Bencana dalam Perspektif Islam

Bencana dalam Perspektif Islam

Oleh: Rudi Sharudin Ahmad, M.Ag.


(Penyuluh Agama Islam Fungsional Kabupaten Cirebon Jawa Barat, Alumni Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Pascasarjana (IAT) UIN Walisongo Semarang)


Musibah menjadi persoalan yang pelik terjadi di bumi Indonesia saat ini. Dari mulai kecelakaan transportasi udara, bencana alam berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain sebagainya. Bencana tersebut tidak sedikit mengakibatkan rusaknya sarana prasarana umum, pemukiman warga dan bahkan merenggut jiwa.


Dalam menangani situasi demikian sebenarnya dapat dilihat dari berbagai macam pendekatan, tidak hanya pendekatan ekonomi, psikologi, atau politik, melainkan dapat juga dilihat dari cara pandang teologis (red:agama). Terlebih, Islam sebagai agama yang menawarkan solusi komprehensif dan diyakini sebagai inspirasi dalam menghadapi segala persoalan kehidupan termasuk dalam menghadapi bencana.


Al-Qur’an menggunakan istilah bencana dengan beberapa term dan memiliki aksentuasi arti yang berbeda. Misal, al-Qur’an menggunakan istilah mushîbah yang kurang lebih terulang sepuluh kali. Ada juga term balâ yang terulang enam kali dan term fitnah yang disebutkan sebanyak 30 kali. Dari semua 3 term tersebut harus dipahami secara komprehensif-tematik agar mendapatkan maksud dari hakikat bencana dan pesan moral dibalik terjadinya bencana. 


Al-Qur’an banyak menceritakan berbagai peristiwa bencana yang menimpa baik umat terdahulu maupun umat nabi Muhammad SAW. Pada umumnya, bencana tersebut ditimpakan kepada orang-orang kafir yang membangkang dan melakukan pelanggaran. Diantaranya, membunuh para nabi, mendustakan rasul, ingkar terhadap ayat-ayat Allah, dsb. Beberapa bencana yang terjadi; Banjir bandang yang menimpa kaum Nabi Nuh (Q.S al-Mu’minun: 27), hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth (Q.S al- ‘Araf:84), angin topan yang melanda orang kafir pada saat perang Khandak (Q.S al-Ahzab: 9), dan bencana-bencana lainnya. 


Sebagaimana term lazim yang telah disebutkan oleh al-Qur’an (mushîbah, balâ, fitnah) masing-masing kata memiliki relasi semantis yang kuat. Pertama, kata mushîbah. Kata mushîbah berasal dari kata ashâba-yushîbu-ishâbatan bermakna sesuatu yang menimpa. Sedangkan kata dasar ashâba yaitu shâba, berasal dari kata shawaba memiliki makna benar atau tepat. Dari kata tersebut agaknya memberi kesan bahwa musibah merupakan sesuatu yang menimpa sasaran dengan tepat. Di sisi lain kata shâba bisa juga berarti sesuatu yang turun secara terus menerus. Hal tersebut mengapa kata al-Shawb dalam bahasa Arab yaitu hujan lebat yang turun secara terus menerus dan al-Sayyab yaitu awan yang berpotensi menurunkan hujan yang lebat sebagaimana yang tertera dalam Q.S al-Baqarah: 19. 


Kata term mushîbah telah menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia. Kata musibah dalam KBBI yaitu kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa. Atas dasar demikian, agaknya arti kata mushîbah dalam al-Qur’an relatif sama dengan pengertian musibah pada bahasa Indonesia. Dengan begitu, term mushîbah dalam pengertian al-Qur’an berhubungan dengan berbagai macam peristiwa menyedihkan yang menimpa manusia, baik mukmin, kafir ataupun munafik. Meski demikian, musibah tidak akan terjadi melainkan atas kehendak Allah SWT, meski manusia juga ikut terlibat dalam mengundang datangnya musibah selama tidak berperilaku ramah pada lingkungan (Q.S Ar-Rûm:41).


Kedua, kata balâ berasal dari kata balâ-yablû-balwan- wa balâ’an yang berarti menguji, rusak, sedih dan tampak jelas. Kata balâ bentuk jamaknya adalah balâyâ dengan segala derivasinya dalam al-Qur’an sebanyak 33 kali. Masing-masing makna dasar tersebut memiliki relasi semantis yang sangat erat. Sebagaimana kata balâ yang bermakna ujian, Allah SWT sengaja menimpakan ujian kepada manusia untuk mengetahui objek yang diuji. Sebagaimana yang tertulis dalam Q.S al-Baqarah: 155: 


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”


Al-Qur’an menggunakan kata balâ pada dua macam. Balâ dalam hal keterpurukan dan balâ dalam hal kenikmatan/menyenangkan. Sebagai contoh pada Q.S Al-Baqarah ayat 155 merupakan ujian berupa hal yang tidak menyenangkan. Pada ayat yang lain, kisah nabi Ibrahim a.s, Allah SWT juga mengujinya dengan hal yang tidak menyenangkan yaitu menyembelih anaknya, Islail a.s (Q.S al-Shaffat: 104-106). Kisah nabi Musa a.s yang diuji Allah dengan adanya Fir’aun yang kejam (al-Baqarah:49, al- ‘Araf:141). Selain itu Allah juga menguji hambanya dalam hal kenikmatan atau menyenangkan. Misal dalam kisah nabi Sulaiman a.s yang diberikan harta yang berlimpah dan mamu berbicara dengan hewan (Q.S al-Anfal :40), ujian kemenangan umat Islam pada saat perang Badar dengan (balâan hasanan: Q.S al-Anfal ayat 17), dll. 


Ketiga kata fitnah. Dalam bahasa sehari-hari kata fitnah berbeda dengan makna yang dimaksudkan dalam al-Qur’an. Kata fitnah dalam bahasa KBBI berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Sedangkan dalam al-Qur’an kata fitnah lebih dekat dengan arti balâ yaitu ujian/cobaan. Sebagaimana Allah menguji Ibu nabi Musa a.s: 


ۚ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَٰكَ مِنَ ٱلْغَمِّ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونًا ۚ فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِىٓ أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَٰمُوسَىٰ


Artinya: “… Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.” (Q.S Thaha:40)


Bencana yang menggunakan frasa fitnah dapat terjadi oleh sebab ulah perilaku manusia. Misal, pada Q.S al-Taubah: 49. Kisah orang munafik yang meminta izin untuk tidak ikut berperang bersama Rasulullah karena takut, akan tetapi mereka justru mendapat bencana (fitnah). Dari ayat tersebut mengisyaratkan bahwa bencana yang menimpa kepada manusia tidak semata-mata hanya kehendak Allah secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas, akan tetapi disebabkan oleh perilaku manusia yang menyebabkan Allah murka dan memberikan bencana. Oleh karen itu, hendaknya sebagai manusia mampu menjaga perilaku yang dapat merugikan manusia dan lingkungan sekitar agar terhindar dari murka dan azab Allah.


Singkat kata, bencana yang terjadi merupakan ‘design’ Allah dan tidak akan terjadi tanpa kehendakNya (Q.S al-Hadid: 22). Akan tetapi sebagai manusia yang diperintahkan untuk terus berikhtiar harus tetap menjaga dan berhati-hati berperilaku yang dapat mengundang bencana dengan banyak berbuat baik dan beristighfar kepada Allah SWT.


Wallahu ‘Alam bi al-Shawab


 


Editor : Nunik


Dibaca: 47 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter