Menjadi Pendiam, Bolehkah?

Menjadi Pendiam, Bolehkah?

Penulis : Tina Haryati, S.PdI, M.Pd


Setiap manusia dianugrahkan lisan untuk dapat berucap. Beruntunglah jika ucapan yang terlontar itu adalah kebaikan dan akan merugi jika yang terucap adalah  keburukan atau ucapan kotor yang kemudian menyakiti banyak hati. . Haruskah diam menjadi pilihan ketika muncul ketakutan akan banyaknya hati tersakiti gara-gara lisan kita yang tidak terjaga? Boleh-boleh saja  memilih untuk menjadi pendiam. Karena ‘diam’ adalah kunci keselamatan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ad Dailami dari Ibnu Abbas ra. yang artinya:


Kesehatan (keselamatan) manusia itu ada sepuluh bagian, yang Sembilan dalam berdiam dan yang kesepuluh dalam ber’uzlah (mengasingkan diri) dari para manusia.


(HR.ad Dailami dari Ibnu Abbas)


Menjaga lisan dari ucapan jelek, kotor dan menyakiti orang lain adalah keharusan. Seringkali kita mendengar sebuah pepatah yang sangat mashur tentang lisan “jika pedang melukai tubuh masih ada harapan sembuh, jika lidah melukai hati kemana obat hendak dicari’.  Tidak mudah menyembuhkan hati yang tergores karena ucapan. Meski tak berbekas, akan selalu terngiang, bahkan hingga akhir hidupnya.


Lukman berkata kepada anaknya “Andaikata bicara terbuat dari perak, maka  diam adalah dari emas”. Ibnu Al Mubarok menambahkan; “Andaikata perkataan dalam mentaati Allah SWT adalah perak, maka diam dari maksiat kepada Allah SWT adalah dari emas”.


Syair tentang ‘diam’:


 Diam itu lebih utama


Daripada berkata-kata


Jika berkata itu perak


Maka diam adalah emas


 


Jika pedang lukai tubuh


Masih ada harapan sembuh


Jika lidah lukai hati


k’mana obat hendak dicari


 (Irama Lagu : Duhai Adek Berjilbab Ungu)


Meskipun diam lebih utama dari berkata-kata, akan tetapi pada beberapa hal bicara menjadi lebih utama daripada diam, diantaranya:


1.       Bagi para ulama dan ahli ilmu lainnya yang harus menyampaikan ilmu kepada murud-muridnya dan masyarakat umum.


2.       Orang yang mampu menjaga lisannya dari perkataan buruk dan kotor sehingga perkataannya menyejukan hati pendengarnya.


3.       Menyampaikan kebenaran baik dimuka pengadilan maupun dalam kehidupan bermasyarakat

4.       Mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran

5.       Mendamaikan orang yang bertikai


 



Dibaca: 19 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter