Mengungkap Konsepsi Negatif Manusia Indonesia

Mengungkap Konsepsi Negatif Manusia Indonesia

Mochtar Lubis menyebutkan ciri-ciri manusia Indonesia, yakni (1) hipokrit atau munafik; (2) enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; (3) berjiwa feodal; (4) percaya takhayul; (5) artistik; dan (6) watak yang lemah. Pernyataan tersebut beliau sampaikan pada pidato kebudayaan tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Tahun 1990 pidato tersebut dibukukan dengan judul yang sama dengan judul pidatonya: Manusia Indonesia. Sampai kini buku tersebut telah beberapa kali mengalami cetak ulang.

Saya pikir menarik apa yang disuarakan oleh mantan Presiden Press Foundation of Asia pada 45 tahun silam tersebut. Lima dari enam ciri yang diungkapkan penulis novel Jalan Tak Ada Ujung (A Road With No End) ini setidaknya membuat dahi sebagian orang Indonesia terangkat. Hanya satu ciri yang bermuatan nilai positif: artistik. Alhasil, kelompok yang kontra menganggap ini merupakan sebuah stereotip yang perlu pembuktian secara objektif. Menurut mereka, generalisasi pada pidato tersebut tampak terlalu dipaksakan sehingga menutupi ciri positif yang tak sedikit juga melekat pada manusia Indonesia.

Di lain pihak, banyak pula yang mengangguk dan tersenyum karena mengakui secara jujur tentang ciri tersebut ada pada dirinya. Namun demikian, tak sepenuhnya setuju bahwa semua ciri itu dimilikinya.

Pro dan kontra dari setiap pernyataan niscaya selalu ada. Akan pernyataan tersebut, ada sosok penyuara yang lazimnya mendapatkan sorotan dari publik. Orang Indonesia yang literat tahu, siapa Mochtar Lubis? Beliau adalah seorang jurnalis dan sastrawan. Kiprahnya pada kedua dunia yang digelutinya tersebut sudah tak perlu diragukan lagi. Beliau bagian dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sekaligus salah seorang pendiri kantor berita Antara. Pada bidang sastra, tercatat beberapa karya sastranya mendapat penghargaan dan diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Beliau juga termasuk pendiri majalah sastra Horison.

Dalam mengungkap sebuah fakta, tentu beliau tak’kan menyandarkan pendapat pada aspek perasaan. Hatta, apakah mungkin pernyataan tersebut hanya sebuah guyonan semata yang disampaikan oleh sosok yang tak diragukan lagi kapasitas dan kapabilitasnya sebagai seorang penulis ternama? Rasanya, tak mungkin.

Hikmah yang mengiringi pernyataan tersebut yang saya pikir perlu kita garis bawahi. Disadari atau tidak, pernyataan tersebut telah membangkitkan daya kritis orang Indonesia. Terlepas dari pernyataan yang dianggap kontroversial itu, ada pemantik bagi kita untuk mampu secara individual meraba sifat-sifat negatif tersebut pada diri sendiri.

Setiap fakta tak terlepas dari indikator-indikator yang secara kasat mata dapat menyimpulkan kebenaran sebuah praduga. Latar belakang sebuah pernyataan tak terlepas dari gejala-gejala yang tampak. Konsepsi ini, saya pikir, merupakan sebuah simpulan dari sebuah refleksi bertemali dengan kesamaan perilaku sosial manusia Indonesia. Tentu, akan banyak kesamaan cara kita memaknainya ketika pernyataan tersebut disuarakan oleh orang non-Indonesia.

Lalu, masih melekatkah ciri tersebut pada watak manusia Indonesia jika kita telisik pada konteks kekinian? Pertanyaan tersebut yang menurut hemat saya patut untuk kita kaji.

Pertanyaan-pertanyaan berikut, dapat kiranya dijadikan acuan untuk mengkaji kembali perihal ciri yang diutarakan Mochtar Lubis itu.

Mana yang lebih sering mendominasi sikap keseharian kita: jujur atau berdusta? Menepati janji atau ingkar? Memegang teguh amanat atau berkhianat? Berani mengakui kesalahan atau menyalahkan orang lain? Menyamakan sikap kepada setiap orang atau berbeda sesuai kelas sosialnya? Menyandarkan nasib kepada makhluk lain atau hanya kepada Allah Swt.? Lebih berorientasi pada proses atau hasil? Siap berubah sesuai tuntutan kebutuhan atau memilih status quo?

Masih samakah pernyataan almarhum Mochtar Lubis tersebut dengan sikap mental manusia Indonesia kini? Jawabannya ada pada setiap isi kepala manusia Indonesia. ***


Penulis: Ruhiman

Guru MTsN 2 Bandung Barat



Dibaca: 179 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter