Bagaimana Cara Menegur Yang Baik?

Bagaimana Cara Menegur Yang Baik?

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Pasti kesal ya, kalau apa yang kita harapkan nyatanya tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Seketika tiba-tiba saja emosi mendadak ingin unjuk diri. Tapi, benarkah dengan cara seperti itu? Cara apakah yang palng elegan untuk menegur seseorang ntah itu anak, murid, rekan kerja ataupun kolega hingga atasan sekalipun?  Adakah cara-cara jitu yang dapat kita lakukan dengan tetap menjaga etika kesantunan.

Alih-alih mendahulukan emosi, bukannya menyelesaikan masalah yang ada justru semakin merunyamkan masalah. Kesal, emosi adalah al yang lumrah dan wajar. Juga sangat manusiawi. Tentu saja hal ini terjadi karena apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang kita dapatkan.

Hal semacam ini tentu pernah atau bahkan sering kita alami dan jumpai. Tentu anda juga pernah melihat kejadian seperti ini baik itu secara langsung maupun melalui grup-grup pesan berbayar yang ada di media sosial.

Saya jadi ingat dengan sebuah nasihat bijak yang pernah saya baca di beberapa waktu yang lalu. Jika kita ingin menegur seseorang, baiknya tidak dimuka umum. Baik itu muka umum secara biasa maupun muka umum secara virtual (baca : misalnya di dalam WAG). Tapi jika kau ingin memuji seseorang baiknya lakukakanlah di depan khalayak. Mengapa demikian?

Menegur seseorang identik dengan kesalahan dan kekhilafan yang dibuatnya. Yang namanya kesalahan tentu adalah hal yang lumrah dan wajar bagi setiap manusia. Namun sebaiknya, kita menegurnya dengan santun dan secara pribadi. Tidak perlu orang lain tahu dengan teguran yang telah kita lakukan.

Menjaga perasaan hati orang lain tentu adalah sebuah kewajiban bagi kita sesama manusia. Seandainya kita ada dalam posisi yang sama, tentu kita juga tidak ingin diberlakukan hal serupa. Atau bisa jadi apa yang menurut kita salah, belum tentu memang salah. Bisa jadi kita sebagai orang yang akan mengurasinya, justru kita yang tidak tahu.

Jadi, niat menengur untuk membetulakan satu hal, baiknya secara pribadi. Selain menjaga perasaan dan hati orang lain, bisa juga menjaga diri kita sendiri. Bisa jadi kitalah pihak yang belum memahami. Jika memang hal semacam ini yang terjadi, justru kita lah pihak penengur yang salah.

Bagaimana dengan memuji? Jika ingin memuji, ada baiknya lakukan di depan khalayak. Pujian atau penguatan yang kita berikan tentunya sebagaai wujud apresiasi dan penghargaan yang kita berikan kepada orang lain. Baik itu yang sifatnya ada di bawah umur kita, seusia ataupun dengan mereka yang ada juah diatas usia kita.

Penguatan atau sanjungan yang kita berikan, juga akan dapat memotivasi pihak lain untuk bisa berkarya yang sama. Memotivasi orang lain juga untuk bisa melakukan hal baik lainnya seperti yang telah dilakukan oleh orang yang kita puji. Dan tentunya, apresiasi yang kita berikan menecermnkan kebesaran hati kita untuk mau dan tulus mengakui kebesaran orang lain.

Tidak perlu malu untuk melakukan nilai kebajikan bagi orang lain. Mengakui kebesaran dan kelebihan orang lain, sama sekali tidak akan mengurangi nilai kita di hadapan orang lain, terlebih di hadapan Yang Maha Kuasa.

Penguatan atau apresiasi yang diberikan oleh orang yang berada di atas usia kita, justru menunjukan kebesaran hatinya. Pujian atau sanjungan yang kita berikan untuk pihak lain, sama sekali tidak akan mengurangi yang telah ada dalam diri kita.

Sebagai seorang guru, justru nilai baik tersebut akan ditiru dan diikuti oleh murid. Segala tindak tanduk dan tingkah polah guru akan diikuti oleh muridnya. Menegur atau mengoreksi murid sebaiknya tetap kita lakukan dengan penuh kasih sayang.

Tidak perlu dengan menegangkan urat leher. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Insya Allah murid pun akan memahmi kesalahan yang telah dilakukannnya. Demikian halnya dengan etika dalam bermedia sosial.

Menegur dengan halus secara pribadi akan jauh terkesan lebih elegan. Bukan dengan cara menegur di muka umum, yang kesannya hanya ingin mempermalukan semata. Lalu, apakah sebagai orang tua kita tak pernah salah?

Mau muda atau tua tetap sama saja. Manusiawi melakukan sebuah kesalahan. Walau kita sebagai manusia biasa pun tetap bersaha menghindari sebuah kesalahan. Pun halnya dengan kita sebagai orang tua. Tak ada salahnya untuk meminta maaf terlebih dahulu akan kesalahan yang kita buat.

Meminta maaf dan memaafkan adalah dua hal mulia yang sama baiknya. Mari bersama kita saling menundukkan kepala, mempererat genggaman tangan untuk saling menguatkan. Tinggalkan aku, kamu atau dia yang ada hanya kita. Bersama yakin kita akan bisa. Salam sehat, damai dan berkah penuh dengan limpahan kasih dan sayang-Nya semoga terus membersamai kita dalam semangat menebar kebaikan. Gusti mberkahi.

 


Dibaca: 71 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter