Saat Jarimu Adalah Harimau Mu

Saat Jarimu Adalah Harimau Mu

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Kebebasan setiap orang dalam mengemukakan pendapat memang dijamin oleh undang-undang. Termasuk dengan kebebasan semua peserta didik dalam mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Bicara tentang kebebasan dalam mengekspresikan pendapat, maupun luapan dan ekspresi emosi yang tengah mereka rasakan, tentu banyak sekali media atau wahana yang dapat mereka gunakan.

Kecangggihan teknologi dewasa ini, khususnya teknologi terkait informasi rasanya sudah bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Bahkan gawai atau telepon genggam versi terbaru pun sudah seperti kacang goreng yang begitu cepat laku dipasaran luas. Termasuk dengan penggunaan gawai di lingkungan masyarakat luas termasuk anak-anak yang berada di daerah seperti kami. Bahkan tidak jarang, gawai yang mereka miliki jauh lebih terbaru dan lebih mahal tentunya daripada gawai yang dimiliki oleh bapak ibu gurunya di sekolah.

Anak-anak yang berada di sekolah sebagai rumah kedua bagi mereka tentu terbatas pada waktu yang mereka gunakan. Mereka berada di sekolah hanyalah sebatas dari pukul 07.00 hingga maximal pukul 15.00 di sekolah. Selebihnya tentu ini menjadi tanggung awab orang tua mereka kembali.

Namun pada kenyataannya, kejadian-kejadian terkait kebablasan mereka dalam kesalahan penggunaan teknologi yang salah kaprah justru banyak terjadi di luar jam sekolah. Meskipun terjadi diluar jam sekolah, tentu saja pihak sekolah tidak dapat lepas tangan begitu saja. Karena hal yang paling mudah untuk mengenali anak tersebut tentu dari identitas sekolah yang begitu melekat dalam diri mereka.

Hadirnya begitu beragam media sosial yang seakan-akan telah begitu menyatu dengan kehidupan dan gaya hidup dewasa ini, masih sering tidak dipahami dengan baik keberadaanya terutama oleh anak-anak. Perhatian orang tua yang kurang, kesibukan orang tua yang seakan-akan sering menjadi alasan tertinggi saat ini, dan tingkat pendidikan orang tua yang tidak begitu baik seakan juga melengkapi hal ini. Anak difasilitasi dengan sarana teknologi yang terbaru, tanpa adanya dampingan dan pantauan dari pihak orang tua. 

Akhirnya anak lepas dari kontrol dan pantauan orang tua dan juga guru di sekolah. Media sosial acap kali menjadi wahana mereka yang tak saja digunakan untuk sekedar mencari hiburan semata, aktualisasi dan ekspresi diri, namun sering juga digunakan menjadi sarana saling hujat dan menebarkan ujaran kebencian dan segudang caci makian lainnya. Jika hal ini terjadi, siapa yang paling mudah untuk dicari? Tentu pihak sekolah sebagai tempat anak tersebut bernaung.

Masih belum paham dan bijaknya anak-anak dalam pengguanaan teknologi dewasa ini, diperkuat dengan kurangnya pantauan dari pihak orang tua, kerap kali menjebak anak dalam pusaran masalah yang mungkin tak mereka sadari.

Tidak selalu mudah dalam menangani hal semacam ini. Belum lagi terkadang kami menemui kendala justru dari pihak orang tua anak itu sendiri. Keadaan orang tua yang tidak mau bahkan tidak terima apabila anaknya dalam posisi yang tersalahkan. Bahkan tidak jarang, luapan emosi para orang tua kerap kali mewarnai pembinaan dan bimbingan yang kami berikan.

Penggunaan teknologi tanpa adanya kontrol diri dari anak tersebut tentulah menimbulkan efek yang dapat dikatakan cukup menghebohkan. Bukan saja nama sekolah, nama orang tua, pihak terkait yang merasa dirugikan, tapi juga menyangkut langsung pada pribadi anak tersebut.

Pendekatan secara personal dan terbimbing langsung kami lakukan dengan beberapa guru yang dibentuk secara khsusus. Pendekatan dengan pola kekeluargaan dan memberikan pemahaman dan pengertian secara gamblang adalah hal yang dapat kami lakukan untuk menyadarkan anak tersebut. Pemahaman yang kami berikan, diupayakan tetap dengan memperhatikan kondisi anak.

Anak yang masih dalam kondisi tahap belajar tentu juga masih labil dalam urusan pengelolaan emosinya. Bukan berarti anak yang salah lantas dapat kita adili begitu saja. Jangan sampai anak juga merasa terpojokkan, dan ujung-ujungnya niat baik kita untuk meluruskan justru akan menemui jalan buntu, akibat anak akan merasa takut.

Dari kejadian yang akhirnya menyeret mereka dalam pusaran permasalahan ini, tentu saya sebagai salah seorang guru yang menjadi pengajar mereka apalagi dengan tugas tambahan sebagai pembantu guru BK dan juga humas tentu juga harus ikut turun tangan.

Akibat ulah yang mereka lakukan akibat penggunaan teknologi tanpa adanya kontrol diri tentu saja dapat merepotkan dan melibatkan banyak pihak di dalamnya. Nama sekolah, orang tua, dan tentu saja si anak tersebut.

Bimbingan secara terarah dan bersifat keluargaan yang saya dan rekan-rekan lakukan, dengan diperkuat adamya peranjian hitam diatas putih tentu diharapakan mampu menjadikan hal ini menjadi pengalaman belajar yang cukup mengena. Dengan adanya peristiwa ini, kami berharap anak-anak tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Hal ini juga merupkan bagian dari disiplin positif yang tangah kami upayakan di sekolah kami. Tidak semudah membalikkan telapak tangan memang, namun bukan berarti satu hal yang tak layak untuk dicoba.

Teknologi boleh saja menguasai dunia saat ini. Namun jangan sekali-kali pikiran, emosi dan segala tindak tanduk kita terkuasi oleh teknologi. Sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, tetaplah sebagai umat manusia kita yang harus dapat mengendalikan itu semua. Kalau kita tak mampu mengendalilkan itu semua, bukan hal mustahil jika jari ini justru yang akan menerumuskan kita ke dalam lembah masalah.


Dibaca: 65 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter