Bimbingan Pra-nikah, Kakankemenag Kaji Undang – Undang Perkawinan

Bimbingan Pra-nikah, Kakankemenag Kaji Undang – Undang Perkawinan

Awipari (INMAS Kota Tasikmalaya) Kepala Kantor Kemenag Kota Tasikmalaya, H.M. Ali Latief hadir sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Pra Nikah Remaja Usia Sekolah. Dihadapan 30 orang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Tasikmalaya yang juga santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum KH. Bustomi, ia sampaikan paparannya tentang fiqih munakahat atau fikih pernikahan.

“Berbicara tentang fiqih munakahat,Bapak yakin, di era digital dimana informasi sangat mudah didapat, akang-teteh sudah mendapatkan banyak ilmu mengenai hal ini”, ujarnya.

Terlebih, sebagai santri tentu mendapat kajian kitab uqudulujain yang bisa menjadi bekal nanti mengarungi bahtera pernikahan, dipelajari saja dulu sekarang  tapi prakteknya  nanti lima atau 6 tahun kemudian, sambungnya yang direspon dengan tawa peserta.

Kakankemenag ingatkan para peserta untuk bersyukur karena hidup di negara indonesia yang begitu  mengayomi kehidupan warganya, bukan hanya masalah pendidikan, ekonomi dan bidang lainnya sampai ke masalah perkawinan. Hal ini diwujudkan dengan adanya payung hukum yaitu Undang – Undang Republik Indonesia No 1 tahun 1974.

Jika dikaji maka jelas dasar perkawinan menurut UU no 1 tahun 1974 yang disebut  perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini menurut H. Ali menegaskan bahwa di negara kita tidak diakui pernikahan dalam bentuk lain, misalnya pernikahan LGBT, pria menikahi pria ataupun wanita menikah dengan sesama wanita.

“Selain perkawinan LGBT ada juga perkawinan lain yang dilarang seperti  perkawinan diantara dua orang yang berhubungan darah dalan garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas, seperti ayah menikahi anak, atau berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara.

Menurut Kakankemenag dalam undang – undang tersebut sangat lengkap da detail terkait perkawinan karenanya perlu dipelajari atau setidaknya dibaca sebagai bekal. Selain wawasan dan ilmu pengetahuan sangat penting juga dimiliki oleh calon pengantin adalah kesiapan mental. Kondisinya akan sangat berbeda yang biasanya hanya mengurus diri sendiri setelah menikah ada pasangan hidup.

“Jika tidak siap mental maka akan sulit mengarungi bahtera pernikahan seperti yang diimpikan”, tandasnya.

Terakhir pria yang sudah memiliki 1 orang cucu ini berpesan agar pernikahan langgeng ingatlah akan tujuan pernikahan yaitu bersama – sama mencari rido Alloh. Agama islam jelas menerangkan bahwa menikah itu separuh dari agama. Menunjukan bahwa apa yang kita dan pasangan lakukan di dalam pernikahan selama tidak keluar dari ajaran agama, dengan niat ikhlas akan dinilai sebagai ibadah.

“Semoga dngan bekal pengetahuan dan mental yang siap, kita bisa memiliki pernikahan yang indah, sakinah mawaddah, warrohmah”, harapnya.

Kontributor : Yeni Rohayati



Dibaca: 15 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter