Sumbangsih Sains Dalam Membentuk Moral Siswa

Sumbangsih Sains Dalam Membentuk Moral Siswa

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Kenakalan remaja belakangan ini cukup memilukan dan memiriskan hati. Bukan lagi sekedar bolos sekolah, kenakalan yang mereka lakukan sudah cenderung ke arah kriminal. Merokok, obat-obatan, membawa senjata tajam, dan bahkan tragis  berakhir dengan hilangnya nyawa.

Sekolah sebagai salah satu lembaga formal tempat anak-anak menimba ilmu, tentu menjadi pihak pertama yang biasanya akan dicari oleh pihak aparat keamanan. Namun apakah hal ini mutlak menjadi tanggung jawab pihak sekolah? Tentu tidak. Dan seharusnya sudah dipahami oleh semua pihak, terutama orang tua.

Tetap kembali pada tanggung jawab orang tua sebagai penanggung jawab utama bagi anak-anaknya. Sekolah sebagai lembaga formal, sebenarnya hanya menjadi pelengkap pendidikan moral yang sudah diberikan dalam keluarga.

Pendidikan yang diberikan pihak sekolah pun sebenarnya sudah lebih dari cukup. Namun mengapa hal ini belum bisa menjadi jaminan bahwa anak-anak ada dalam koridor yang kita inginkan. Mimpi bangsa ini untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berilmu, berbudi dan bertaqwa rasanya masih jauh dari angan-angan.

Pendidikan agama dan pendidikan moral yang diberikan di sekolah masih belum juga bisa membina moral anak-anak. Belum lagi tambahan pelajaran-pelajaran lain yang semuanya pasti memberikan nilai-nilai moral yang sama. Termasuk juga ilmu sains.

Jika ilmu-ilmu sosial mungkin lebih dikenal di masyarakat dengan ilmu-ilmu tentang peradaban dan nilai sosialnya, sebenarnya ilmu sains pun sama halnya. Kontribusi ilmu sains tidak kalah dengan ilmu-ilmu sosial. Keterampilan berfikir kritis dan objektif adalah hal mendasar yang mungkin langsung tergambar dari kajian ilmu sains.

Penanaman kejujuran, disiplin, menghargai diri sendiri, sesama, dan bahkan alam sekitar, kepeduliaan, kerja sama, kerendahan hati, mau mengakui nilai yang sebenarnya, dan nilai-nilai lain terkait dengan kehidupan manusia terus diupayakan penerapannya dalam kajian ilmu sains.

Sebagai seorang yang dari dini di didik dan diajar dalam ilmu sains, dan berkecimpung dalam terus belajar ilmu sains, tentu hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi penulis. Padahal, ilmu sains dapat membentuk pola pikir yang tentunya tidak kalah dengan ilmu lainnya.

Sikap-sikap yang selalu dilakukan dalam ilmu sains, sepertinya belum dapat diterapkan oleh anak-anak. Rasa ingin tahu yang masih mendominasi mereka, belum dapat dikelola dengan proses yang benar sesuai dengan prosedur. Hingga akhirnya kesalah kaprahan yang mereka tuai.


Guru-guru sains, pada umumnya menyisipkan nilai-nilai moral pada tahap proses maupun produk. Guru tidak sekadar menyampaikan konten pelajaran, yang lebih mengedepankan dalam pelajaran sains, ketiga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik selalu diupayakan untuk diwujudkan dalam proses dan aplikasi nyata.

Pembelajaran sains yang diberikan pada anak di sekolah baik itu Biologi, Fisika, Kimia kesemuanya mengajarkan nilai-nilai moral yang tentunya sangat penting bagi kehidupan. Selain mempelajari kajian keilmuan yang berhubungan dengan hidup dan kehidupanya tersebut.

Misalnya dalam pembelajaran Biologi, guru tentu tidak saja hanya memberikan materi untuk dihafalkan. Namun lebih dari itu, berharap anak-anak akan dapat lebih mengenal dan menyayangi tubuhnya. Bentuk menghargai dan menyayangi tubuh bisa dengan tidak mengkomsumsi alkohol, piercing (tindik anggota badan), narkoba dll.

Dalam pembelajaran Fisika, anak-anak diajarkan bagaimana bisa mengaggumi alam semesta yang merupakan karya Maha Agung. Tentunya sebagai bagian dari mahluk ciptaan-Nya kita tidak diperkenankan untuk sombong membanggakan diri. Kita diajarkan untuk dapat menjaga keseimbangan semesta ini.

Pun demikian dengan pembelajaran Kimia. Rasa-rasanya, semua materi kehidupan yang kita sentuh dan temui dalam kehidupan sehari-hari adalah materi kimia yang perlu kita pelajari. Dan tentunya, kembali lagi hal ini mengajarkan kita untuk pandai dalam bersykur.

Terkait dengan pembelajaran/kegiatan praktikum, baik itu di dalam maupun di luar ruangan banyak hal yang juga disampaikan terkait pesan moral. Anak-anak selalu diajarkan untuk dapat berfikir kritis, menempuh proses yang benar, dan tentunya objektifitas dalam kegiatan yang mereka lakukan haruslah di kedepankan. Belum lagi nilai-nilai kesetiakawanan, kerja sama dalam kelompok adalah hal yang lumrah dan lazim dilaksanakan dalam pembelajaran sains.

Dari semua yang penulis paparkan diatas, tentu ada benang merah yang dapat kita tarik di setiap elemen pembelajaran sains, semuanya kembali pada hal terkait pengakuan terhadap kebesaran-Nya. Dan tentu saja hal ini selalu terkait dengan nilai-nilai dan pesan moral yang tak perlu lagi diragukan.

Penanaman nilai-nilai baik, tidak saja pada diri sendiri, sesama manusia, alam dan sekitar juga tentunya kembali pada keyakinan akan ke Maha Agungan sang Pencipta. Penerapan dan upaya penanaman kesadaran tersebut tentu juga melalui proses yang selalu mengupayakan anak-anak langsung terlibat di dalamnya. Secara sadar melalui proses yang mereka lakukan, diharapkan kesadaran itu akan muncul.

Apa yang telah penulis paparkan, tentu murni dari sudut pandang penulis. Penulis menyadari, masih begitu banyak kekurangan dari apa yang telah penulis paparkan diatas, baik dari segi konten maupun teknik penulisan. Untuk itu penulis sangat terbuka akan saran dan masukan yang membangun. Tak lupa, penulis pun terbuka dengan diskusi lanjut yang dapat kita bangun. Semoga sedikit goresan ini dapat menjadi bahan bacaan yang bermanfaat.

Semoga kehadiran Bapak Ibu Guru sains di sekolah dapat terus sama-sama berikhtiar membentuk genarasi yang tak hanya pintar tapi juga beradab. Apalah arti kepandaian, tanpa diimbangi dengan sifat budi pekerti yang baik. Selamat berkarya, dalam berkah dan kasih-Nya.


Dibaca: 50 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter