Meningkatkan Minat Baca, Tak Seindah Kata-kata

Meningkatkan Minat Baca, Tak Seindah Kata-kata

Membaca merupakan hal yang sangat penting digelorakan di sekolah/madrasah, karena membaca merupakan gerbang bagi siswa untuk meraih berbagai ilmu pengetahuan. Membaca sejatinya adalah gerak nafas bagi siswa. Rasanya sangatlah rugi, jika dalam waktu 24 jam semenit pun kita tidak meluangkan membaca.

Ada sebuah nasihat yang menggugah penulis terkait itu, “Sebaik-baik teman duduk setiap waktu, adalah buku”. Nasihat tersebut memberikan pesan agar kita selalu gemar membaca. Ketika sendirian atau pun tidak, maka buku senantiasa menjadi teman setia bagi siswa. Alangkah naifnya jika buku hanya sekadar menjadi hiasan di rak buku perpustakaan atau pun di meja belajar di rumah.

Membaca memiliki arti penting dalam kehidupan. Sejarah pun telah mencatat, misalnya umat Islam pada masa keemasan mengalami kemajuan kebudayan dan peradaban yang luar biasa antara pertengahan abad ke-8 hingga permulaan abad ke-13 Masehi.

Para ulama pada saat itu sangat kreatif mengkaji, mengasimilasikan buku-buku versi tua dan Klasik Yunani, dan menulis buku. Maka pada zaman keemasan, dunia Islam telah melahirkan para ulama sekaligus ilmuwan yang sampai saat ini karyanya tetap menjadi rujukan di antaranya; Al-Kindi, ArRazi, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd (Averroes), dan lain-lain.

Setelah masa keemasan Umat Islam berlalu, orang-orang Barat akhirnya menjadi bangsa yang maju karena mereka mau belajar dari kehebatan kebudayaan dan peradaban Islam dan sampai saat ini dunia Barat menguasai berbagai penemuan-penemuan dan teknologi mutakhir.

Menurut Philip K Hitti, (Faisal Ismail, 2004:219) kebangkitan intelektual dan kebangunan kultural Barat terjadi setelah sarjana-sarjana Eropa mempelajari, mendalami, dan menimba begitu banyak ilmu-ilmu Islam dengan cara menerjemahkkan buku-buku ilmu pengetahuan Islam ke dalam bahasa Eropa. Mereka dengan tekun mempelajari bahasa Arab untuk dapat menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan Islam itu (serupa dengan para sarjana Islam ketika memulai kebangunan kebudayaan klasik Yunani ke dalam bahasa Arab).

 Perintah membaca dalam Quran Surat Al-‘alaq ayat 1-5 harus menjadi motivasi bagi para siswa untuk meningkatkan minat baca. Kata Iqra dalam QS. Al’Alaq ayat 1-5 terulang dua kali yaitu di ayat pertama dan ketiga merupakan bentuk kata kerja perintah, fi’lul amri. Sehingga hal ini menjadi spirit bagi umat Islam untuk meningkatkan tradisi membaca.

M. Quraish Shihab (2004:170) menjelaskan makna perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia. Karena, membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa “membaca” adalah syarat utama guna membangun peradaban.

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Adapun keempat keterampilan berbahasa itu yaitu; menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Menyimak dan membaca merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif.

Minat baca siswa tentunya harus ditingkatkan, aktivitas membaca jika dikaitkan dengan belajar menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap mata pelajaran. Jika minat baca rendah, hal itu akan berpengaruh kepada hasil belajar yang kurang maksimal.

Di era teknologi saat ini, ada suatu kemudahan bagi kita terutama dalam aspek membaca. Kita dapat dengan mudah mengakses berbagai bacaan di antaranya buku pelajaran elektronik, berita online, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi, dapat menjadi media yang positif sebagai penunjang bacaan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah/madrasah.

Sebagai pendidik, kita memiliki sebuah kewajiban untuk mendorong minat baca menjadi tradisi di sekolah/madrasah. Untuk merealisasikan hal itu, dibutuhkan komitmen yang kuat dari berbagai pihak terkait dengan urgensi peningkatan minat baca. Langkah awal yang paling utama adalah keteladanan dari stakeholders serta perlunya langkah-langkah berupa program nyata yang dapat meningkatkan kegiatan literasi di sekolah/madrasah seperti program satu siswa satu buku, pemanfaatan majalah dinding, pojok literasi, dan program lainnya.

Dengan demikian, peningkatan minat baca di sekolah/madrasah memiliki makna penting sebagai bagian dari menanamkan gerakan literasi yang terus dikampanyekan oleh berbagai pihak.

Meningkatkan minat baca tentunya tidak seindah kata-kata, artinya membutuhkan sebuah perjuangan yang teguh dan berkelanjutan. Maka, kita sebagai pendidik dan peserta didik tentunya dapat mengambil peran penting ini agar tumbuh suburnya literasi di sekolah/madrasah sehingga kita dapat memetik makna dari kata Iqra’ serta dapat membumikannya dalam kehidupan sehari-hari.



Penulis Dadan Saepudin, M.Pd.

Ketua 1 DPD Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia Kabupaten Bandung Barat

Editor : Nunik


Dibaca: 64 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter