Meruwat Esensi Ramdhan

Meruwat Esensi Ramdhan

Oleh : Rudi Sharudin Ahmad, M.Ag*

(Penyuluh Agama Islam Fungsional Kabupaten Cirebon Jawa Barat, Alumni Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Pascasarjana (IAT) UIN Walisongo Semarang)

Ramadhan adalah salah satu bulan yang Allah istimewakan, sebab, bagi kaum muslim bulan Ramadhan merupakan moment yang digunakan untuk berlomba-lomba dalam melakukan hal kebaikan, sehingga dapat kita temui diantaranya masyarakat yang rajin pergi ke masjid, semakin banyak umat muslim yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, lantunan shalawat Nabi, kegiatan majlis dzikir, ilmu dan berdo’a bersama.

Selain itu, bagi orang yang memiliki jiwa interpreneur, Ramadhan digunakan sebagai moment untuk memungut rezeki sebanyak-banyaknya. Pasalnya, akan banyak kita temukan menu-menu makanan dan minuman yang variatif, sehingga tidak jarang para konsumen yang dalam hal ini adalah umat muslim yang berpuasa terkesan boros, sebab keinginan mengikuti rasa penasarannya untuk menjelajahi kuliner. Selain itu, trend pakaian pun ikut mewarnai peranan masyarakat yang konsumerisme seiring dengan akan tibanya hari raya.

Padahal esensi Ramadhan adalah mampu menahan atau melemahkan sifat-sifat yang berlebihan yang terdapat pada diri manusia; mampu menahan nafsunya, baik itu nafsu syahwatnya dan nafsu untuk makan dan minum, guna untuk mencapai ketaqwaan kepada Allah SWT.

Menyoal menahan nafsu untuk makan dan minum, terkadang terjadi kekeliruan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Menahan rasa lapar dan dahaga dari terbit fajar sampai terbenammnya matahari, merupakan syari’at yang diperintahkan saat melaksanakan ibadah puasa. Akan tetapi, budaya aji mumpung akibat menahan rasa lapar dan dahaga, dituangkan pada saat berbuka sebagai waktu untuk memuaskan diri dengan membeli dan mengkonumsi makanan serta minuman secara berlebihan. Istilahnya untuk membayar seharian menahan rasa lapar dan dahaga. Tanpa memeperhatikan tujuan di syari’atkannya perintah puasa.

Hal ini merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh agama, yakni menahan diri dari nafsu. Melihat fenomena tersebut, akan terjadi perilaku yang berlebihan/melampaui batas, menghambur-hamburkan uang, dan memubadzirkan makanan. Hal ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Bahkan Nabi pun membenci prilaku tersebut. Nabi Muhammad SAW mencontohkan kesederhanaan saat berbuka puasa, Beliau tidak pernah meminta kepada istri-istrinya untuk menyediakan menu-menu untuk berbuka puasa yang lebih mewah dibanding bulan-bulan yang lainnya. Nabi Muhammad cukup dengan buah kurma untuk membatalkan puasanya. 

Selain bertentangan dengan prilaku yang di contohkan Rasulullah, ditegaskan pula dalam firman Allah Q.S al-Baqarah:168, bahwa manusia diperintahkan untuk memakan makanan yang halal dan baik, serta tidak mengikuti langkah-langkah setan. Rakus dalam makan merupakan salah satu perilaku yang tidak terpuji, sehingga akan menyebabkan kesehatan terganggu. Selain itu, Islam tidak menganjurkan perilaku-perilaku yang berlebihan atau melampaui batas, baik itu dari segi makanan, berpakaian, maupun dalam hal beribadah.

Sebagai umat muslim yang senantiasa taat dan patuh atas perintah dan syariat yang telah dibawa oleh Rasul Muhammad, berpuasa bukan menjadi alasan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan, karena efek dari berlebihan itu akan berdampak pada dirinya sendiri yang dapat mengganggu kesehatan yang akan berdampak kepada kehilangan nikmat dalam beribadah karena waktu yang digunakan untuk beribadah digunakan untuk menahan rasa kekenyangan yang berlebihan.

Seperti yang kita ketahui, dalam tubuh manusia sudah memiliki porsinya tersendiri. porsi untuk mengkonsumsi makanan, minuman, dan udara. Jikalau tidak seimbang, dan dilakukan secara terus menerus dampak yang dirasakan akan fatal. Hal ini sangat jauh dengan manfaat dari berpuasa. Bagi orang yang berpuasa, organ-organ yang biasaya berproses didalam tubuh manusia setiap harinya, ketika berpuasa organ tersebut akan terjaga untuk tidak melakukan pemerosesan secara maksimal seperti biasanya, sehingga kesehatan organ-organ tubuh pun terjaga. Ketika manusia merasakan kenyamanan dalam tubuhnya, berlomba-lomba dalam kebaikan maupun beribadah akan semakin semangat untuk dilakukan.

Oleh karenanya, manusialah yang membatasi dirinya untuk tidak berperilaku secara berlebihan, menggunakan waktunya untuk menyibukan dirinya dengan melakukan hal-hal yang baik dengan menambah rakaat shalat, memperbanyak membaca ayat-ayat Al-Qur’an, memperbanyak shalawat Nabi, memperbanyak dzikir, memperbanyak shadaqah, dan berbuat baik terhadap lingkungannya. Bukan untuk menyibukan dirinya untuk menimbun banyak makanan dan minuman untuk dimakan saat berbuka puasa. Wallahu ‘Alam bil Ash-Shawab.


Editor : Nunik

Dibaca: 23 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter