Bekasi (Kemenag)
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Bekasi, Made Puspe, S.Pd.H., mengajak umat Hindu untuk memahami makna Hari Raya Saraswati yang diperingati setiap Saniscara Umanis Watugunung, tidak hanya sebagai perayaan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk memaknai pengetahuan sebagai sarana pembebasan dari penderitaan.
Hal ini disampaikannya pada kegiatan Malam Sastra Hari Raya Saraswati dengan tema “Alun Aksara dalam Aliran Widya” dalam rangka memperingati Hari Raya Saraswati, yang diselenggarakan Pasraman Taman Dharma Widya Kabupaten Bekasi di Wantilan Alit Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan, Kabupaten Bekasi, pada Sabtu, (4/4/2026), bertempat Jawa Barat.
Menurutnya hal tersebut sejalan dengan ajaran dalam Bhagavad Gita IV.36, yaitu “api ced asi pāpebhyaḥ. Sarvebhyaḥ pāpa-kṛt-tamaḥ. Sarvaṁ jñāna-plavenaiva. Vṛjinaṁ santariṣyasi.” Artinya,“Bahkan jika engkau adalah yang paling berdosa sekalipun, dengan perahu pengetahuan engkau akan menyeberangi segala penderitaan.”
Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi Pasraman Taman Dharma Widya, didampingi oleh orang tua/wali murid, serta dihadiri umat dari SDHD Banjar Kabupaten Bekasi. Selain sebagai agenda rutin pasraman, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sastra, pengetahuan, serta nilai-nilai spiritual dalam ajaran Hindu.
Materi disampaikan oleh Made Puspe, S.Pd.H selaku Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Bekasi. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak peserta untuk memahami makna Hari Raya Saraswati yang diperingati setiap Saniscara Umanis Watugunung, tidak hanya sebagai perayaan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk memaknai pengetahuan sebagai sarana pembebasan dari penderitaan.
Lebih lanjut, Made Puspe menekankan pentingnya mengasah Viveka, yaitu kemampuan membedakan antara yang baik dan yang benar, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital saat ini. Dengan kemajuan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI), setiap individu memiliki akses luas terhadap informasi. Namun demikian, tanpa kebijaksanaan, banyaknya informasi justru dapat menimbulkan kebingungan dan kehilangan arah.

Dalam refleksinya, disampaikan bahwa manusia hendaknya selalu bersikap rendah hati agar mampu menerima dan memperoleh pengetahuan.
“Sebagaimana makna Saraswati sebagai “ilmu pengetahuan yang mengalir”, pengetahuan tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Oleh karena itu, manusia juga dituntut untuk bersikap dinamis dan aktif, khususnya dalam mencari serta mengembangkan pengetahuan. Selain itu, makna “mengalir” juga mengandung nilai bahwa pengetahuan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi wajib disebarluaskan secara bijak kepada sesama, sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan,” ungkap Made Puspe.
Kegiatan ini juga mengangkat refleksi tentang fenomena “banyak informasi, minim ilmu” yang menjadi tantangan generasi saat ini. Oleh karena itu, peserta diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu mengolah dan memaknai pengetahuan secara bijak.
Kegiatan berlangsung dengan suasana interaktif dan penuh antusiasme, disertai sesi diskusi serta refleksi bersama. Nuansa sastra yang dihadirkan turut memperkaya pemahaman peserta terhadap makna aksara sebagai simbol pengetahuan yang hidup dan mengalir.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pasraman Taman Dharma Widya melalui OSIS Pasraman yang diketuai oleh Ni Komang Gita Monica Kartini, sebagai wujud nyata peran generasi muda dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan spiritual Hindu.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Saraswati dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan pengetahuan sebagai cahaya yang menuntun pada kebijaksanaan dan keharmonisan hidup.