Langkah-langkah Peningkatan Literasi Baca-Tulis

Langkah-langkah Peningkatan Literasi Baca-Tulis

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Panduan Gerakan Literasi Nasional yang diberi pengantar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan pada tahun 2017. Buku panduan GLN tersebut mengemas penerapan literasi di sekolah secara komprehensif dan menjadi acuan bagi sekolah/madrasah dalam rangka mengembangkan literasi.

Literasi baca-tulis sebagai literasi dasar yang harus dimiliki oleh siswa menjadi hal penting untuk ditingkatkan. Berdasarkan data UNESCO, penulis kutip di https://www.kominfo.go.id, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Jika dirasiokan dengan jumlah masyarakat dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca.

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada dibawah Thailand (59) dan diatas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada diatas negara-negara Eropa.

Meningkatkan minat baca di kalangan siswa tak seindah kata-kata namun perlu kerja nyata dari berbagai pihak. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan minat baca di sekolah/madrasah, yaitu:

Pertama, Pojok Literasi

Pojok literasi merupakan sebuah tempat yang disediakan oleh madrasah sebagai sarana penempatan buku dan dijadikan tempat untuk aktivitas membaca. Pojok literasi dapat dikemas dengan sederhana, pojok literasi dapat disandingkan dengan kantin sekolah/madrasah, di sudut sekolah, di ruang kelas, dan tempat-tempat strategis yang berada di lingkungan sekolah/madrasah. 

Pojok literasi berupaya untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca bagi siswa. Membaca harus menjadi tradisi yang baik di kalangan para siswa. Jika kita belajar mengenai perjalanan kemajuan sebuah negara atau masyarakat salah satunya dengan semangat membaca dan menulis. 

Sebagaimana hal tersebut pernah dilakukan pada masa-masa keemasan peradaban Islam, kota Baghdad dan Cordova tampil sebagai pusat peradaban dunia yang berlangsung dari abad ke-8 sampai abad ke-13. Hal itu ditandai dengan antara lain pendirian perpustakaan yang sangat besar dan spektakuler yang didirikan oleh Khalifah al-Hakam (961-976) yang memiliki koleksi buku sebanyak 400.000 buah. 

Peradaban Islam yang maju secara pesat dan spektakuler pada masa-masa itu telah banyak menarik sarjana-sarjana Eropa untuk belajar bahasa Arab dan berkunjung ke Cordova dan pusat-pusat peradaban Islam lainnya untuk melakukan penyalinan dan penerjemahan terhadap karya-karya para sarjana Muslim Arab. (Faisal Ismail, 2004: 110).

Kedua, Gerakan Satu Siswa Satu Buku

Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik ketika ada seseorang berbicara berbobot maka pertanyaan yang akan kita lontarkan buku apa yang ia baca? Ungkapan sederhana, namun mengandung makna yang dalam terkait dengan kecerdasaan seseorang ditunjang dengan referensi yang dibacanya.

Salah satu inspirasi yang perlu diprogramkan yaitu mengenai gerakan “Satu siswa, satu buku” yang bermakna buku menjadi teman setianya seperti saat belajar di sekolah, bermain dengan temannya, mengisi liburan, dan lain sebagainya. Adapun buku yang dibacanya oleh siswa meliputi buku fiksi seperti kumpulan cerita pendek, novel, dongeng, dan kumpulan (antologi) puisi dan buku nonfiksi seperti buku pelajaran.

Melalui program tersebut diharapkan tumbuh kecintaan terhadap buku, apalagi buku sering dikatakan sebagai jendela dunia. Buku menjadi teman setia bagi siswa sebagaimana pepatah mengatakan. Khairu jaliisin fi az-zamaanin kitaabun, sebaik-baik teman duduk setiap waktu adalah buku.

Selain itu, melalui program tersebut diharapkan setiap siswa dapat bertukar buku bacaan dengan siswanya. Bahkan siswa dapat menerangkan hasil bacaannya di depan kelas hal itu dapat melatih keberanian dalam berbicara dan secara tidak langsung siswa dilatih mengenai keterampilan berbahasa. Ke depannya, para siswa memiliki perpustakan sendiri di rumahnya masing-masing.

Ketiga, Membaca Buku 10 menit sebelum Belajar dimulai

Program membaca 10 menit di kelas merupakan program untuk meningkatkan minat dan daya baca siswa. Pembiasaan tersebut harus dilakukan sejak dini, jika siswa dibiasakan untuk gemar membaca, hal itu diharapkan ketika mereka mengeyam pendidikan selanjutnya dapat meneruskan kebiasaan membacanya. 

Menurut Muhibbin Syah (2000:123) belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positf dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu arti tepat dan positif di atas ialah selaras dengan norma dan tat nilai moral yang berlaku baik yang bersifat religious maupun tradisional dan kultural.

Keempat, Kunjungan ke Perpustakaan dan Taman Baca

Untuk menambah pengetahuan, siswa harus terbiasa meluangkan waktu mengunjungi perpustakaan. Di perpustakaan, para siswa dapat mencari informasi mengenai materi pelajaran atau pun peningkatan pengetahuan dan melatih imajinasi dengan membaca buku fiksi.

Kunjungan ke perpustakaan baik yang berada di sekolah maupun melalui program wisata edukasi ke perpustakaan nasional atau pun daerah akan menumbuhkan motivasi untuk meningkatkan minat baca siswa. Selain itu, di perpustakaan, para siswa dapat mengerjakan tugas serta menulis berbagai hal secara sederhana. 

Selain itu, siswa dapat mengisi waktu di luar sekolah dengan mengunjungi taman baca yang dekat dengan rumahnya. Di taman baca, para siswa dapat menambah wawasan dengan membaca, berdiskusi, bedah buku, serta menulis gagasan/ide dari hasil bacaan tersebut.

Kelima, Ruang Inspirasi

Ruang inspirasi ini difokuskan pada bagaimana siswa dapat mengekspresikan diri dalam menulis puisi, menggambar, dan menulis opini. Sehingga ruang tersebut dapat mendorong kreativitas siswa dalam bidang menulis.

Keterampilan menulis erat kaitannya dengan membaca. Untuk itu, perlu dilakukan secara berkesinambungan. Menulis merupakan kegiatan menyalurkan ide, gagasan, pemikiran, atau pun keluhan melalui tulisan. Kartono (Hartawan, dkk, 2015) mengartikan menulis merupakan kegiatan menuangkan pikiran dan menyampaikan kepada pembaca. Oleh sebab itu, siswa diharapkan mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan sehingga menghasilkan tulisan yang menarik. Namun, untuk meningkatkan kemampuan menulis pada kegiatan pembelajaran, guru perlu melakukan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Keenam, Optimalisasi Majalah Dinding

Salah satu ruang kreatif di sekolah untuk meningkatkan minat membaca dan menulis adalah majalah dinding. Melalui majalah dinding para siswa dapat menuangkan ide/gagasan, perasaan, serta masukan yang ditempel oleh pengelola mading. Dengan demikian, majalah dinding memiliki fungsi mendorong minat membaca dan menulis di kalangan siswa.

Agar majalah dinding dapat menarik minat baca, maka perlu pengelolaan yang baik oleh Pengurus OSIS dengan dibimbing guru bahasa. Misalnya konten tulisan dari siswa disesuaikan momen peristiwa, satu pekan sekali isi mading diganti, rubrikasi mading beragam seperti; opini, karya sastra, poster, dan lain sebagainya.

Ketujuh, Keteladanan

Keteladanan menjadi kata kunci kesuksesan pada program literasi disekolah/madrasah. Keteladanan ini dapat dilakukan misalnya kita melahirkan karya berupa tulisan yan dapat dibaca oleh siswa dan mereka dapat belajar dari tulisan-tulisan yang disajikan oleh gurunya. Dengan mengedapankan keteladanan, pendidik dapat menjadi tokoh idola bagi para peserta didiknya, karena mendidik dengan perbuatan (tingkah laku) lebih efektif dari pada mendidik hanya sekadar ucapan.

 

Epilog

Meningkatkan literasi baca-tulis tentu tidak seindah kata-kata namun perlu aksi nyata agar literasi di lingkungan lembaga pendidikan dapat membumi. Sebagai pendidik, tentu memiliki sebuah ekspektasi (harapan) agar minat baca-tulis ini dapat menggeliat terutama di sekolah di mana penulis mengabdikan diri.

Untuk menggapai harapan itu, alangkah indahnya jika terwujud suatu komitmen yang kuat         bahwa literasi baca-tulis adalah kebutuhan. Ibarat tubuh kita yang membutuhkan asupan gizi, maka pikiran kita pun perlu asupan salah satunya yaitu dengan membaca. Setumpuk program dan lain sebagainya, jika minat baca-tulis di sekolah/madrasah rendah tentu tidak akan berbanding lurus dengan tujuan yang ingin dicapai.

Sejatinya masih banyak langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan minat membaca dan menulis di sekolah/madrasah. Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi setitik pencerahan untuk meningkatkan literasi di sekolah/madrasah. 

Ada sebuah ekspektasi, bahwa geliat literasi membumi bukan lagi sebuah isapan jempol namun sebuah realita yang tampak di tengah-tengah kehidupan terutama di sekolah/madrasah sebagai laboratorium pengkaderan generasi muda Indonesia. Sejatinya generasi muda hari ini adalah pemimpin hari esok. Mengakhiri tulisan ini penulis teringat nasihat Imam Syafi’i, artinya: “Ilmu adalah buruan dan buku adalah pengikatnya.” Wallahu a’lam.

 

Penulis Dadan Saepudin, M.Pd.

Ketua 1 DPD Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia Kabupaten Bandung Barat

Editor : Nunik


Dibaca: 40 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter