Mengenal Surat Al Fatihah

Mengenal Surat Al Fatihah

Oleh: H. Ilyas Bustamiludin

Surah Al-Fatihah adalah surah yang teragung, karena meskipun surat Al-Fatihah bukan wahyu pertama yang diterima Nabi SAW, namun ditempatkan di awal surat dari 114 surat yang ter-cover dalam Al-Qur’an. Sebelum membahas lebih jauh tentang kandungan surat ini, terlebih dahulu penulis memperkenalkannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan surat yang merupakan intisari dari Al-Qur’an itu sendiri.

Surat Al-Fatihah adalah surat yang sangat akrab bagi kaum muslimin karena fungsi dan kedudukannya baik di dalam Al-Qur’an maupun di dalam shalat serta dalam kehidupan sosial keagamaan.

 

Fungsi Surat Al-Fatihah Dalam Mushaf

Fungsi surat Al-Fatihah di dalam Al-Qur’an adalah sebagai الفاتحة  (Baca: Al-Fatihah) atau Pembuka. Sebagai surat pembuka, isi kandungan Al-Fatihah meskipun hanya terdiri dari 7 ayat, 25 kalimat dan 113 huruf (demikian yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya) dia merupakan representatif dari Al-Qur’an. Maka di dalam surat Al-Fatihah terkandung masalah Akidah seperti masalah Uluhiyyat (Ketuhanan) yang terkandung pada ayat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ dan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  dan segala sifat-sifat-Nya yang sempurna di antaranya ialahالرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ , masalah Nubuwat (Kenabian) yang terkandung pada kalimat الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ dan masalah Akhirat  termuat pada kalimat مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . Begitu juga dengan masalah ibadah baik ibadah Maliyah (harta) dan ibadah Badaniyah yang keduanya sangat erat dengan urusan penghidupan yang menyangkut masalah mu’amalat dan munakahaat yang terkandung pada kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ . Seorang muslim juga harus menghiasi dirinya dengan kesempurnaan Akhlak yang salah satunya ialah istiqamah yakni konsisten dalam menempuh jalan yang lurus. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين  . Ke semua syari’at tersimpulkan dalam kalimat الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. Selain syari’at, Al-Qur’an juga menyuguhkan tentang kisah-kisah dan berita-berita tentang ummat-ummat terdahulu. Mereka ada orang-orang yang berbahagia dari kalangan para nabi dan lain-lainnya yang tersimpul dalam firman-Nya الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ , sedang orang-orang celaka dari kalangan orang-orang kafir tersimpulkan dalam firman-Nya yang berbunyi غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  yang ditafsirkan sebagai kelompok Yahudi dan Nasrani. 7 ayat itulah yang kemudian dijabarkan secara rinci  di 113 surat setelahnya. Jadi wajar bila surat ini juga dinamakan القرءان أمّ  (Baca: Ummul Qur’an) atau Induk Al-Qur’an karena ayat-ayatnya menggambarkan kandungan isi Al-Qur’an secara keseluruhan.

 

Fungsi Surat Al-Fatihah Dalam Shalat

Fungsi selanjutnya, Surat Al-Fatihah merupakan rukun shalat menurut Imam Syafi’i yang mesti dibaca pada setiap awal raka’at. Semua macam shalat diharuskan membaca surat ini baik shalat fardhu atau sunnah, sendiri atau berjamaah, sebagai imam atau sebagai makmum, shalat yang dibaca secara Sirr (Lirih) atau Jahr (Nyaring) atau shalat yang tidak memiliki bilangan raka’at sekalipun seperti shalat jenazah. Sebab nabi Muhammad SAW bersabda: مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ  "Barang siapa yang Shalat tanpa bacaan Ummul Qur’an (Al-Fatihah), maka shalat masih hutang. Beliau menyebutnya tiga kali. Artinya shalat tersebut tidak sempurna.” (HR Muslim “Bab Shalat” 397). Hadist lain berbunyi, لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ “Tidak diterima shalat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah.” (HR Bukhari “Bab Adzan” 756, Muslim “Bab Shalat” 394). Hal ini cocok apabila surat ini dinamakan pula  المثاني السبع  (Baca: As Sab’ul Matsaany) atau 7 ayat yang berulang-ulang dibaca ketika shalat minimal 17 kali selama 24 jam dalam kehidupan seorang muslim. Dengan fungsi sebagai rukun shalat, maka orang yang shalat diwajibkan harus fasih dalam melafalkan huruf-hurufnya. Apabila tertukar, maka shalatnya dianggap tidak sah. Contoh kasus seperti pesan wanti-wanti penulis kitab Fathul Mu’iin pada ayat ke-5: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ  Jika dibaca “Iyyaaka” dengan tasydid huruf ya-nya maka artinya: “Hanya kepada-Mu Kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. Tapi jika dibaca “Iyaaka tanpa tasydid huruf  Ya-nya maka artinya: “Kepada cahaya matahari  kami menyembah dan kepada cahaya matahari kami meminta pertolongan”. Inilah bahasa Arab, bahasa yang paling fasih, jelas, luas dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia diturunkan kepada rasul yang paling mulia (QS. Al-Haaqqah: 40), dengan bahasa Arab, bahasa yang termulia (QS. An-Nahl: 103), melalui perantara malaikat Jibril, malaikat yang paling mulia (QS. As-Syu’ara: 193), diturunkan di Mekah sebuah dataran yang paling mulia di atas muka bumi (QS. Al-An’aam: 192), serta awal turunnya pun pada bulan Ramadhan, bulan yang paling mulia (QS. Al-Baqarah: 185), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.

 

Berdialog Dengan Allah

Bukan hanya mesti fasih dalam melafalkan huruf-hurufnya, para ulama (seperti yang ditulis dalam tafsir-tafsir besar di antaranya tafsir Al-Qurthuby, Ibnu Katsir,  At-Thabary dan lain-lain) menganjurkan agar si pembaca surat Al-Fatihah selayaknya membaca waqaf atau berhenti pada setiap ayat-ayatnya tanpa diwashal atau disambung. Hal ini karena di dalam shalat, Allah SWT menjawab langsung semua yang dibaca oleh orang yang sedang shalat. Moment di mana Allah seakan-akan berdialog dengan hamba-Nya yang sedang shalat. Nabi SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur Abu Hurairah yang disebut sebagai Hadits Qudsy di mana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku telah membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dia minta. Ketika hamba-Ku berkata, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , Allah SWT menjawab حمدني عبدي (Hamba-Ku telah Memuji-Ku). Dan ketika dia berkata, الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ,  Allah SWT menjawab, أثنى علي عبدي (Hamba-Ku telah menyanjung-Ku). Dan ketika dia berkata, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ , Allah SWT menjawab, مجدني عبدي (Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku). Dan ketika hamba-Ku berkata, إياك نعبد وإياك نستعين, Allah SWT menjawab, هذا بيني وبين عبدي، ولعبدي ما سأل (Ini adalah antara Aku dan hamba-ku, dan hamba-Ku akan memperoleh yang dia minta). Dan ketika hamba-Ku berkata, اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين, Allah SWT menjawab, هذا لعبدي ولعبدي ما سأل (Ini adalah untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dia minta)”. HR Muslim. Al-Albani telah men-shahih-kan hadits ini dalam kitab shahih al-Targib wa al-Tarhib nomer 1455. Sebuah dialog tanpa jarak dan bebas pulsa ini kurang disadari oleh orang yang sedang shalat, sehingga mereka mempercepat bacaannya tanpa jeda. Dan ironisnya, mereka menyambung terus menerus bacaannya dengan satu kali nafas. Meskipun  ini dapat ditolelir oleh fikih, namun sebaiknya on-line antara penyembah dan yang disembah tetap terjaga harmonis ketika dia berdiri, ruku’,  sujud dan tahiyyat sampai dia menutup shalatnya dengan salam.

 

Tempat Turunnya Surat Al-Fatihah

Keagungan surat ini juga bisa dilihat dari banyaknya pendapat para ulama terkait kapan dan di mana surat ini diturunkan. Penulis tafsir Al-Kasyaf yakni Imam Az-Zamakhsyary dan diikuti oleh Imam Ibnu Katsir mendokumentasikan perbedaan ulama tentang di mana surat Al-Fatihah diturunkan. Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa surat Al-Fatihah diturunkan di Mekkah. Sementara Abu Hurairah dan Mujahid mengatakan di Madinah. Ada pendapat yang lain bahwa Surat Al-Fatihah sebagian diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah. Ini pendapat segelintir orang saja. Mungkin ada pendapat lain lagi yang dianggap lebih kompromistis bahwa surat Al-Fatihah dua kali turun yakni di Mekkah pada saat diberlakukannya kewajiban shalat dan diturunkan lagi di Madinah saat peristiwa pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis Palestina ke Ka’bah di Mekah. Semua pendapat akan gugur bila kelompok pertama berargumen dengan surat Al-Hijr Ayat 87: وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung”. Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang adalah surat Al-Fatihah yang telah disinggung di atas, sedang Al-Hijr sudah menjadi konsensus ulama bahwa ia diturunkan di Mekah.

 

Jumlah Ayat Surat Al-Fatihah

Semua ulama sepakat bahwa surat Al-Fatihah adalah 7 ayat. Namun, mereka berselisih tentang ayat pertama surat Al-Fatihah yakni basmalah. Keberadaannya diperselisihkan, apakah ia bagian dari surat Al-Fatihah atau dia terpisah dari surat Al-Fatihah. Bagi yang berpendapat bahwa Basmalah bagian dari surat Al-Fatihah (seperti yang kita jumpai dalam mushaf), maka basmalah adalah ayat pertama dari surat Al-Fatihah. Namun bagi yang meyakini bahwa Basmalah bukan salah satu ayat dari surat Al-Fatihah, maka menurut penulis Tafsir Maraah Labid atau yang populer dengan sebutan Tafsir Al-Munir, ayat yang ke-7 adalah غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  “(bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)  mereka yang sesat”. Di samping itu, Basmalah juga berfungsi sebagai pemisah antara surat yang satu dengan surat sesudahnya kecuali surat at-Taubah yang tidak meletakkannya sebagai pembuka surat. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa awal surat at-Taubah itu turun tatkala Rasulullah pulang dari perang Tabuk. Meskipun demikian, para ulama sepakat bahwa Basmallah sebanyak 114 sesuai dengan jumlah surat dalam Al-Qur’an di mana Allah menggantinya di dalam surat An-Naml ayat 30 yang menjadi bagian naskah surat Raja Sulaiman kepada Ratu Balqis untuk mengajak penguasa negeri Saba’ itu masuk Islam.

Imam Syafi’i bukan hanya meyakini basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, bahkan dia menghitungnya sebagai bagian semua surat. Hal ini juga diikuti oleh Imam Az-Zamakhsyary dalam tafsirnya yang menulis komentar Ibnu Abbas من تركها فقد ترك مائة وأربع عشرة آية من كتاب الله تعالى barang siapa yang meninggalkannya (Basmalah), maka sungguh dia telah menggugurkan 114 ayat dari Kitab Allah Ta’ala. Ibnu Abbas pun sahabat yang secara langsung didoakan oleh nabi SAW agar menjadi orang paling paham akan kitabullah menyatakan bismillah diturunkan pada semua surat. (Lihat Tafsir Ibnu ‘Abbas). Implikasinya dalam shalat, maka kita jumpai ada yang membaca basmalah ada yang tidak membacanya. Minimal mereka membacanya dengan suara sirr (lirih). Adapun pengikut madzhab Syafii membaca basmalah tergantung shalatnya. Bila shalat jahr, maka basmalah dibaca jahr. Dan apabila shalat sirr, maka basmalah dibaca sirr juga.

Allahu A’lam…


Dibaca: 4.748 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter