Guru dan Teknologi

Guru dan Teknologi

Tantangan bagi seorang guru kian hari tidak semakin mudah. Bila kita cermati fenomena kini, tampak ada pergeseran peran yang mesti disikapi serius oleh guru. Hal itu menyangkut peran guru sebagai pengajar khususnya. Mengapa demikian?

Tak bisa kita sangkal bahwa pengetahuan apa pun saat ini akan dengan mudah didapat lewat kemajuan teknologi. Jauh berbeda kenyataan ini bila dibandingkan dengan ketika guru-guru masa kini menjadi siswa, dahulu. Guru saat itu bisa dikatakan menjadi sumber belajar yang dominan, bahkan mungkin satu-satunya. Tugas dan peran guru sangat sentral kala itu. 

"Jika sekarang butuh pengetahuan, tak perlu guru."  Sebuah pemeo yang jujur era ini bila sekadar otak yang menjadi orientasinya bagi siswa. Pernyataan yang tak begitu keliru bila kita merasakan begitu melimpahnya ketersedian pengetahuan di dunia maya (internet). Namun, mari kita berpikir secara jelah akan kehadiran sosok guru bagi siswa. 

Saya --dan Anda-- pasti setuju, bahwa keberadaan dan peran guru sampai saat ini --bahkan mungkin selamanya,  belum tergantikan. Kehadirannya tetap diperlukan meskipun kini memasuki era digital, saat informasi begitu deras membanjiri sisi-sisi kehidupan manusia. Teknologi sebagai anak kandung yang lahir dari rahim era ini telah mengubah paradigma orang. Realita itu pula yang telah melenyapkan beberapa profesi karena tergantikan oleh keberadaan teknologi yang makin tumbuh-subur dan berkembang pesat. Namun, tidak untuk profesi guru.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa dapat diraih melalui pembelajaran dengan kondisi dan situasi apa pun dari pelbagai sumber. Orientasinya adalah kecerdasan intelektual (otak). Saat ini sumber itu beragam jenisnya serta dapat dilakukan tanpa terbatasi ruang dan waktu. Para siswa mudah melakukannya.

Sejatinya, pendidikan adalah penanaman nilai-nilai luhung yang berorientasi pada optimalisasi nilai-nilai kemanusiaan. Sedangkan pengajaran merupakan proses optimalisasi otak manusia sebagai sumber berpikir dan bertindak. Untuk melakukan keseimbangan dua hal tersebut manusia perlu pengajaran dan bimbingan. Ya, di sinilah peran guru sesungguhnya. Aksi-aksinya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, penyuluh, dan teladan. 

Ada sesuatu hal yang tak didapat manusia dari mesin secanggih apa pun dalam menjalani proses kehidupannya. Itu berbentuk sentuhan kasih sayang serta keteladanan yang menjadi sebab kesadaran sebagai makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain (homo social). Pemahaman akan hal tersebut, salah satunya didapat dari seorang guru.

Era kini, dunia tak lagi bersekat, sehingga berpengaruh besar terhadap main set generasi kini. Namun, kebutuhan akan kasih-sayang sebagai sebuah sentuhan sifat manusia tak akan didapat dari sebuah mesin. Manusia perlu manusia lainnya. Tanggung jawab itu melekat-erat pada sosok seorang pendidik, guru.

Mendengar kata “guru”, bagi saya, tergambarkan sosok yang penuh karisma karena keluasan ilmunya dan keluhungan budinya. Kesadaran itu tidak sepenuhnya muncul saat sedang menjadi siswa tingkat dasar dan menengah. Namun, justru muncul lebih kuat tatkala saya (belajar) menjadi seorang guru. Beberapa kejadian kembali membuat saya paham betapa peliknya para guru saat itu mendidik dan mengajari saya agar layak menyandang gelar sebagai makhluk sempurna sebagaimana ditakdirkan Sang Mahakuasa.  

Ada sebuah paradoks yang menggelitik perihal pola didikan guru-guru dulu yang begitu melekat-erat pada pikiran generasi tua kini. Mengapa bisa demikian? Otak saya terus membandingkan, khususnya dengan saya secara pribadi. Ternyata beberapa hal ini yang saya kira menjadi pembedanya.

Pertama, menjadi guru adalah sebuah kerja pengabdian. Etos kerja mereka adalah kasih-sayang untuk menjalankan kemaslahatan melalui penyebaran ilmu pengetahuan. 

Kedua, menjadi guru berawal dari perencanaan yang matang. Saat guru-guru masa kini dengan tuntutan gelar sarjana, tetapi diperbolehkan berasal dari lulusan pendidikan menengah apa pun (SMA, SMK, MA). Bahkan, di negara kita ini, siapa pun asal bergelar sarjana dan memenuhi kelayakan, berhak menjadi guru. 

Namun, dulu sebelum tahun ‘90-an, guru adalah sebuah pekerjaan yang berasal dari lulusan SGA, SGB, SPG, SGO, dan PGA melalui seleksi yang ketat secara fisik dan psikis. Jadi, sejak awal muncul sifat kedewasaan dari seseorang,  sudah jelas menentukan pilihan menjadi seorang guru dengan konsekuensi yang jelas pula.

Ketiga, faktor keikhlasan menjalani pekerjaan sebagai seorang guru. Faktor ini berdampak signifikan bagi penanaman nilai-nilai kemanusiaan yang didasari nilai agama dan budaya bangsa lewat keteladanan dalam bersikap. 

Hal-hal tersebut itulah tampaknya yang melekat kuat pada pikiran saya. Disadari atau tidak, patut kiranya hal-hal tersebut dijadikan bahan komparasi bagi guru masa kini yang secara gelar pendidikan dan (mungkin) penghasilan lebih baik daripada guru-guru dahulu. 

Ada kekuatan iktikad yang melandasi pekerjaannya. Mereka melimpah dengan kasih sayang dan keteladanan yang tak dimiliki oleh mesin secanggih apa pun. Mereka memiliki karismatik bagi investasi generasi selanjutnya. Sangat wajar bila kedudukan mereka sepadan dengan orang-orang yang sepatutnya kita muliakan, sehingga pepatah mengatakan, “guru ratu wongatua karo”. ***


Kontributor : Ruhiman


Dibaca: 149 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter