Oleh: Bina Idola Siahaan, S.Pd.*
Paskah menjadi perayaan terbesar bagi umat Kristen. Paskah merupakan
pusat dari iman Kristen, sebab perayaan ini menjadi simbol karya keselamatan
Allah melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Peristiwa ini bukan hanya sebatas
ritus liturgis saja, melainkan suatu realitas teologis yang menentukan hubungan
antara Allah dan manusia.
Oleh karena pada mulanya manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka harus
ada penebusan. Dalam Paskah inilah, Allah menyatakan kasih-Nya secara konkret
melalui pengorbanan Kristus di kayu salib dengan tujuan memperdamaikan manusia
dengan diri-Nya. Roma 3:23 menegaskan bahwa "semua orang telah berbuat
dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah". Artinya, relasi manusia
dengan Allah telah dirusak oleh dosa (Tong, 2004). Dosa bukan sekadar
pelanggaran moral, melainkan kondisi eksistensial yang membuat manusia terpisah
dari Allah.
Maka dari itu, pendamaian melalui penebusan di kayu salib menjadi
kebutuhan mutlak setiap manusia. Stephen Tong menjelaskan bahwa keselamatan
sepenuhnya adalah karya anugerah Allah yang berdaulat. Manusia tidak memiliki
kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena dosa telah merusak
totalitas keberadaannya. Oleh sebab itu, Paskah harus dipahami sebagai tindakan
Allah yang aktif dan penuh kasih untuk memulihkan relasi yang rusak tersebut
(Tong, 2015).
1. Kasih yang Memperdamaikan Karena Inisiatif Allah
Sendiri
Kasih yang memperdamaikan dalam Paskah berakar pada natur Allah sendiri.
Yohanes 3:16 menyatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia
ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang
yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal".
Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa keselamatan manusia dimulai dari kasih
Allah, bukan dari usaha manusia (Efesus 2:8-9).
Kasih ini bersifat inisiatif, artinya Allah yang terlebih dahulu
bertindak untuk menyelamatkan manusia. Kasih Allah mencapai klimaksnya dalam
kematian Kristus di kayu salib. Yesaya 53:5 menyatakan, "oleh
bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh". Ayat ini menunjukkan konsep
penebusan penggantian (substitutionary atonement), di mana Kristus
menanggung hukuman yang seharusnya diterima manusia. Tong menjelaskan bahwa
salib adalah tempat pertemuan antara kasih dan keadilan Allah. Allah tidak
mengabaikan keadilan-Nya, tetapi menggenapinya melalui pengorbanan Kristus
(Tong, 2006). Dengan demikian, kasih yang memperdamaikan bukanlah kasih yang
sentimental, melainkan kasih yang kudus dan penuh pengorbanan.
2. Salib Kristus Sebagai Pusat Pendamaian
Salib merupakan inti dari Paskah dan pusat dari iman Kristen. Dalam
Yohanes 19:30, Yesus berkata, "Sudah selesai". Pernyataan ini
menunjukkan bahwa karya penebusan telah diselesaikan secara sempurna.
Pendamaian yang terjadi di salib bersifat objektif, artinya tidak bergantung
pada pengalaman manusia, melainkan merupakan fakta yang telah terjadi dalam
sejarah.
Tong menjelaskan bahwa tanpa salib, tidak ada keselamatan. Salib
menunjukkan bahwa dosa adalah masalah serius yang menuntut hukuman (Tong,
2015). Roma 6:23 menyatakan bahwa "upah dosa ialah maut". Oleh
karena itu, kematian Kristus menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikan
masalah dosa. Namun, salib juga menunjukkan kasih Allah yang luar biasa. Dalam
Galatia 2:20, Paulus berkata bahwa "Kristus telah mengasihi aku dan
menyerahkan diri-Nya untuk aku". Ayat ini menunjukkan dimensi personal
dari pendamaian. Kasih yang memperdamaikan bukan hanya bersifat universal,
tetapi juga personal.
Selain itu, salib memiliki implikasi etis bagi kehidupan orang percaya.
Dalam Matius 5:9 Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa
damai". Orang yang telah diperdamaikan dengan Allah dipanggil untuk
menjadi pembawa damai bagi sesama. Menurut Kartika dan Stevanus (2023), kasih
Allah yang dinyatakan dalam Kristus menjadi dasar bagi praktik kasih dalam
kehidupan orang percaya. Hal ini menunjukkan bahwa pendamaian tidak berhenti
pada relasi dengan Allah, tetapi juga harus diwujudkan dalam relasi sosial.
3. Kebangkitan Kristus Sebagai Jaminan Pendamaian
Paskah mencapai puncaknya dalam kebangkitan Kristus. Dalam 1 Korintus
15:17 dinyatakan bahwa "jika Kristus tidak dibangkitkan, maka
sia-sialah kepercayaan kamu". Ayat ini menunjukkan bahwa kebangkitan
Kristus merupakan bukti bahwa kematian-Nya telah diterima oleh Allah.
Kebangkitan adalah konfirmasi dari pendamaian yang telah terjadi di salib.
Menurut Tong (2015), kebangkitan Kristus adalah kemenangan atas dosa dan
maut. Kebangkitan menunjukkan bahwa kuasa dosa telah dikalahkan dan manusia
memiliki harapan akan hidup yang kekal. Hal ini sejalan dengan Yohanes 11:25 di
mana Yesus berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup".
Kebangkitan memberikan pengharapan eskatologis. Pendamaian yang dimulai dalam
Paskah akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Menurut Salurante dkk.
(2022), pemahaman tentang Paskah memperkuat iman orang percaya dan memberikan
pengharapan dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan bukan hanya
doktrin, melainkan realitas yang mengubahkan hidup.
Kesimpulan
Paskah adalah pernyataan terbesar dari kasih Allah yang memperdamaikan.
Dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Allah menyatakan kasih-Nya yang
kudus, adil, dan penuh pengorbanan. Pendamaian yang terjadi bukanlah hasil
usaha manusia, melainkan karya anugerah Allah yang berdaulat.
Kita memahami bahwa kasih Allah tidak dapat dipisahkan dari
keadilan-Nya, dan bahwa salib adalah pusat dari karya keselamatan. Pendamaian
yang terjadi melalui salib bersifat objektif dan final, serta memberikan dasar
bagi kehidupan baru bagi orang percaya. Kebangkitan Kristus menegaskan
kemenangan atas dosa dan maut serta memberikan jaminan hidup yang kekal.
Dengan demikian, Paskah bukan hanya peristiwa historis, melainkan
realitas yang terus mengubahkan kehidupan manusia. Kasih yang memperdamaikan
menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup dalam kasih,
pengampunan, dan damai. Dalam dunia yang penuh konflik, pesan Paskah tetap
relevan sebagai dasar rekonsiliasi dan harapan bagi umat manusia.
Referensi:
·
Alkitab. (2008). Alkitab Terjemahan Baru.
Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
·
Kartika, B., & Stevanus, K. (2023). "Kasih
Allah sebagai dasar penginjilan menurut Roma 5:8–11". Fidei: Jurnal
Teologi Sistematika dan Praktika.
·
Salurante, T., Topayung, S. L., & Riswan. (2022).
"Pemahaman pengajaran mengenai Paskah dalam penguatan iman gereja". Jurnal
PKM Setiadharma.
·
Tong, S. (2004). Yesus Kristus Juruselamat Dunia.
Surabaya: Momentum.
·
Tong, S. (2006). Salib Kristus. Surabaya:
Momentum.
·
Tong, S. (2015). Teologi Reformed. Jakarta:
Reformed Center for Religion and Society.’
*Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama
Kabupaten Majalengka