Memiliki orang tua bahagia merupakan hadiah bagi ananda

Memiliki orang tua bahagia merupakan hadiah bagi ananda

Sri Silvia Nurma Latifah,

Guru MTsS Annihayah Karawang

Ayah, sudahkah dirimu menjadi figur yang selalu dinanti terlebih dirindu? Bunda, apakah engkau adalah sosok yang senantiasa dicinta oleh ananda?  Lalu apakah kita sudah menjadi orang tua yang mampu memenuhi segala yang menjadi kebutuhan ananda? Yang tidak hanya melulu soal materi, tapi juga perasaan dilindungi, diapresiasi, diliputi rasa percaya diri dan senantiasa berani melangkahkan kaki untuk mengeksplorasi dunia luar. Tentu tak kalah penting rasa aman, nyaman saat bersama dengan  orang tua. Ananda yang penuh dengan semangat, bahagia serta percaya diri dalam menjalani hari, juga yang menjadi qurrota’ayun hanya akan didapati dari orang tua yang tentunya juga mengalirkan kebahagiaannya pada hati dan diri ananda juga senantiasa mengalirkan hal-hal positif padanya. Jadi, sudahkah kita menjadi orang tua yang bahagia, wahai ayah bunda?  

Memiliki orang tua bahagia merupakan dambaan setiap ananda, ingat mereka tidak pernah mendapat kesempatan untuk memilih menjadi anak dari orang tua yang bagaimana. Begitupun sebaliknya. Yang mereka inginkan dan tentu rasakan kebahagiaannya saat bersama orang tua. Dan yang harus orang tua lakukan adalah memberikan kebahagiaan pada mereka. Tapi, terkadang rutinitas setiap hari, tuntutan pekerjaan, minimnya kemampuan orang tua dalam memahami karakteristik ananda dan terbatasnya pengetahuan mengenai kebutuhannya lebih dalam, membuat banyak anak diluar sana justru kehilangan moment berharga saat berada dilingkungan keluarga bersama orang tua.

Beberapa tips sederhana berikut, bisa dijadikan langkah awal orang tua agar kehadiran kita menjadi kado tak ternilai bagi ananda:

Pertama, orang tua harus mampu menularkan vibrasi positif bagi sang buah hati

Vibrasi positif atau dikenal dengan istilah lain "vibe" positif, jelas harus dimiliki oleh setiap pribadi tak terkecuali orang tua. Selain menjadi tauladan bagi ananda, role model untuk mereka, adalah sebuah anugerah yang tak terlihat tapi justru dirasakan begitu dalam  dampaknya bagi psikologis mereka, ketika orang tua dapat  memberikan nutrisi positif bagi tumbuh kembang ananda. Maka dari itu, sebelum kita dapat menularkan hal positif pada ananda, dipagi hari saat memulai hari, sebaiknya bangun mind and soul kearah yang positif karena energi mengikuti fikiran yang kemudian akan mengalirkannya pada jiwa kita. Hidup memang tak selalu datar, life is never flat, tapi tentu sebagai orang tua kita sudah harus punya senjata ketika gelombang-gelombang datang menerpa, terlebih sebagai insan yang beragama. Sumber kebahagiaan itu adalah hati kita, semakin  kita bersyukur semakin kita bahagia, semakin menyadari bahwa begitu banyak nikmat Allah yang ada pada kita. Jangan coba-coba atau bahkan malah sudah biasa menghiasi qolbu ini dengan keluhan bahkan kebencian, yang kemudian bertumpuk menjadi emosi kekesalan sehingga menjadi virus yang membahayakan. Tanpa kita sadari, menghadirkan bahkan menularkan virus itu di rumah termasuk tentu pada ananda. Keluhan, kebencian, emosi, caci maki, dimulai di rumah dipagi hari. Bayangkan jika ini terus terjadi, berulang, menjadi santapan ananda, apa yang terjadi? mengerikan. Semua berawal dari rumah, perubahan peradaban dimulai disini, dengan tokoh utama yang tidak lain orang tua juga ananda. Maka ayah bunda, apa jadi saat rumah malah menjadi sarang-sarang penyakit hati yang perlahan membunuh jiwa kita bahkan ananda. Ayah bunda, tidak usah khawatir jika saat ini nasehat kita belum begitu diperhatikan oleh ananda, tapi justru khawatirlah dengan sikap atau tindakan kurang baik kita yang dilihat oleh anak setiap hari. Tentu ini akan menjadi racun bagi mereka. Karena sejatinya anak lebih butuh teladan dibanding  nasehat. Kadang orang tua terlalu menuntut dan berambisi agar anaknya menjadi baik bahkan yang terbaik. Tapi, lupa untuk menjadi contoh yang baik bahkan sumber mata air kebaikan bagi anaknya. Untuk itu, mari kita belajar memberikan nutrisi kebaikan sebagai bekal dan hadiah tak ternilai bagi ananda. Membersamai ananda ditengah kebersamaan dengan keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, memberi nasehat dan semangat agar menjadi anak yang hebat. Memberi keleluasaan ruang dan waktu untuk berbagi cerita mengungkapkan isi hati dan motivasi diri sesuai cara pandang mereka dan kita sebagai orang tua harus mampu menjadi pendengar yang baik. Kenali karakter masing-masing ananda, misalnya saja anak ini tipe holistik atau analitik, agar orang tua dapat memperlakukan mereka sesuai dengan karakter dan kebutuhannya. Ini jelas akan lebih menyentuh hati nurani mereka dan tentu saja akan membuat mereka merasa lebih nyaman saat bersama orang tuanya. Menjadi orang tua yang fokus dan jelas dalam mendidik juga dapat menjadi jembatan dalam menutrisi hal-hal positif bagi ananda, misalnya aturan dan hukuman yang jelas bagi ananda, seandainya memang mereka melakukan kekeliruan, larangan dibuat sebelum ada pelanggaran, bukan setelahnya. Ketika anak berbicara atau bahkan mengeluh, mereka harus dapat dukungan, perlindungan, bahkan rangkulan, karena ini akan membuat mereka merasa lebih baik. Meski mereka melakukan kekeliruan, barulah setelah cooling down langkah selanjutnya orang tua memberi pijakan atau penjelasan pada masalah yang dihadapi ananda atau kekeliruan yang diperbuatnya, agar ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Bukan diluluh lantakkan dengan penghakiman yang membuat tidak nyaman bahkan lebih buruk enggan menikmati kebersamaan dengan orang tuanya. Jadi, mari mulai memberi afirmasi-afirmasi positif pada diri kita agar buahnya dapat menjadi vibrasi positif untuk tumbuh kembang ananda. Agar mereka memiliki self esteem ( konsep diri positif ), menjadikan dirinya pribadi yang positif juga berharga.

Kedua, cari dan dapatkan komunitas-komunitas yang bisa menularkan energi positif

Dewasa ini, orang tua terlebih seorang ibu butuh komunitas-komunitas yang bisa saling menguatkan, memberikan pencerahan, agar dampaknya bisa menularkan energi positif bagi diri seorang ibu. Kita ambil contoh  saat pandemi memuncak, seorang ibu bangun pagi dengan keluh kesah, karena hari-hari harus dilalui dengan menemani pembelajaran ananda dirumah, yang kita tahu bahwa tidak setiap ibu mempunyai kemahiran dalam mengajar seperti guru di sekolah. Ini tak jarang menjadi beban bagi para ibu. Disinalah seorang ibu butuh input positif dari rekan sesama pejuang buah hati, membentuk komunitas yang baik dan menularkan kebaikan, tentu tak berlebihan jika dampaknya cukup besar dirasakan. Karena yang dibutuhkan orang tua bukan nyinyiran, penghakiman atas keadaan lingkungan bahkan kondisi ananda apabila misal ananda tergolong anak yang susah diberi arahan dan nasehat. Tapi justru dukungan dan saling mendukung, untuk itu diharapkan dengan memiliki komunitas yang baik dalam hal membersamai tumbuh kembang ananda, ini menjadi energi positif yang tentunya akan berdampak baik bagi diri orang tua juga ananda.

Ketiga, era digital jangan sampai mengikis kehangatan keluarga

Di era digital ini, kebersamaan yang terjalin bersama keluarga terkadang menjadi barang langka. Dikarenakan gadget dari masing-masing anggota keluarga seolah menjadi prioritas utama. Ayah sibuk dengan gadget kesayangannya, bunda asik dengan media sosial favoritnya, lalu Ananda menikmati sekali dengan keseruan game andalan. Jika sudah begini, quality time orang tua dengan Ananda akan susah di temui dalam sebuah jalinan kasih sayang bernama keluarga. Maka, cobalah rehat sejenak saat dirumah dengan ananda wahai ayah bunda. Simpan gadget ayah bunda ditempat yang sudah menjadi ketentuan, pun dengan gadget ananda. Jika ini sulit, mulai dari diri sendiri. Sekali lagi anak lebih butuh teladan dari pada nasehat. Saat mereka jarang atau bahkan tidak melihat orang tuanya asik dengan gadgetnya saat dirumah, diharapkan hal ini juga terjadi pada ananda, at least penggunaan gadget pada masing-masing anggota keluarga berkurang dan diharapkan berakibat pada kedekatan juga kehangatan dengan keluarga sebagai penggantinya, karena memang itu yang diharapkan. Maksimalkan berbicara atau komunikasi secara langsung, sentuhan, pelukan juga perhatian orang tua bisa menjadi obat mujarab bagi anak, ini merupakan kado tak ternilai baginya bahkan lebih dari hanya sekedar gadget yang canggih sekaligus mahal.

Keempat, keseimbangan peran ayah dan bunda 

Visi besar dalam keluarga ada pada ayah dan bunda yang menjalankannya. Mendidik adalah peran kedua orang tua. Anak ibarat butuh dua sayap ( peran ) dari kedua orang tuanya untuk melesat, melihat dan berperan pada masa depan yang luas dan penuh tantangan. Oleh karenanya, kedua orang tualah yang harus menguatkan agar ananda dapat menghadapi itu semua. Ayah bunda tidak saling mengandalkan bahkan saling menunjuk jika dihadapkan dengan hal mendidik anak, karena memang anak butuh peran dari keduanya. Dari ayah anak belajar logika, pantang menyerah, kekuatan, tidak suka mengeluh. Sikap yang tegas, juga bisa didapat anak dari seorang ayah agar kedepan mereka mampu menjadi strong leader. Tidak hanya bunda, seorang ayah juga harus dapat membangun bonding yang baik dengan anak, agar kedekatan terjalin dan saat mereka tumbuh dewasa nasehat ayah akan didengar. Begitupun dengan peran bunda, anak belajar perhatian darinya, dari bunda anak juga belajar tentang kesabaran, empati, menghormati dan menghargai . Singkatnya, begitulah peran kedua orang tua. Tak dapat dipisahkan, juga tak mungkin dipilih satu persatu atau bahkan mana yang lebih baik dan mana yang lebih penting. Sesungguhnya peran kedua orang tua dalam mendidik anak adalah saling melengkapi, dengan demikian anak akan menjadi bahagia, generasi unggul kualitas premium.

Ayah bunda, semoga dengan senantiasa menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman dalam mendidik buah hati, lalu mengkombinasikannya dengan ramuan-ramuan hasil dari mempelajari ilmu parenting pada masa kini, kita dapat menjadi pribadi bahagia dan mampu mewariskan kebahagiaan terlebih lagi kebaikan pada diri sang buah hati.

Penyunting : Tri Budiono

 


 


  


 


 


 


 



Dibaca: 80 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter