Memahami Penafsiran Al-Qur’an

Memahami Penafsiran Al-Qur’an

Oleh: Rudi Sharudin Ahmad, M.Ag

(Penyuluh Agama Islam Fungsional Kabupaten Cirebon Jawa Barat, Alumnus PonPes Kulliyyatul Mu’allimin Al-Mutawally)

Al-Qur’an merupakan wahyu yang Allah turunkan sebagai petunjuk umat manusia. Tanpa batasan. Semenjak manusia mau mempelajarinya al-Qur’an akan mengarahkan pembacanya kepada hal-hal yan bernilai positif dan akan menemukan banyak hal yang baru.

Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, menegakkan suatu kehidupan yang didasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT dan risalahnya. Dalam mengkaji Al-Qur’an banyak memerlukan ilmu bantu dan salah satunya dala merujuk pada pola yang telah rasul ajarkan serta jelaskan kepada ulama-ulama terdahulu. Ada bermacam-macam penjelasa Rasul saw terhadap al-Qur’an, pada garis besarnya ada yang bersifat ucapan, ada juga yang berupa perbuatan dan sikap diam, yang dipahami sebagai pembolehan.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan shalat dan Haji, pada dasarnya beliau jelaskan dengan contoh pengalaman beliau: ”Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat,” dan ambilah dariku (teladanilah aku) menyangkut tata cara ibadah haji kamu.”  Demikianlah sabda beliau. Sedangkan penafsiran beliau dengan ucapan amat beragam, antara lain, dalam bentuk berikut: Pertama, Ta’rif (التعريف)/ penegasan makna seperti penjelasan beliau tentang arti al-Khaith al-Abyadh min al-Khaith al-Aswad/ tali puth dari tali hitam Q.S 2:187, yakni cahaya siang dan kegelapan malam.

Kedua, Tafshil: rincian, seperti penafsran tentang Q.S 2: 196, yang berbicara tentang fidyah dalam bentuk puasa, sedekah, dan nusuk. Kata-kata tersebut memerlukan penjelasan dan itu beliau lakukan dngan merincinya, yakni berpuasa tiga hari, membri makan enam orang miskin, setengah sha’ makanan bagi setiap orang miskin, atau menyembelih seekor kambing.

Ketiga, Tathabuq: kesamaan/kesesuaian: seperti sabda rasul dalam peperangan Ahzab, bawa perang itu menyibukan kita sehingga kita tidak dapat melaksanakan shalat wustha (shalat asar) pada waktunya. Sabda ini mejelaskan secara jelas dan sesuai dengan Q.S 2:238 atau sabda nabi menjelaskan Q.S 9:36 yang menyatakan bahwa bilangan bulan dalam setahun adalah dua belas, empat diantaranya haram (amat terhormat/terlarang peperangan); Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Keempat, Talaazum; keharusan, seperti sabda Rasul saw. yang menjelaskan “Do’a adalah instisari ibadah” lalu, beliau membaca Q.S Ghafir: 60; “Berdoalah kepadaKu niscaya Ku-perkenankan untuk kamu, sesungguhnya orang-orang yang angkuh sehingga enggan beribadah kepada-Ku akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan terhina.”

Kelima, Tadlammun; cakupan, yakni penjelasan rasul adalah bagian dari kandungan makna yang ditafsirkan, seperti beliau menyangkut Q.S Ibrahim:27, “Allah mengukuhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang kukuh dalam kehidupan dunia dan akhirat…” Maksudnya kehidupan akhirat dijelaskan oleh Rasul bahwa itu terjadi sesaat setelah seseorang dikuburkan  dan dia ditanya oleh malaikat, lalu dia menjawab baik dan benar.

Keenam, Takhsiis, seperti mengecualikan fiman Allah yang mengharamkan memakan bangkai Q.S 2:173 dan Q.S 5:3 denagn sabdaNya: “Dihalalkan untuk kita dua bangkai, yaitu bangkai hiu dan belalang”.

Ketujuh, Tamtsiil; contoh, kasus yang diangkat dari masyarakat yang beliau temui, seperti menjelaskan tentang siapa yang dimurkai dan siapa yang sesat pada Q.S 1;7, Bahwa yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi sedangkan yang sesat adalahorang-orang Nasrani, atau menafsirkan maksud kata quwwah (قوة) dalam Q.S al-Anfal: 60 dengan “memanah.”

Terlihat dari contoh-contoh diatas, bahwa sebagian diantara Tafsir Rasul itu ada yang dapat dikembangkan seperti halnya dengan penfsiran (قوة) dengan memanah. Tentu saja dengan pengertian tersebut tidak lagi sesuai dengan makna dan tujuan persiapan kekuatan yang dibutuhkan masyarakat modern. Dari sini, kata قوة  dapat dikembangkan dengan makna-makna yang baru sesuai dengan kemajuan dalam bidang pertahanan.

Demikian kata al-Mahgdluubi ‘alaihim, dengan orang-orang Yahudi. Mereka yang ditunjuk nabi karena mereka sangat dikenal dalam masyarakat beliau, tetapi tidal menutup kemungkinan untuk mengembangkan maknanya sehingga mencakup kelompok-kelompok yang lain. Wajar sekali Rasullullah memberi contoh orang-orang Yahudi, karena 24 kali kata غضب  dalam bentuk yang tercantum dalam al-Qur’an 12 kali adalah dalam konteks pembicaraan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh mereka. Sedangkan sisanya berkisar pada pembicaraan tentang “amarah” sebagai naluri manusia atau murka Tuhan yang ditujukan kepada orang musyrik, munafik, atau muslim yang melakukan pelangaran.

Dalam konteks ini, baik dikemukakan pendapat sementara pakar yang menyatakan bahwa pembawa ajaran Islam dapat memerankan aneka peranan yang berbeda-beda. Pertama sebagai Rasul saw yang menyampaikan perintah Allah sebagaimana adanya. Kedua sebagai Mufti yang menetapkan hukum setelah melakukan ijtihad. Fatwa beliau pasti benar dan berlaku umum baik terhadap yang meminta fatwa maupun lainnya. Ketiga sebagai hakim yang memutuskan sengketa. Keempat sebagai seorang pemimpin masyarakat sehingga masyarakat-masyarakat yang lain dapat menyesuaikan diri dengan tuntunan yang beliau bawa. Kelima sebagai pribadi yang pribadi yang menyandang tugas kenabian sehingga berdampak adanya kekhususan buat pribadi beliau, seperti kewajiban shalat malam, larangan menerima sedekah, kebolehan menghimpun istri lebih dari empat, dsb. Keenam sebagai pribadi yan terlepas dari tugas kenabian ketika tampil sama atau berbeda dengan pribadi yang lain dalam kehidupan keseharian.

            Dari hal tersebut pula para ulama menganalisis ucapan dan perbuatan Nabi saw., untuk diketahui mana yang merupakan ranah keagamaan dan mana social, dll. Mana perintah beliau yang wajib, anjuran, atau sebaliknya, yang haram, makruh, mana yang berlaku umum, khusus, dan mana yang bersifat sementara dan yang langgeng. Wallahu’alam bi al-shawaab.

 


Dibaca: 16 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter