02-12-2016 / 13:07:43

Cerai Peruntuh “Gerbang” Ketahanan Generasi Bangsa


Oleh : Ade Irawan (Penyusun Bahan Siaran dan Pemberitaan Kemenag Kab Bogor/mahasiswa Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor)

Kian hari kian marak proses perceraian ditengah masyarakat, hal itu sangat disadari oleh penulis, setidaknya dalam seminggu ada beberapa teman yang mencoba menanyakan atau berkonsultasi bagaimana dampak dari perceraian, lalu seperti apa keluarga dalam hal ini anak-anak kedepan. Persoalan yang terjadi, dari yang tiap pasangan ingin bercerai masalahnya cukup beragam mulai dari ekonomi, persoalan keharmonisan, kehadiran orang ketiga, perselingkuhan dan juga kekerasan dalam rumah tangga. Dari itu semua, hal yang cukup mencengangkan adalah banyaknya kasus perceraian karena disebabkan hal sepele dimulai dari alat komunikasi yang saat ini telah merajai kehidupan sehari-hari dimulai dari jejaring social yang ada maupun alat-alat yang tersedia di ponsel pasangan masing-masing, dari hal-hal itulah memicu ke hal yang lebih jauh, mulai dari kecemburuan berlebih, berburuk sangka, dan dampaknya terjadi cekcok dan pertengkaran hingga ke KDRT dan pada muaranya salah satu pihak ingin segera berpisah karena sudah tak lagi nyaman berumah tangga.

Ternyata, perceraian kini menjadi momok yang lumrah dikalangan masyarakat Bogor maupun di Jawa Barat atau bahkan nasional. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan dengan berbagai contoh kasus perceraian di media cetak maupun elektronik. Dan memang tidak bisa dipungkiri, kini perceraian telah hinggap ke semua kalangan masyarakat mulai dari Artis, anak pejabat, TNI, Polri, ASN, Kiyai, Ustad, tokoh masyarakat bahkan tokoh agama pun kerap terjebak pada  persoalan perceraian.

Perceraian Dalam Angka

Mengambil beberapa data perceraian dari media elektronik (online), cukup mencengangkan jumlah angka perceraian relative tinggi dibeberapa wilayah, Angka perceraian di Kota Depok dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dari data yang diperoleh dari Pengadilan Agama (PA) Kota Depok, pada tahun 2014 ada sebanyak 3.788 pasangan memilih bercerai. Memasuki tahun 2015 ada sebanyak 3.786 pasangan yang bercerai. (http://www.republika.co.id/berita/koran/urbana/16/09/30/oeblgp404-kasus-perceraian-di-depok-terus-meningkat).

Sepanjang Januari-Agustus 2015, Pengadilan Agama (PA) Cibinong, Kabupaten Bogor menerima sekitar 2.600 gugatan cerai. 2014 tingkat perceraian yang ditangani pengadilan agama tersebut berjumlah 2.300 orang, 2015 berjumlah 3.300, dan 2016 dari Januari per akhir Mei hanya 1.800 orang. Dari ribuan gugatan cerai itu, sebanyak 90 persen didominasi gugat cerai istri terhadap suaminya. (http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2015/06/24/seribu-istri-tinggalkan-suami/).

Tentunya menjadi pertanyaan besar, mengapa perceraian marak, mengapa krisis rumah tangga ini harus berakhir di meja hijau, mengapa konflik rumah tangga ini semakin meluas, apakah yang menjadi penyebabnya bukankah menikah itu tuntunan agama.

 

 

Membicarakan persoalan dam penyebab perceraian tentu tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi, banyak hal yang mempengaruhi mengapa perceraian itu terjadi. Kalau dilihat satu sisi saja, tentu akan sangat mudah mengurai penyebab dan solusinya. Tapi tidak demikian, justru karena banyaknya hal yang mempengaruhi perkawinan itulah yang menjadikan penyebab perceraian marak.

 

Dirakum dari beberapa informasi dan literasi maupun melihat langsung proses perceraian, banyak faktor yang mempengaruhi sebuah rumah tangga sehingga menyebabkan perceraian, berikut ini adalah beberapa penyebab umum terjadinya perceraian dalam sebuah keluarga :

 

  1. Minimnya ekonomi

Hidup dalam kekurangan membutuhkan kesabaran yang besar, banyak orang yang tidak kuasa bertahan dalam kekurangan, khususnya wanita. Salah satu syarat untuk menjalin pernikahan adalah mempunyai pekerjaan layak dan ekonomi yang cukup. Jika keadaan ekonomi dalam rumah tangga semakin menipis, tentu akan menyebabkan banyak masalah baru sehingga menimbulkan cek-cok antara suami istri.

 

  1. Komunikasi pasif

Komunikasi pasif antara suami dan istri juga sering menimbulkan masalah yang merujuk pada perceraian. Banyak perceraian terjadi di masyarakat karena kurangnya komunikasi antara suami dan istri. Jalan utama untuk mengatasi komunikasi pasif adalah mencoba untuk melakukan komunikasi aktif dan bersifat terbuka.

 

  1. Perbedaan

Sering kali sebuah perbedaan menyebabkan seseorang melepas hubungan dengan orang lain tanpa tolerasi terlebih dahulu. Seharusnya perbedaan menjadikan seseorang mengerti kekurangan antar satu dengan lainnya dan mewujudkan solusi untuk bersatu dan saling mengisi, bukan menjadikan perpisahan dan perpecahan. Contog perbedaan dalam masalah pernikahan bisa seperti :

  • Perbedaan faham dan keyakinan
  • Perbedaan ide dan pemikiran
  • Perbedaan status sosial dari masing-masing keluarga (kaya dan miskin)
  • Dan lain-lain
  1. Tidak konsekuensi

Menikah adalah sebuah konsekuensi untuk saling setia, saling mencintai, saling menyayangi, bertanggung jawab, saling menjaga, dan saling menghargai. Jika rasa konsekuensi ini hilang, maka sangat mudah terjadi perceraian. Contoh tindak tidak konsekuensi dalam pernikahan adalah :

  • Mencintai pihak ketiga
  • Suami mengabaikan tanggung jawab untuk mencari nafkah
  • Istri tidak menjaga kehormatan dan martabat keluarga
  1. Perselingkuhan

Selingkuh adalah sebuah penghianatan dalam rumah tangga. Semua orang tidak menginginkan orang yang dicintai melakukan perselingkuhan kepada orang lain. Tentu saja hal ini menyebabkan luka dalam yang membekas di hati. Luka karena merea dihianati akan menyebabkan keputusan dini tanpa pertimbangan terlebih dahulu, yaitu perceraian.

 

  1. Masalah nafkah batin

Nafkah batin atau seks adalah salah satu alasan penting mengapa seseorang melangsungkan pernikahan. Selain kebutuhan dhohir, kebutuhan batin pun harus terpenuhi agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Terkadang ketidakpuasan dalam nafkah batin menyebabkan seseorang melakukan perselingkuhan, dan tentu titik fatal dari masalah ini adalah perceraian.

 

  1. Kesibukan pekerjaan yang berlebihan

Sibuk bekerja membuat kedua pihak (suami dan istri) jarang melakukan komunikasi aktif. Aktifitas pekerjaan yang berlebihan membuat lelah, saat pulang bekerja keduanya mungkin akan menghabiskan waktu untuk istirahat. Keadaan seperti ini tentunya sangat tidak harmonis, apalagi ketika beban pekerjaan semakin bertambah dan menumpuk. Beban pikiran karena pekerjaan terkadang membuat keduanya mudah emosi sehingga menimbulkan pertengkaran. 

 

  1. Kurangnya perhatian

Manusia memiliki watak senang diperhatikan, diakui, dicintai, dan disayangi. Jika dalam keluarga salah satu pasangan mendapatkan perhatian kurang, maka bunga kemesraan dalam rumah tangga pun akan layu. Dan tentu saja hal ini bisa memperbesar peluang perceraian antara keduanya.

 

  1. Saling curiga

Mencurigai pasangan adalah sebuah penyakit yang harus diobati karena ini akan menimbulkan prasangka buruk, menuduh, dan fitnah dalam keluarga. Sifat ini biasanya dimiliki oleh pasangan yang protektif.

 

  1. Sering bertengkar

Pertengkaran dalam rumah tangga pasti dialami oleh banyak orang. Pertengkaran kecil sebaiknya tidak dianggap remeh, apalagi jika watak keduanya (suami dan istri) mudah tersinggung dan sulit untuk berdamai, tentu ini akan sangat mudah untuk mengeluarkan kata-kata yang bernada perceraian. Jika pertengkaran suami istri sering terjadi, maka akan sangat mudah mereka untuk bercerai.

 

  1. Intimidasi dan tindak kekerasan

Intimidasi atau perkataan kasar yang dilontarkan oleh suami kepada istri dapat mematikan keharmonisan dalam rumah tangga, apalagi jika sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Seorang istri adalah manusia yang mempunyai perasaan dan hati, intimidasi dan kekerasan akan membuatnya lebih memilih memutuskan hubungan perkawinan daripada bertahan. (http://www.pelangiblog.com/2014/12/11-penyebab-umum-terjadi-perceraian.html)

 

Masalah perceraian seharusnya menjadi masalah yang serius dalam sebuah rumah tangga, ini tidak boleh diremehkan. Dampak dari perceraian bukan hanya melibatkan kedua belah pihak, suami dan istri, tetapi juga anak-anak dan keluarga. Dan bahkan muaranya menjadi persoalan bangsa.

Ya, mengapa tidak dengan tidak harmoninya kehidupan masyarakat karena terbelahnya problem dalam berkeluarga tentu akan timbul persoalan lainnya, mungkin tidak bisa dinafikan akibat dari itu muncul persoalan kejahatan seksual anak dibawah umur, kasus perkosaan yang terus meningkat, dan kejahatan lainnya pun akan berdampak. Bisa dibayangkan, jika banyak anak dari korban perceraian tidak bisa lagi menemukan keteduhan sosok orangtua yang hilang akibat terpecahnya keluarga akibat perceraian.

Dari hal itu, banyak anak-anak yang kehilangan teladan harus mencontoh siapa ketika dirumah tidak ada lagi sosok ayah yang menjadi panutan pun sebaliknya ketika mereka hidup dengan sang ayah mereka tidak bisa lagi mendapatkan hangatnya pelukan atau nasihat sang ibu. Jadi, hemat penulis, krisis perceraian yang tengah marak di negeri ini khsuusnya di wilayah Jawa Barat akan menjadi bola salju dalam membangun keuntuhan berbangsa dan bernegara bahkan dalam mewujudkan konsep masyarakat madani atau generasi islami di Tanah air.

Maka dari itu, penulis mengajak masyarakat bagaimana meneguhkan sebuah perkawinan sebagai bagian dari proses menerapkan ajaran Al Quran, yaitu : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” .[at-Tahrîm/66:6]. Sehingga menjadi bagian ummat yang mendapat rahmat. Amien.  (*)

 

 

 

Opini Lainnya
Jumat, 02-12-2016 / 13:07:43

Cerai Peruntuh “Gerbang” Ketahanan Generasi Bangsa

Jumat, 02-12-2016 / 12:08:22

SENI PERENCANAAN ADMINISTRASI SUATU ORGANISASI PENDIDIKAN

Rabu, 02-11-2016 / 14:21:44

Madrasah Dalam Pusaran Akreditasi

Sabtu, 15-10-2016 / 01:56:10

Membangun Inmas Daerah Yang Produktif , Mungkinkah?