Rabu, 23-10-2019 | 11:02:11

Belajar Loving Authority

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Dalam upaya menerapkan disiplin positif yang tengah kami tapaki dengan terseok dan terkadang hampir putus asa, tentu sebuah proses alami yang sangat manusiawi. Penerapan yang coba kami lakukan perlahan, tentu juga terus diimbangi dengan penggalian ilmu yang terus tiada henti.

Sedikit berbagi pengetahuan untuk upaya menjalankan disiplin positif yang mungkin diawal sempat penulis rasakan pula sebagai sebatas angan. Tentu hasil yang kita inginkan tak akan semudah membalikkan telapak tangan dan tentunya akan banyak kendala dan rintangan dalam upaya penerapannya. Dan yang jelas, butuh waktu untuk berproses yang tak dapat dikatakan instan.

Beberapa hal yang dapat kita terapkan untuk mulai mencoba disiplin positif di madrasah antara lain dengan penerapan“loving authority.”Tentu saja hal ini dimaksud untuk mengupayakan efektifitas pendampingan anak dalam keseharian. Loving Authority” adalah sebuah upaya penerapan disiplin dengan penuh kasih sayang. Tanpa anak-anak sadari, guru dapat menerapkan loving authority untuk menerapkan kewenanangan yang lebih alamiah dan penuh kasih sayang.

Hal-hal yang dapat kita lakukan daam menerapkan Loving  Athourity antara lain :

  1. Memahami fase pertumbuhan dan perkembangan anak

Umumnya anak-anak yang baru saja masuk di kelas 7, sifat kekanak-kanakan mereka yang dibawa saat masih di sekolah dasar sangat kental. Tak jarang saling ejek, olok diantara kawan sepermainan sangat kental. Bahkan mungkin perkelahian kerap terjadi diantara mereka.

Guru sebagai orang tua kedua bagi para siswa tentu harus dapat menempatkan posisinya sebagai pelindung dan pengayom bagi mereka. Pada usia ini, anak sudah mulai membangun  nalar dan merefleksikan lingkungannya. Pada usia ini anak sudah dapat lebih diajak biacara dan diskusi dengan lebih baik.  Peran guru sebagai teladan dan role model yang sesungguhnya tentu juga menjadi hal yang utama. Serta guru dapat berperan menjadi sahabat dan teman diskusi yang setara bagi mereka.

  1. Menjadi model yang baik

Kehadiran guru di madrasah yang menjadi sosok pengganti orang tua selama berada di madrasah, tentu diharapkan dapat menjadi role model yang baik bagi peserta didik. Hal ini juga mengantisipasi barangkali ada sosok orang tua yang tidak didapatkan anak dalam kesehariannya di rumah.

  1. Mencari pilihan kata yang positif

Mengajarkan berkomunikasi dengan baik kepada peserta didik juga harus diterapkan di madrasah. Anak-anak yang tentunya datang dari berbagai kalangan keluarga dengan segala keberagaman dan keunikannya dapat kita coba untuk menyeragamkan dengan tetap mengacu pada standart pendidikan yang kita miliki.

Hal-hal baik yang mungkin sudah dibawa anak dari rumahnya, dapat kita adopsikan dan tularkan pada peserta didik yang lain di madrasah. Penulis yakin, tidak akan ada satu madrasah pun yang menolak hal-hal baik yang sudah berjalan di dalam keluarga inti.

  1. Menegaskan secara konsisten aturan yang ada di madrasah

Layaknya dalam sebuah keluarga, tentu madrasah juga mempunyai aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh semua warga madrasah tanpa terkecuali. Tidak akan ada pembeda terhadap aturan yang coba kita tegakkan bersama di madrasah.

  1. Mengenalkan batasan

Memberikan batasan-batasan aturan yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar adalah bentuk lain dari ikhtiar kita sebgaai pengajar untuk menjalankan disiplin yang telah kita sepakati bersama.

Memberikan kebebasan pada anak, bukan berarti membiarkan anak tanpa batas. Tetap harus ada koridor yang harus kita patuhi bersama demi capaian tujuan yang menjadi cita-cita bersama.

  1. Konsekuensi sebagai pengganti hukuman

Hukuman seringkali berupa hal-hal yang mengancam dan membuat anak merasa sedih, sakit, atau takut. Dalam perjalanan belajar menegakkan disiplin, tentu sebagai manusia biasanya terutama anak-anak pasti ada saja batasan-batasan atau pelanggaran yang mungkin saja terjadi pada mereka. Guru dapat memberikan pemahaman kepada murid bahwa apabila ada aturan atau kesepakatan yang dilanggar, maka mereka akan mendapatkan konsekuensi sebagai bagian dari tanggung jawab yang telah disepakati bersama.

Guru sebagai sosok pengganti sementaa sebagai orang tua dapat menanamkan pemahaman kepada anak bahwa jika ia melakukan kesalahan maka bukan hukuman yang akan ia dapatkan, tetapi konsekuensi atas perbuatannya tersebut. Hukuman yang diterapkan pada anak secara fisik maupun verbal akan membuat komunikasi yang berjarak.

Sikap anti kekerasan, tanggung jawab, empati, dan rasa hormat adalah pondasi-pondasi yang dibutuhkan siswa untuk dapat membangun pengaturan dirinya. Maka dengan loving authority, kita dapat memberikan pondasi-pondasi tersebut kepada siswa agar ia siap menghadapi dunianya.

Lalu bolehkah kita memberikan hadiah kepada siswa? Tentu saja boleh, namun dalam batas frekuensi yang wajar. Hadiah hendaknya tidak dikaitkan dengan perilaku tertentu, dan tidak ditujukan sebagai ‘sogokan’. Hadiah juga bisa diberikan sebagai bentuk apresiasi untuk mendekatkan hubungan guru atau orang tua dan siswa.

Kunci pertama yang dibutuhkan untuk penerapan disiplin positif adalah komunikasi yang bersifat dua arah antara guru dan siswa. Dari proses diskusi dan refleksi, tindak lanjutnya adalah membuat kesepakatan bersama. Dalam membuat kesepakatan, guru dan siswa menentukan perilaku apa yang ingin dilakukan. Selain itu, guru juga menjelaskan adanya konsekuensi yang dialami jika perilaku tidak dilakukan.

Membiarkan siswa mengalami konsekuensi adalah salah satu hal yang juga harus dirasakan oleh sisa saat melanggar dari kesepakatn yang dibuat. Terus membiarkan siswa dalam kekeliruan sama halnya dengan menjerumuskan siswa dalam lubang yang lebih dalam. Dan tetap diingat bahwa bukan dengan hukuman fisik.

Dukungan dapat diberikan kepada siswa dapat berupa adanya penguatan. Namun tatkala siswa mengalami sebuah kekeliruan perlu kiranya kita memberikan sebuah teguran berupa kritik namun tetap harus diikuti dengan teladan dan jalan keluar yang baik.

Butuh waktu untuk menjalankn proses ini. Pemahaman bukan saja pada tatar siswa selaku perserta didik, namun juga pemahaman utamanya diberikan pada para pengajar sebagai role model yang akan membina dan mengiringi para peserta didik dalm menjalani disiplin positif.

Penulis sangat yakin, tulisan ini masih banyak kekurangan baik dari segi konten maupun teknik penulisan. Untuk itu penulis sangat terbuka dengan masukan dan saran yang membangun demi perbaikan ke depan. Tak lupa, penulis sangat terbuka terhadap diskusi lanjut yang dapat kita bangun. Semoga sekelumit pendapat dari penulis ini dapat menajdi bahan bacaan yang bermanfaat khususnya bagi sesama rekan guru pada khususnya dan para orang tua pada umumnya.