‘Āmul-Huzni, Isra` Mi’raj dan Covid-19

‘Āmul-Huzni, Isra` Mi’raj dan Covid-19

Dalam waktu dekat, kita akan memperingati Isra` Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa yang luar biasa, yang wajib kita yakini sebagai salah satu kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah SWT pun mengabadikan peristiwa tersebut dalam Al-Qur’an surat Al Isra` ayat 1, sebagaimana firman-Nya,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS Al Isra` (17) : 1)

Setiap Muslim tentunya telah mengetahui bagaimana peristiwa Isra` Mi’raj tersebut, bagaimana baginda Nabi diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha, bertemu para Nabi terdahulu dan berbagai kejadian lainnya. Peristiwa Isra Mi’raj ini pun bahkan setiap tahunnya diperingati sebagai hari besar Umat Islam, dimana para Muballig sering menyampaikan peristiwa tersebut di acara peringatan Isra’ Mi’raj. Namun sejatinya, ada hal yang tak kalah penting dibalik peristiwa tersebut, yakni peristiwa sebelum terjadinya Isra` Mi’raj. Sebagian besar Muslim mungkin belum mengetahui bahwasanya dibalik peristiwa Isra’ Mi’raj, terdapat kejadian luar biasa yang menjadi sebab musabab Nabi kita di-Isra` Mi’rajkan oleh Allah SWT.

Dalam buku Ar-Rahiq Al Makhtum Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri, disebutkan bahwa secara historis peristiwa sebelum terjadinya Isra’ Mi’raj ialah adanya tahun duka cita, atau lebih dikenal ‘āmul-ḥuzni. Tahun tersebut merupakan tahun yang berat bagi Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Setidaknya ada 3 kejadian yang membuat Baginda Nabi begitu bersedih. Pertama, ialah meninggalnya Paman Rasulullah SAW, yakni Abdul Manaf bin Abdul Muthallib, atau lebih dikenal dengan Abu Thalib. Rasulullah SAW begitu sedih denngan kepergiannya sang Paman, karena dalam riwayatnya beliau-lah yang telah mengasuh baginda Nabi sejak usia 8 tahun selepas meninggalnya Abdul Muthallib, kakek Rasulullaah SAW. Beliau juga yang mengajak baginda Nabi berdagang ke Syam, hingga sampai Rasulullaah SAW menikah dengan Khadijah binti Khuwailid. Bahkan ketika Baginda diangkat menjadi Rasul dan berdakwah menyebarkan Islam di Mekkah, beliau-lah yang menjadi pembela sekaligus tameng ketika kaum Musyrikin Mekkah hendak menyakiti Rasulullah SAW. Pembelaan Sang Paman pun terukir dalam syairnya,

وَاللّهِ لَنْ يَصِلُوْا اِلَيْكَ بِجَمْعِهِمْ * حَتَّى أُوَسِّدَ فِي التُّرَابِ دَفِيْنًا فَامْضِ لاَمْرِكَ مَا عَلَيْكَ غَضَاضَةٌ * أَبْشِرْ وَقِرْ بِذَاكَ مِنْكَ عُيُوْنًا 

“Demi Allah, mereka dan komplotannya takkan bisa menyentuhmu, sampai aku terbuju kaku terkubur di tanah. Lanjutkan perjuanganmu, Engkau tak melakukan sesuatu yang hina, berbahagialah dan tentramkanlah hatimu” (Rahasia Keagungan Isra’ Mi’raj, Habib Noval Alaydrus).

Kesedihan Rasulullah SAW semakin besar, tatkala diakhir hayat sang Paman tidak sampai memeluk agama Islam. Saat sakaratul maut menimpa diri Abu Thalib, Rasulullah SAW berusaha membimbing sang Paman agar mengucapkan kalimat Tauhid. Namun di saat itu pula para Pemuka Quraisy hadir menyaksikan detik-detik meninggalnya Abu Thalib dan berusaha memprovokasi agar tetap memegang teguh agama mereka. Kejadian menegangkan ini diterangkan dalam sebuah hadits,

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ « أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَىْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ » . فَنَزَلَتْ ( مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِى قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ) وَنَزَلَتْ ( إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ)

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, Dia berkata, “Ketika Abu Thalib menjelang pada wafatnya, Rasulullah SAW menemui beliau. Dan di sisi Abu Thalib terdapat pula Abu Jahl. Baginda Nabi mengatakan pada pamannya kala itu,

“Wahai pamanku, ucapkanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata,

“Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

Rasulullah SAW kemudian mengatakan :

“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” (QS. Al-Qashshash: 56) (HR. Bukhari, no. 3884 dan Muslim, no. 24)

Begitulah kesedihan Rasulullah ketika ditinggal wafat oleh sang Paman. Dalam riwayatnya, Abu Thalib meninggal pada tahun kesepuluh dari kenabian, ia meninggal dalam usia 80 tahun lebih (Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah, 7:116).

Kedua, peristiwa yang menjadi tahun duka cita Baginda Nabi ialah meninggalnya Khadijah binti Khuwailid R.A., sosok yang selalu menjadi pelipur lara dalam setiap perjalanan dakwah Nabi. Beliau yang berkorban dengan hartanya untuk perjuangan Nabi dalam menyebarkan Islam. Beliau pun merupakan sosok pertama dari kalangan perempuan yang bersyahadat, beliau pula yang menyelimuti Baginda Nabi ketika pulang dari Gua Hira selepas mendapat wahyu pertama. Beliau adalah istri Rasulullah SAW, wanita mulia yang wafat tidak lama setelah meninggalnya sang Paman, Abu Tholib. Dalam riwayatnya, ada yang mengatakan beliau wafat dua bulan setelah Abu Thâlib, ada pula yang berpendapat satu bulan lima hari, dan berbagai pendapat lainnya. Sedangkan yang masyhur, Khadijah R.A. wafat pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh dari kenabian. (as-Sîratun Nabawiyatu fi Dhau-il Mashâdiril ash Liyyah, Mahdi Rizqullah Ahmad)

Wafatnya Khadijah, betul-betul membuat Baginda Nabi terpukul. Betapa tidak, beliau adalah istri yang sangat dicintai oleh Nabi, bahkan disebut-sebut menjadi wanita terbaik kelak di surga nanti. Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda,

أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

“Wanita-wanita yang paling utama sebagai penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) dan Maryam binti ‘Imran.” (HR. Ahmad, 1:293. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih.)

Begitu cintanya Rasulullah SAW pada Khadijah, sampai-sampai Aisyah R.A pernah menceritakan bahwa dirinya pernah begitu cemburu kepada Khadijah, padahal sepanjang hidupnya belum pernah bertemu dengannya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِى بِثَلاَثِ سِنِينَ لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِيهَا إِلَى خَلاَئِلِهَا

“Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun melebihi kecemburuanku pada Khadijah. Sungguh dia telah wafat tiga tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku. Kecemburuanku disebabkan aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut dia (Khadijah). Rabbnya pun menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan kabar gembira kepadanya (Khadijah) bahwa ia mendapatkan rumah di surga yang terbuat dari perhiasan. Ditambah lagi apabila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kambing lalu beliau akan menghadiahkan sahabat-sahabat Khadijah.” (HR. Muslim, no. 2435).

Peristiwa meninggalnya Khadijah tersebut tentunya membuat kesedihan Rasulullah semakin bertambah semenjak ditinggal wafat oleh sang Paman. Dan ini merupakan salah bagian dari ‘āmul-ḥuzni atau tahun duka cita Rasulullah SAW. Dalam riwayatnya, Khadijah R.A. meninggal karena sakit, pun juga karena usianya yang tak lagi muda mengakibatkan kesehatannya semakin menurun. Pada detik-detik terakhirnya, beliau hanya berdzikir kepada Allah SWT, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan baginda Nabi SAW (Khadijah, Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal). 

Selepas meninggal sang Paman dan Khadijah, kaum kafir Quraisy memanfaatkan ketiadaan mereka berdua dengan memberanikan diri untuk menyakiti Rasulullah SAW. Betapa tidak, tameng yang selama ini menjamin keselamatan baginda telah tiada, ditambah pula orang yang selalu menjadi penghibur Nabi dikala susah telah meninggal dunia. Dan ini menjadi peristiwa ketiga yang menjadi bagian dari ‘āmul-ḥuzni. Sehingga kita mungkin pernah mendengar riwayat bahwa baginda Nabi dilempari kotoran unta, batu, diludahi, dicaci maki, dihina, dicemoohi, diancam  pembunuhan, pemboikotan, dan lain sebagainya. Semua perlakuan orang-orang Quraisy tersebut tentunya menambah kesedihan bagi Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Akan tetapi, bagaimanapun Rasulullah SAW adalah sosok yang mulia, ia tetap tegar dalam menghadapi semua peristiwa tersebut, karena beliau yakin bahwa setiap ujian yang diberikan, pasti Allah SWT akan memberikan jalan keluar.

Setelah kesedihan yang begitu panjang, Allah SWT pun menganugerahkan kepada baginda Nabi dengan adanya Isra’ Mi’raj, dimana peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 setelah diutusnya Nabi, tak lama setelah berlangsungnya ‘āmul-ḥuzni. Allah SWT dengan kuasaNya memperjalankan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian mengangkat baginda Nabi menuju sidratul Muntaha hanya dalam satu malam, bertemu para Nabi, hingga singkat cerita Baginda Nabi mendapatkan perintah untuk disampaikan kepada umatnya, yaitu shalat 5 waktu. Dan inilah solusi yang Allah SWT berikan kepada Baginda Nabi dari setiap kesedihan yang telah dilalui, bahwasanya shalat adalah kunci dari setiap permasalahan. Disanalah sarana terbaik untuk langsung meminta pertolongan, petunjuk serta jalan keluar kepada Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (Q.S. Al Baqarah (2) : 45)

Shalat merupakan media komunikasi terbaik dengan Allah SWT karena saat itulah Rasulullah SAW begitu dekat dengan Rabb-nya. Dan juga, shalat merupakan kesempatan emas untuk berdoa dan meminta jalan keluar dikala mendapat permasalahan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ 

“Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Rabb-nya saat ia sedang sujud. Maka, perbanyaklah doa (di dalamnya)”. [HR Muslim no. 482, dari Abu Hurairah]

Shalat pun menjadi suntikan penguat psikologis bagi baginda Nabi dalam menghadapi permasalahan, juga tempat menenangkan diri bagi Rasulullaah SAW dalam setiap aktifitas kesehariannya, sebagai sabda-Nya,

يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا 

“Wahai, Bilal. Kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya”. [Hadits hasan, Shahihu al Jami’ : 7892]

Allah SWT pun memerintahkan baginda Nabi untuk melaksanakan shalat, dikala dadanya terasa sempit disebabkan perkataan kaum kafir Quraisy,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ, فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ   

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat)”. (Q.S. Al Hijr (15) : 97-98)

Dan inilah yang menjadi penguat Rasulullah SAW dalam menghadapi setiap permasalahan dalam kehidupannya. Dakwah yang begitu berat, rintangan dan hambatan yang tiada henti, berbagai ujian dan cobaan yang kian menerpa, semua permasalahan tersebut selalu diadukan kepada Allah SWT melalui shalat. Hingga semuanya terasa ringan, karena setiap kesulitan tersebut selalu ada kemudahan, setiap masalah selalu ada solusi, hingga Baginda Nabi mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Melihat konteks dari perjalanan Rasulullah SAW diatas, terdapat kesamaan dengan apa yang sedang kita alami saat ini. Dimana seluruh dunia tengah diterpa ujian dan cobaan berupa pandemi virus corona, atau dikenal dengan Covid-19. Pandemi ini bahkan sudah berlangsung satu tahun, dimana telah banyak saudara kita yang wafat akibat covid-19 ini. Di Indonesia sendiri, yang terjangkit pun sudah lebih dari 1 juta orang. Tak hanya itu, beberapa sektor bidang di negara kita mengalami kemunduran, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, pariwisata, bisnis dan lain sebagainya. Tentu ini bisa dikatakan sebagai ‘āmul-ḥuzni -nya era saat ini, dimana kita betul-betul mendapatkan kesulitan dalam berbagai hal dalam setahun ini. Psikologis kita betul-betul diperas untuk menangani pandemi covid-19, belum lagi masalah peribadatan kita yang selalu dihantui berbagai aturan demi mencegah penyebaran virus ini. Sehingga tak sedikit dari kita yang beranggapan bahwa covid-19 ini merupakan suatu kebohongan dikarenakan keputusasaan mereka dalam menjalani kehidupan di masa pandemi.

Berkaca dari ‘āmul-ḥuzni -nya baginda Nabi, hingga berujung pada peristiwa Isra’ Mi’raj, maka solusi dari ‘āmul-ḥuzni -nya pandemi saat ini pun sama yakni ialah sama-sama melaksanakan hasil dari isra’ mi’raj-nya Rasulullah SAW yang tak lain ialah melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya. Shalat menjadi jalan keluar terbaik agar kita terbebas dari pandemi covid-19 ini. Shalat menjadi perbaikan psikologis kita dalam menjalani kehidupan di masa pandemi. Shalat menjadi refresh ketauhidan kita agar betul-betul bergantung pada sang Pencipta. Shalat pun menjadi upaya spiritual dalam mencegah dan menghindari penularan wabah. Shalat juga bahkan menjadi perbaikan mental dan moral kita dalam melaksanakan setiap pencegahan penularan covid-19, sebagaimana Allah SWT berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“…. dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al ‘Ankabut (29) : 45)

Hendaknya pandemi ini menjadi momentum untuk kita agar memperbaiki kualitas shalat, yang pada akhirnya akan menjadi perbaikan pada seluruh aspek kehidupan kita. Dimulai dari perbaikan jiwa dan psikologis kita dalam menghadapi pandemi dengan ketenangan namun tetap dengan kehati-hatian, tidak panik namun tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan, paham bahwa setiap madarat harus dihindari dengan berbagai usaha dan ikhtiar. Tak hanya itu, shalat pun menjadi perbaikan pada raga, diawali dengan berwudhu yang merupakan salah satu perilaku hidup bersih, termasuk didalamnya gerakan mencuci tangan. Kemudian gerakan-gerakan Shalat yang sempurna hakikatnya adalah olahraga untuk membugarkan tubuh, terutama pada gerakan sujud. Sehingga badan kita akan sehat, dan antibodi kita siap melawan berbagai penyakit.

Dari sanalah kita akan meyakini bahwa sholat merupakan solusi dari pandemi yang seakan-akan tiada akhir ini. Insya allah, ‘āmul-ḥuzni yang telah kita lewati, duka cita yang telah setahun berlalu akan tergantikan dengan kebahagiaan. Pandemi yang telah lama menjangkiti negeri ini akan sirna. Dan kita semua bisa kembali berakfititas seperti sedia kala. Sebagaimana pasca Aamul huzni baginda nabi, Allah SWT menganugerahkan Aisyah dan istri-istri lainnya untuk baginda Nabi selepas kehilangan Khadijah, Allah hadirkan para sahabat Muhajirin dan Anshar yang solid untuk menjadi pembela Nabi, dan mewujudkan fathu Makkah untuk kemenangan Islam, semua berawal dari perintah shalat dalam isra mi’raj. Wallahu a’lam.


Penulis : Dede Fauzi, Penghulu KUA Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat
Editor : Nunik


Dibaca: 177 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter