A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: dibaca

Filename: controllers/News.php

Line Number: 542

Backtrace:

File: /home/jabar/public_html/application/controllers/News.php
Line: 542
Function: _error_handler

File: /home/jabar/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Merawat Tradisi, Membangun Negeri: Kontribusi Penyuluh Agama di Usia Ke-544 Kabupaten Cirebon

Pencarian

>

Merawat Tradisi, Membangun Negeri: Kontribusi Penyuluh Agama di Usia Ke-544 Kabupaten Cirebon

Oleh: Maman (Penyuluh Agama Islam KUA Plumbon)

Kabupaten Cirebon yang kini memasuki usia ke-544 bukan sekadar angka historis, melainkan simbol panjangnya perjalanan peradaban yang dibangun atas nilai budaya dan religiusitas. Sejak masa dakwah para wali, terutama Sunan Gunung Jati, Cirebon dikenal sebagai wilayah yang memadukan kearifan lokal dengan ajaran Islam. Tradisi seperti ziarah, sedekah bumi, dan gotong royong menjadi identitas yang terus hidup. Dalam konteks ini, penyuluh agama Islam hadir sebagai penjaga nilai sekaligus penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat.

Secara definisi, penyuluh agama adalah ujung tombak Kementerian Agama dalam membimbing umat melalui pendekatan edukatif, persuasif, dan humanis. Peran ini tidak hanya sebatas ceramah, melainkan juga mencakup pendampingan sosial, penguatan moderasi beragama, hingga pemberdayaan masyarakat. Di KUA Plumbon, kiprah penyuluh agama tampak nyata dalam membina keluarga sakinah, mengedukasi generasi muda, serta merawat harmoni kehidupan beragama yang selaras dengan semangat pembangunan daerah.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya peran dakwah dalam membangun masyarakat yang beradab. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik....” Ayat ini menjadi landasan utama bagi penyuluh agama dalam menjalankan tugasnya. Tokoh nasional seperti K.H. Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa dakwah harus berakar pada akhlak dan kearifan lokal agar mampu diterima oleh masyarakat luas.

Dalam perspektif budaya lokal Cirebon, nilai eling lan waspada (ingat dan waspada) serta tepa selira (tenggang rasa) menjadi prinsip hidup yang sejalan dengan ajaran Islam. Penyuluh agama berperan penting dalam merawat nilai-nilai ini agar tidak luntur di tengah arus modernisasi. Melalui pendekatan budaya, dakwah menjadi lebih membumi dan mudah diterima, sehingga mampu memperkuat identitas masyarakat sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, di usia ke-544 Kabupaten Cirebon, peran penyuluh agama semakin strategis sebagai penjaga tradisi sekaligus agen pembangunan. Mereka tidak hanya merawat warisan nilai, melainkan juga membangun masa depan masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya. Sinergi antara budaya, agama, dan pembangunan menjadi kunci menuju Cirebon yang lebih maju dan bermartabat.

Kesimpulannya, penyuluh agama merupakan pilar penting dalam menjaga kesinambungan tradisi dan pembangunan di Kabupaten Cirebon. Dengan pendekatan yang berlandaskan Al-Qur’an, keteladanan tokoh, dan kearifan lokal, mereka mampu menjadi penggerak perubahan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

 


Referensi:

Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125: Landasan teologis mengenai metode dakwah yang mengedepankan hikmah dan pengajaran yang baik.

Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari: Pandangan tokoh nasional mengenai pentingnya dakwah yang berakar kuat pada akhlak dan kearifan lokal.

Kearifan Lokal Cirebon: Nilai-nilai budaya luhur masyarakat seperti eling lan waspada dan tepa selira sebagai prinsip hidup.

Kementerian Agama RI: Landasan operasional mengenai tugas, peran, dan fungsi penyuluh agama di tengah masyarakat.