A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: dibaca

Filename: controllers/News.php

Line Number: 542

Backtrace:

File: /home/jabar/public_html/application/controllers/News.php
Line: 542
Function: _error_handler

File: /home/jabar/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kasih Yang Memperdamaikan: Memaknai Paskah

Pencarian

>

Kasih Yang Memperdamaikan: Memaknai Paskah

Oleh: Bina Idola Siahaan, S.Pd.*

Paskah menjadi perayaan terbesar bagi umat Kristen. Paskah merupakan pusat dari iman Kristen, sebab perayaan ini menjadi simbol karya keselamatan Allah melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Peristiwa ini bukan hanya sebatas ritus liturgis saja, melainkan suatu realitas teologis yang menentukan hubungan antara Allah dan manusia.

Oleh karena pada mulanya manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka harus ada penebusan. Dalam Paskah inilah, Allah menyatakan kasih-Nya secara konkret melalui pengorbanan Kristus di kayu salib dengan tujuan memperdamaikan manusia dengan diri-Nya. Roma 3:23 menegaskan bahwa "semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah". Artinya, relasi manusia dengan Allah telah dirusak oleh dosa (Tong, 2004). Dosa bukan sekadar pelanggaran moral, melainkan kondisi eksistensial yang membuat manusia terpisah dari Allah.

Maka dari itu, pendamaian melalui penebusan di kayu salib menjadi kebutuhan mutlak setiap manusia. Stephen Tong menjelaskan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah karya anugerah Allah yang berdaulat. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena dosa telah merusak totalitas keberadaannya. Oleh sebab itu, Paskah harus dipahami sebagai tindakan Allah yang aktif dan penuh kasih untuk memulihkan relasi yang rusak tersebut (Tong, 2015).

1. Kasih yang Memperdamaikan Karena Inisiatif Allah Sendiri

Kasih yang memperdamaikan dalam Paskah berakar pada natur Allah sendiri. Yohanes 3:16 menyatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa keselamatan manusia dimulai dari kasih Allah, bukan dari usaha manusia (Efesus 2:8-9).

Kasih ini bersifat inisiatif, artinya Allah yang terlebih dahulu bertindak untuk menyelamatkan manusia. Kasih Allah mencapai klimaksnya dalam kematian Kristus di kayu salib. Yesaya 53:5 menyatakan, "oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh". Ayat ini menunjukkan konsep penebusan penggantian (substitutionary atonement), di mana Kristus menanggung hukuman yang seharusnya diterima manusia. Tong menjelaskan bahwa salib adalah tempat pertemuan antara kasih dan keadilan Allah. Allah tidak mengabaikan keadilan-Nya, tetapi menggenapinya melalui pengorbanan Kristus (Tong, 2006). Dengan demikian, kasih yang memperdamaikan bukanlah kasih yang sentimental, melainkan kasih yang kudus dan penuh pengorbanan.

2. Salib Kristus Sebagai Pusat Pendamaian

Salib merupakan inti dari Paskah dan pusat dari iman Kristen. Dalam Yohanes 19:30, Yesus berkata, "Sudah selesai". Pernyataan ini menunjukkan bahwa karya penebusan telah diselesaikan secara sempurna. Pendamaian yang terjadi di salib bersifat objektif, artinya tidak bergantung pada pengalaman manusia, melainkan merupakan fakta yang telah terjadi dalam sejarah.

Tong menjelaskan bahwa tanpa salib, tidak ada keselamatan. Salib menunjukkan bahwa dosa adalah masalah serius yang menuntut hukuman (Tong, 2015). Roma 6:23 menyatakan bahwa "upah dosa ialah maut". Oleh karena itu, kematian Kristus menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah dosa. Namun, salib juga menunjukkan kasih Allah yang luar biasa. Dalam Galatia 2:20, Paulus berkata bahwa "Kristus telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku". Ayat ini menunjukkan dimensi personal dari pendamaian. Kasih yang memperdamaikan bukan hanya bersifat universal, tetapi juga personal.

Selain itu, salib memiliki implikasi etis bagi kehidupan orang percaya. Dalam Matius 5:9 Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai". Orang yang telah diperdamaikan dengan Allah dipanggil untuk menjadi pembawa damai bagi sesama. Menurut Kartika dan Stevanus (2023), kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus menjadi dasar bagi praktik kasih dalam kehidupan orang percaya. Hal ini menunjukkan bahwa pendamaian tidak berhenti pada relasi dengan Allah, tetapi juga harus diwujudkan dalam relasi sosial.

3. Kebangkitan Kristus Sebagai Jaminan Pendamaian

Paskah mencapai puncaknya dalam kebangkitan Kristus. Dalam 1 Korintus 15:17 dinyatakan bahwa "jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu". Ayat ini menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus merupakan bukti bahwa kematian-Nya telah diterima oleh Allah. Kebangkitan adalah konfirmasi dari pendamaian yang telah terjadi di salib.

Menurut Tong (2015), kebangkitan Kristus adalah kemenangan atas dosa dan maut. Kebangkitan menunjukkan bahwa kuasa dosa telah dikalahkan dan manusia memiliki harapan akan hidup yang kekal. Hal ini sejalan dengan Yohanes 11:25 di mana Yesus berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup". Kebangkitan memberikan pengharapan eskatologis. Pendamaian yang dimulai dalam Paskah akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Menurut Salurante dkk. (2022), pemahaman tentang Paskah memperkuat iman orang percaya dan memberikan pengharapan dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan bukan hanya doktrin, melainkan realitas yang mengubahkan hidup.

Kesimpulan

Paskah adalah pernyataan terbesar dari kasih Allah yang memperdamaikan. Dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Allah menyatakan kasih-Nya yang kudus, adil, dan penuh pengorbanan. Pendamaian yang terjadi bukanlah hasil usaha manusia, melainkan karya anugerah Allah yang berdaulat.

Kita memahami bahwa kasih Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan-Nya, dan bahwa salib adalah pusat dari karya keselamatan. Pendamaian yang terjadi melalui salib bersifat objektif dan final, serta memberikan dasar bagi kehidupan baru bagi orang percaya. Kebangkitan Kristus menegaskan kemenangan atas dosa dan maut serta memberikan jaminan hidup yang kekal.

Dengan demikian, Paskah bukan hanya peristiwa historis, melainkan realitas yang terus mengubahkan kehidupan manusia. Kasih yang memperdamaikan menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup dalam kasih, pengampunan, dan damai. Dalam dunia yang penuh konflik, pesan Paskah tetap relevan sebagai dasar rekonsiliasi dan harapan bagi umat manusia.

Referensi:

·         Alkitab. (2008). Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

·         Kartika, B., & Stevanus, K. (2023). "Kasih Allah sebagai dasar penginjilan menurut Roma 5:8–11". Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika.

·         Salurante, T., Topayung, S. L., & Riswan. (2022). "Pemahaman pengajaran mengenai Paskah dalam penguatan iman gereja". Jurnal PKM Setiadharma.

·         Tong, S. (2004). Yesus Kristus Juruselamat Dunia. Surabaya: Momentum.

·         Tong, S. (2006). Salib Kristus. Surabaya: Momentum.

·         Tong, S. (2015). Teologi Reformed. Jakarta: Reformed Center for Religion and Society.’

 

*Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Majalengka