Ulala...

Ulala...

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Sontak ada perasaan bersalah begitu melihatnya tertunduk dan menangis. Rasanya seperti tak mengalir darah ini seketika. Apa yang harus penulis lakukan?

Sejenak penulis tenangkan diri, untuk tidak membuat suasana makin runyam. Tarik nafas panjang, dan berusaha membuat kelas menjadi lebih tenang. Riuh rendah anak-anak yang masih dengan ringannya membuli, penulis coba tenangkan perlahan.

Selalu ada kejadian yang terkadang membuat penulis merasa terheran-heran. Kekagetan-kekagetan kecil yang acap kali terjadi dalam ruangan 7x8 tersbeut. Tingkah polah anak-anak dalam proses pembelajaran yang terjadi setiap hari selalu menyuguhkan hal-hal baru, termasuk kejadian pahit sekalipun.

Sempat beberapa waktu lalu penulis membaca sebuah poster yang berjudul “Children are the real curriculum”. Belum banyak yang dapat penulis pahami dari emapt kata yang membentuk kalimat yang cukup menggelitik penulis untuk memahami apa maksudnya. Dari beberapa kejadian akhir-akhir ini, apakah ini yang termasuk dalam maksud kaliamat tersebut?

Perundungan yang sering terjadi, bahkan di ruang kelas sekalipun tak mudah untuk dielakan. Butuh komitmen dan kesadaran dari semua pihak warga sekolah untuk bisa dalam satu kata. Perundungan yang terjadi dapat dengan berbagai cara,baik perundungan secara fisik, verbal, maupun sosial.

Sebagai guru yang memegang kendali dalam pembelajaran di ruang kelas, tentu guru memegang peran yang cukup vital. Sukses tidaknya pembelajaran yang terjadi saat itu, sudah pasti guru yang paling paham. Termasuk kejadian—kejadian yang mungkin cukup menguras energi dan pikiran.

Beberapa hal yang menurut penulis dapat menyebabkan terjadiinya kasusu perundungan  antara lain:

1.      Belum terbangunnya rasa persaudaraan diantara warga kelas.

2.      Belum memahami secara baik akan perbuatan perundungan yang tengah terjadi (baca: ketidak tahuan akan perbuatan yang tidak baik yang tengah mereka lakukan)

3.      Guru (penulis) belum bisa memetakan secara baik tentang kondisi anak yang akhirnya menjadi bahan perundunagn siswa lainnya.

4.      Belum terbangunnya rasa iklusifitas diantara warga sekolah pada ummnya, dan kelas pada khususnya.

Kebiasaan pembulian/perundungan yang rasa-rasanya hampir terjadi dimana-mana seakan-akan telah menjadi hal yang lazim. Kelaziman salah kaprah yang harus segera dibenarkan. Mudahkah....tentu tidak. Tak semudah membalikkan telapak tangan.

Alih-alih ingin menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, justru kejutan kecil yang cukup membuat syok yang kudapat. Menghadapi anak dengan kondisi lamban belajar, bagi penulis bukalah perkara mudah. Selain ilmu dalam teknik penanganan yang masih terus penulis pelajari, kondisi lingkungan kelas bahkan sekolah yang kurasa masih belum selaras.

Keberadan seorang anak dengan kondisi lamban belajar yang pada akhirnya menjadi bahan perundungan siswa lain, tentu PR besar bagi penulis. Terlebih hal ini pernha terjadi ketika pelajaran penulis berlangsung. Untungnya tangis itu tak lama. Bahkan sampai hari ini, belum pernah penulis dengar seperti apa suaranya.

Beberapa hal yang tengah dan masih terus penulis jajaki untuk bisa membantu anak-anak dengan kondisi tersebut diatas antara lain dengan :

1.      Menciptakan iklim kelas yang kondusif. Iklim kelas yang bisa memahami adanya Perbedaan dan dapat menerima perbedaan tersebut. Mampu menumbuhkan empati untuk dapat membantu kekurangan dalam diri orang lain. Bukan sebaliknya.

2.      Identifikasi potensi dan persoalan yang ada di kelas atau sekolah secara mendalam.

3.      Menentukan tujuan yang mau dicapai atau dinginkan di kelas atau sekolah.

4.      Mendesign kegiatan yang menjadi cara mencapai nya (bimbingan khusus diluar jam belajar).

5.      Semua dilakukan dengan bantuan tim khusus kecil yang sengaja dibenttuk (guru BK, wali kelas, waka kesiswaan, guru Bahasa Indnesia)

6.      Melakukan evalusi secara berkala untuk melihat progres yang ada.

Bukan lah perkara mudah, namun penulis yakin bukan berarti satu hal yang tak bisa dicoba. Untungnya begitu kelas usai dan tangisnya mereda, sambil penulis dekati anak tersebut dia masih mau berkomunikasi dengan penulis. Walau hanya sebatas anggukan dan gelengan kepala saja. Setidaknya ada sedikit rasa lega dalam benak penulis, kau tidak marah denganku nak...satu hal yang akan selalu penulis jaga, minimal satu langkah awal yang baru bisa penulis lakukan untuk tetap bisa mendekatinya.

Alangkah banyak hal yang belum penulis ketahui. Selalu ada hal-hal baru yang penulis temui setiap hari. Penulis akan coba berusaha untuk bisa mencari jalan keluar dari permasalahan yang tak dapat dikatakan ringan dan bisa dengan begitu saja untuk diabaikan. PR besar menanti, harus berusaha menggarap classroom community building. Semoga niat penulis tuk menolongnya, tak membuat semakin menjerumuskannya....

Apa yang akan penulis lakukan, penulis pun tak bisa memberikan jawaban tentang bagaimana nanti hasil yang akan dicapai. Penulis pun tak berani menjanjikan akan seperti apa nanti capaian hasilnya. Namun teringat akan petuah bijak dari Alm. Mbah Kyai Moen (Kyai Maimoen  Zubair) yang pernah penulis baca. Petuah bijak itu kurang lebih seperti ini, “Jadi guru itu tidak usah punya niat untuk membuat orang pintar, nanti kamu hanya akan marah-marah melihat muridmu ga pintar. Ikhlasanya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak , serahkan saja pada Allah. Di doakan saja terus menerus, agar muridnya mendapatkan hidayah.”

Kalimat bijak Mbah Kyai Moen itu penulis coba pahami perlahan. Yang penulis maknai dari kalimat tersebut adalah, sebagai seorang guru wajib kita untuk menyampaikan dengan baik. Perkara nanti hasilnya seperti apa, penuls rasa itu bukanlah ranah kita untuk menentukannya. Biarkan hal tersebut menjadi hak prerogatif Allah. Yang penting, apa yang saat ini kita/penulis bisa lakukan adalah lakukan. Hal sekecil apa pun, ntah bagaimanapun nanti hasilnya, yang penting aksi itu sudah kita lakukan.

Hanya sekedar wacana atau retorika belaka sasa, tidak akan pernah membuahkan hasil apapun. Satu petuah bijak lagi penulis ingat dari Kyai kondang KH. Abdulllah Gymnastiar (Aa Gym), yang menyampaikan kurang lebih.”Mulai dari hal kecil, dari diri kita sendiri, dan lakukan hari ini.”

Dua kalimat motivasi diatas setidaknya yang coba penulis coba lakukan saat ini. Sekali lagi, tak ada hal satupun yang berani penulis janjikan. Hanya satu hal yang penulis pahami, sekecil apapun usaha yang kita lakukan kelak pasti akan membuahkan hasil. Terkait hasil yang akan kita peroleh, biarlah Allah yang berkehendak dan bukan urusan kita. Kewajiban kita hanya sebatas melakukan hal terbaik yang kita bisa.

Tulisan ini penulis dedikasikan khusus untuk murid-murid penulis yang bisa jadi sangat banyak mengalami kesulitan belajar, terutama terkait lamban belajar. Pernah berada dalam posisi yang kurang lebih sama, adalah hal terbesar yang memotivasi bagi penulis untuk bisa mengulurkan tangan untuk bisa membuat perubahan sekecil apapun.

Penulis menyadari, paparan yang telah penulis sampaikan masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya masukan dan saran membangun demi perbaikan tulisan ini ke depan. Penulis pun sangat terbuka dengan diskusi lanjut yang dapat kita bangun bersama. Semoga sekelumit buah pikir dan dan pengalaman penulis, dapat menjadi bahan bacaan yang bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya. 


Dibaca: 60 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter