Moderasi Beragama dalam Secangkir Teh Manis

Moderasi Beragama dalam Secangkir Teh Manis

Oleh Tina Haryati,S.Pd.I., M.Pd. Guru MTsN 5 Karawang, Alumnus PPs. STAI Sukabumi


Sahabat,..

Kaumku mayoritas di negeri ini, maka ijinkan aku menjadi awan yang terhampar di bawah sinar matahari, tanpa kau minta aku akan melindungimu diam-diam dari teriknya sengatan matahari


Siang itu terik  matahari membakar kota Tauco, Cianjur.  Anak-anak berseragam putih biru tampak ceria berjalan dibawahnya, sambil sesekali  mengelap peluh yang bercucuran di dahi. Bel tanda berahirnya pelajaran hari ini telah berdering 10 menit yang lalu. Dua orang sahabat berjalan menyusuri gang kecil, menuju salah satu rumah paling ujung. Pintu rumah terbuka, tampaklah ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga tertata rapih dengan kursi-kursi berukir dan lemari kaca. Di dinding sebelah kanan tampak tanda salib dengan patung kecil di bagian tengah. Sementara diatas sebuah lemari berukir tampak sebuah patung kecil dengan hiasan lampu-lampu kecil disekelilingnya. Secangkir tes manis dihidangkan di meja, oleh sang pemilik rumah. Sedetik kemudian teh manis itu mengalir menyusuri kerongkongan gadis berjilbab putih seraya tersenyum dan berucap “ ini  teh manis ternikmat” dua sahabat itu tertawa bersama.


Kenangan itu milikku, milik seorang putri asli kelahiran negeri bernama Indonesia. Negeri yang kaya akan suku bangsa, bahasa dan agama serta harmonisasi kehidupan indah dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda Tetapi satu Jua, seperti pelangi. Indahnya pelangi terbentuk dari ragam warna yang berbeda, begitupun Indonesia, indahnya Indonesia tercipta dari ragam budaya, suku bangsa dan agama yang berbeda.


Secangkir teh manis yang disuguhkan sahabatku Tiamar Sihombing, masih melekat dalam ingatan, meski sudah berlalu  dua puluh lima tahun silam. Berteman dengan seorang Nasrani tak membuatku risih meski saat itu aku berstatus santri di pondok pesantren salafiyah yang kental dengan ajaran Islam yang indah. Islam yang cinta damai, Islam yang mengayomi, islam yang adil islam yang seimbang dalam kehidupan duniawi dan ukhrowi. 

Istilah moderasi beragama, yang dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith. Dalam bahasa Arab pula, kata wasathiyah diartikan sebagai “pilihan terbaik”. Apa pun kata yang dipakai, semuanya menyiratkan satu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem. 

Memahami moderasi beragama di Indonesia adalah mengerti bahwa inti dari sebuah ajaran agama adalah ketauhidan (ketuhanan), kemanusiaan, cinta kasih dan kedamaian. Meyakini bahwa keberagaman diciptakan Tuhan agar manusia saling menutupi kekukarangan, saling menyempurnakan satu sama lain dan bekerja sama penuh cinta agar tercipta harmonisasi dalam  karya seorang hamba, yang diberi reward pahala hingga dianugerahi  tempat termulya bernama surga.

Jika dirasa sulit memahami  tentang moderasi beragama, maka fahamilah dengan sederhana, bayangkanlah lezatnya secangkir teh manis yang disuguhkan anak SMP bernama Tiamar Sihombing yang seorang Nasrani, bagi sahabatnya Tina Haryati, gadis berkrudung putih, teman satu sekolah yang juga berstatus santri pondok pesantren salafiyah. 



Dibaca: 38 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter