Banyusari (KEMENAG)
Kantor Urusan Agama (KUA) Banyusari menggelar kegiatan The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat) dengan tema “Fiqh Keluarga dan Spirit Maslahat: Bekal Santri Membangun Peradaban” di Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Desa Cicinde Selatan, Jumat (27/2/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 30 santri yang masih berada di pesantren di sela-sela masa libur Ramadhan. Meski dalam suasana libur, para peserta tampak antusias dan responsif mengikuti jalannya kegiatan.
Tema tersebut dipilih karena keluarga merupakan fondasi utama lahirnya masyarakat yang kuat dan berakhlak. Santri sebagai calon pemimpin umat dinilai perlu memahami fiqh keluarga, meliputi hak dan kewajiban suami-istri, pendidikan anak, hingga penyelesaian konflik rumah tangga. Pemahaman ini menjadi bekal penting dalam membangun keluarga sakinah yang berdampak sosial luas.
Penyuluh Agama Islam KUA Banyusari, Estanu Wijaya, dalam pemaparannya menegaskan bahwa peradaban besar selalu lahir dari keluarga yang kokoh dan bermartabat.
“Ketika keluarga dibangun atas dasar ilmu, tanggung jawab, dan spirit maslahat, maka dari situlah peradaban tumbuh,” ujarnya.
Diskusi berlangsung hidup. Para santri aktif mengajukan pertanyaan dan mampu mengaitkan materi dengan realitas sosial yang mereka temui di tengah masyarakat. Mereka menyimpulkan bahwa membangun peradaban tidak bisa dilepaskan dari upaya memperkuat institusi keluarga.
Salah satu peserta, Abdul Mujib, menyampaikan bahwa materi yang disampaikan sangat relevan dengan tantangan zaman. “Kami jadi lebih memahami bahwa membangun keluarga bukan hanya urusan pribadi, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial dan peradaban,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, KUA Banyusari berharap lahir generasi santri yang tidak hanya kuat dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki visi membangun keluarga sakinah demi terwujudnya masyarakat yang maslahat dan berakhlak mulia.
Kontributor : Estanu Wijaya