Dharma Wacana : Aplikasi Catur Warna Dalam Keseharian

Dharma Wacana : Aplikasi Catur Warna Dalam Keseharian

Bekasi (Inmas Kota Bekasi)

Dalam rangka Pemujaan Hari Suci Purnama Sasih Kasanga, yang bertepatan pula dengan Hari Suci Anggara Kasih Wuku Tambir dan Hari Suci Kajeng Kliwon Enyitan, Selasa (19/2) Penyuluh Agama Hindu Kota Bekasi, I Wayan Sudarma memberikan Siraman Rohani berupa Dharma Wacana di hadapan Umat Hindu yang melaksanakan Persembahyangan Umum.

Adapun tema yang diangkat oleh Wayan adalah Aplikasi Ajaran Catur Warna Dalam Keseharian. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa salah satu Ajaran Agama Hindu ada yang dikenal dengan nama Catur Warna, yakni empat kualifikasi profesi yang didasarkan atas kualitas guna dan dharma.

Wayan menyampaikan bahwa nilai-nilai Ajaran Catur Warna ini telah banyak dimaknai secara keliru menjadi Wangsa (Klan) dan Kasta (Kelas Sosial), sehingga sering menimbulkan pandangan dan pemahaman negatif terhadap kemuliaan ajaran Catur Warna ini.

Umat Hindu sudah sepatutnya tidak mengkotak-kotakkan ajaran ini secara farsial, namun mesti mendekatkan dan melekatkannya dalam tiap insan umat Hindu.

Pertama Umat Hindu memiliki kewajiban untuk menjadikan dirinya sebagai Brahmana, yaitu pribadi-pribadi yang taat beragama, mempelajari, mendalami dan memahami ajaran Hindu dengan baik, senantiasa menjadi sumber inspirasi kerohanian dan spiritual bagi dirinya, anak-anak, istri dan suami. Dengan demikian keluarga akan menjadi sumber pertama dan utama bagi anggota keluarga untuk belajar agama. Brahmana bukan saja menjadi tugas dan tanggung jawab para Pandita, Pinandita, Guru Agama dan Ahli Agama semata.

Kedua, Warna sebagai Ksatria memiliki pesan bahwa umat Hindu dimanapun berada dan dengan siapapun berinteraksi wajib hukumnya untuk menjadikan dirinya seorang ksatria yaitu memberikan rasa aman dan nyaman, memberikan rasa teduh, dan damai kepada siapa saja. Ksatria bukan saja menjadi tanggung jawab anggota TNI dan Polri saja. Umat Hindu harus hadir menjadi problem solving dan bukan problem maker, menghindarkan diri dari perbuatan melanggar hukum seperti menyebarkan berita hoax, fitnah, dan sikap intoleran. Inilah makna menjadi ksatria tegasnya.

Kemudian Wayan menjelaskan Warna yang ke tiga, yaitu Warna Waisya, dimana umat Hindu memiliki tanggung jawab untuk memberikan jaminan asupan penghidupan pangan, sandang dan papan bagi pribadi dan keluarganya berlandaskan dharma (kebenaran), dan tidak mencari sumber penghidupan melalui tindakan-tindakan korupsi, merampas, merampok, menipu dan lain sebagainya. Waisya juga mengajak umat Hindu untuk terus mengembangkan sikap empati, welas asih, rasa kemanusiaan dan suka menolong mereka yang sedang kesusahan secara ekonomi. Jadi Waisya bukan saja milik mereka yang menjadi Pengusaha dan Kaum Ekonom.

Lalu Wayan melanjutkan Dharma Wacananya dengan penjelasa Warna yang terakhir yaitu: Sudra. Menurut Wayan, Sudra bukan berarti Kaum Buruh, Pekerja Kasar. Namun Sudra memiliki makna sebagai Pengabdi dan Pelayan. Melaksanakan pengabdian dan pelayanan dengan penuh welas asih berdasarkan Dharma merupakan esensi utama ajaran Hindu, hal ini dipertegas oleh Sabda Suci Veda: "Manava Seva Madhava Seva", bahwa melayani orang lain dengan penuh welas asih sesungguhnya adalah pemujaan kepada Tuhan. Dengan demikian memerankan diri sebagai Sudra justru akan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan umat Hindu.

Sebagai penutup Wayan mengajak umat yang hadir untuk dapat hidup rukun dengan siapa saja, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna, hanya melalui kerukunanlah kehidupan harmoni akan dapat diwujudkan dan dengan mempraktekkan ajaran Catur Warna dalam keseharian, umat Hindu dimungkinkan untuk tumbuh menjadi insan-insan yang berakhlak mulai. Pungkasnya.

 

Kontributor : I Wayan Sudarma


Dibaca: 11.113 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter