Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua

Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua

Oleh : Sri Mulyati, S.Ag (Penyuluh Agama Budha Kankemenag Kota Bekasi

Namo Buddhaya, Sebagai seorang anak, kita mempunyai kewajiban untuk membahagiakan orang tua dan berbakti kepadanya. Dalam Anguttara Nikaya11,4 Sang Buddha bersabda: terdapat empat lapangan yang utama untuk menanam jasa kebajikan, yang pertama adalah para Buddha, yang kedua adalah para Arahat, yang ketiga adalah ibu dan terakhir adalah ayah.

Barang siapa yang telah memperlakukan dengan baik, ibu, ayah dan Samsammbuddha, Sang Tathagata serta para pengikutnya, sebenarnya telah menimbun banyak bibit kebajikan. Karena siapapun yang berbuat bajik kepada orang tuanya dalam hidup ini, akan dipuji oleh para bijaksana, dan dalam kelahiran-kelahiran selanjutnya ia akan hidup di berbahagia di alam-alam surga. (Anguttara Nikaya 11, 4).

Di dalam Sigalovada sutta tertera: “Dengan lima cara seorang anak memperlakukan orang tuanya sebagai arah timur:

1.    Dahulu aku telah dipelihara / dibesarkan oleh mereka, sekarang aku akan menyokong mereka, sekarang aku akan menyokong mereka.

2.    Aku akan melakukan tugas-tugas kewajibanku terhadap mereka.

3.    Aku akan menjaga baik-baik garis keturunan dan tradisi keluarga.

4.    Aku akan membuat diriku pantas untuk menerima warisan.

5.    Aku akan mengurus persembahyangan kepada sanak keluargaku yang telah meninggal dunia.” (Digha Nikaya 111, 189).

Seorang anak yang baik akan mengurus persembahyangan kepada sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Yang dimaksut disini adalah melakukan pattidana. Anak yang biak akan banyak melakukan perbuatan jasa, misalnya, mempersembahkan makanan, jubah, obat-obatan kepada anggota Sangha; Banyak berdana kepada korban bencana alam, anak yatim piatu, para tuna netra atau orang jompo; Melepaskan binatang-binatang yang akan mati disembelih; Mencetak buku-buku Dhamma yang kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan; Berdana untuk pembangunan atau pemeliharaan viahara dan Bermeditasi dan lain sebagainya.Menurut Sang Buddha di dalam dunia ini terdapat dua orang yang tidak dapat dibayar lunas jasa-jasa baiknya, yaitu ibu dan ayah. Meskipun seseorang memanggul ibu dan ayahnya diatas kedua bahunya sampai 100 tahun lamanya, memberikan tunjangan kepada ibu dan ayahnya, membalur tubuh mereka dengan obat gosok, memijit, membersihkan dan mengurut kaki mereka, dan kadang-kadang mereka mengotorinya dengan air seni dan tinja, ia tetap tidak dapat membayar lunas jasa-jasa kebaikan orang tuanya.

Selanjutnya, meskipun ia menempatkan orang tuanya menjadi pejabat tinggi, menjadi seorang yang sangat kaya dan berkuasa, ia tetap belum dapat membayar lunas jasa-jasa kebaikan orang tuanya. Karena orang tua telah berbuat banyak sekali kepada anak, yaitu membesarkan, memberi makan, mendidik dan memperkenalkan dunia luar kepada anak mereka.

Apabila ada anak yang dapat mendorong orang tuanya yang tidak memiliki keyakinan, agar memiliki dan mengembangkan keyakinannya terhadap Dhamma; apabila ada anak yang dapat mendorong orang tuanya yang tidak bermoral, agar memiliki dan mengembangkan moral sesuai dengan Dhamma; apabila ada anak yang dapat mempengaruhi orang tuanya yang sangat kikir, agar memiliki dan mengembangkan sikap murah hati; apabila ada anak yang mendorong orang tuanya yang bodoh dan dungu, agar memiliki dan mengembangkan kebijaksanaan, dengan berbuat demikian, barulah dia dapat membayar lunas jasa-jasa kebaikan orang tuanya, bahkan lebih daripada itu. (Anguttara Nikaya 1, 61).

Semoga kita dapat melaksanakan dengan baik apa yang menjadi kewajiban kita terhadap orang tua, merawat, menjaga mereka seperti yang telah dilakukan beliau terhadap kita.


Dibaca: 4.567 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter