjadi tanggung jawab pemerintah, namun tidaklah salah apabila para pelaku pendidikan itu sendiri dan kita sebagai karyawan dilingkungan kementerian agama ikut berkontribusi dalam membangun terciptanya peningkatan kualitas pendidikan dilingkungan kita sendiri.       

Dengan optimalisasi zakat profesi, bagaimana kemudian kedua fungsi ini dapat dilakasanakan oleh UPZ di kementerian agama merupakan tantangan tersendiri bagi UPZ. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh UPZ dalam mengoptimalkan zakat profesi yaitu: Pertama, Melakukan sosialisasi tentang zakat profesi baik secara syar’i dan ketermanfaatannya sehingga dapat mencerdaskan para muzaki agar mau dengan kerelaan hati mengeluarkan zakatnya di UPZ kementerian agama. Kedua, menyediakan sistem dan layanan yang memudahkan para muzakki atau donatur dalam menunaikan zakat, infak, sedekah, maupun wakaf (ZISKAF) dengan sebaik-baiknya. Ketiga, mendayagunakan dana zakat, infak, sedekah maupun wakaf melalui program-program yang terasa manfaatnya, mengangkat martabat mustahik khususnya dalam peningkatan dibidang pendidikan disamping program-program pemberdayaan sosial lainnya dilingkungan kementerian agama. Keempat, dibangunya nota kesefahaman  antara UPZ dengan Badan Amil Zakat (BAZ) pemerintah daerah terkait dengan penghimpunan dan pendayagunaan dana zakat profesi yang secara khusus digunakan untuk peningkatan program-program peningkatan kualitas pendidikan dilingkungan kementerian agama dan program-program pemberdayaan sosial masyarakat lainnya. Kelima, menjalin kemitraan dengan berbagai potensi kreatif umat dalam membangun masyarakat yang lebih berkasih sayang, berdaya dan bermartabat, berbasis sumber daya zakat, infak, sedekah dan wakaf. Keenam, adanya trust atau kepercayaan dari para muzaki yakni para pegawai dilingkungan kementerian agama kepada lembaga UPZ dengan bentuk laporan bulanan sebagai bagaian dari akuntabilitas publik berupa laporan penghimpunan dan pendayagunaan dana zakat.

Melalui sarana teknologi informasi yang yang canggih saat ini, maka pelaporan berupa penghimpunan dan pendayagunaan dapat dilakukan berbasis web pada portal kementerian agama atau web tersendiri sehingga pengeloaannya dapat lebih terfokus. 

Dalam pengelolaan dana zakat profesi guru dilingkungan kementerian agama maka UPZ dapat menggunakan model pengelolaan zakat dari kementerian agama untuk kementerian agama atau lebih spesifik programnya “Persembahan Guru untuk Madrasah Tercinta” dana zakat profesi yang dihimpun dari guru dapat didayagunakan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan diwilayahnya baik itu formal maupun non formal. 

Model tersebut telah dicontohkan oleh beberapa sahabat Rasullullah SAW pada saat menjabat sebagai gubernur diwilayah kekuasaan Islam. Dimana penghimpunan dana zakat dari penduduk tersebut didayagunakan kembali untuk pemberdayaan dimasyarakatnya sehingga sampai pada waktu tertentu akhirnya seluruh penduduk tidak mampu (mustahik) di wilayah tersebut dapat merasakan ketermanfaatan dana zakat dan berdaya sekaligus berubah status dari mustahik menjadi muzaki.

Model tersebut merupakan jejaring kemitraan antara amilin dan donatur, gugus penghimpunan dan pendayagunaan ZISKAF di perkantoran kementerian agama, gugus pemberdayaaan terpadu di madrasah dan masyarakat. 

Program yang dapat dimunculkan misalnya bantuan biaya pendidikan siswa miskin, bantuan untuk guru honor, bantuan sarana belajar untuk madrsah tertinggal, kegiatan peningkatan kualitas kemampuan dan keterampilan guru dan lainnya yang mendukung peningkatan kualitas dibidang pendidikan serta program pemberdayaan social kemasyarakatn yang lainnya. 

Penerapan model ini  berbasis pada penanaman nilai-nilai kebangkitan dan semangat perberdayaan pada zaman Nabi Muhammad SAW, sebuah upaya untuk meneladani ‘secara kreatif’ bagaimana Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya membangun umat dan peradaban. Mari kita bangun dan jaga pendidikan madrasah kita dengan bersama-sama ikut berkontribusi dalam peningkatan kualitas pemdidikan madrasah walaupun hanya dengan bagian terkecil dari harta kita.

Penulis : Agus Saparudin (INMAS Kota Bandung)


Dibaca: 110 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter