Bandung (KEMENAG)
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, bersama Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, Muhammad Adib Abdushomad, mengajak jajaran Kepala Kementerian Agama kabupaten/kota untuk mempercepat langkah mitigasi potensi konflik melalui penguatan Early Warning System SI-RUKUN.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Penguatan Early Warning System SI-RUKUN untuk Jawa Barat yang Damai dan Harmoni, yang digelar di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, Rabu (08/04/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung Barat, Hj. Baiq Raehanun Ratnasari, bersama para kepala kantor Kemenag kabupaten/kota, pejabat struktural, serta unsur Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Dalam sambutannya, H. Dudu Rohman menegaskan bahwa penguatan sistem deteksi dini menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.
“Peran Kementerian Agama sangat strategis dalam menjaga harmoni. Kita harus mampu melakukan mitigasi sejak dini terhadap berbagai potensi konflik, sehingga setiap permasalahan dapat diantisipasi dan diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa dinamika sosial, perkembangan teknologi informasi, hingga pengaruh global menjadi tantangan tersendiri yang perlu direspon dengan sistem yang adaptif dan responsif.
Sementara itu, Kepala Pusat PKUB Kemenag RI, Muhammad Adib Abdushomad, menyampaikan bahwa menjaga kerukunan dan kedamaian merupakan investasi yang sangat berharga bagi keberlangsungan bangsa.
“Kerukunan itu mahal. Tanpa kedamaian, pembangunan bisa hancur. Oleh karena itu, kita harus menjaga harmoni whatever it takes,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa SI-RUKUN merupakan instrumen penting dalam mendeteksi potensi konflik sejak dini. Sistem ini memungkinkan pemetaan, pelaporan, hingga penanganan konflik secara cepat dan terintegrasi.
“Early Warning System SI-RUKUN ini menjadi alat penting untuk mencegah konflik. Deteksi dini adalah kunci. Apalagi di era media sosial saat ini, potensi konflik bisa berkembang sangat cepat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mencontohkan sejumlah penanganan konflik di berbagai daerah yang berhasil diselesaikan melalui komunikasi intensif dan kolaborasi lintas pihak.
“Sebagian besar konflik berawal dari miskomunikasi. Karena itu, membangun komunikasi yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menjaga kerukunan,” tambahnya.
Selain itu, Kemenag juga terus mendorong berbagai program penguatan kerukunan, seperti Youth Harmony Program dan forum internasional Indonesia Inspire (International Symposium for Peace, Integrating and Responsive on Ecology) sebagai upaya memperkenalkan praktik baik kerukunan Indonesia ke dunia.
Sementara itu, dimintai keterangan seusai kegiatan, Hj. Baiq Raehanun Ratnasari menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh implementasi SI-RUKUN di wilayah Kabupaten Bandung Barat.
“Kami siap mengoptimalkan peran seluruh jajaran, termasuk KUA dan penyuluh agama, dalam melakukan deteksi dini serta menjaga kondusivitas wilayah. Saya pun berharap melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh jajaran Kementerian Agama di Jawa Barat dapat semakin solid dalam memperkuat sistem deteksi dini serta meningkatkan sinergi dalam menjaga kerukunan umat beragama menuju Jawa Barat yang damai dan harmonis,"pungkasnya.
Kontributor: misiinurul