Partial Lockdown

Partial Lockdown

Oleh :

Herwan S.Pd.I, M.Mpd

(Guru PAI. SMAN 1 Parungkuda Kabupaten Sukabumi)

 

Syaikh Ali Ash Shalabi dalam karyanya mengisahkan tentang Khalifah Umar bin Khattab Ra.

 

Tahun 18 H. Hari itu Khalifah Umar bin Khattab Ra bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka berhenti didaerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri tersebut. Tha'un adalah sebuah penyakit pandemi yang menular, berjangkit didaerah Amwas Syam (Palestina), penderitanya berupa benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan, pagi terserang sore meninggal dunia, demikian juga sebaliknya.

 

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar Ra, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan. Abu Ubaidah Ra menginginkan mereka masuk, sementara Umar dan sahabat lainnya enggan memasuki Syam. Abu Ubaidah berkata "Mengapa engkau lari dari takdir Allah Swt wahai Amirul Mukminin?" Tanya Abu Ubaidah.

 

Lalu Umar Ra menyanggahnya dan bertanya. "Jika kamu punya kambing dan ada dua lahan yg subur dan yg kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu?. Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yg lain." Ucap Umar Ra.

 

Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf Ra mengucapkan hadist Rasulullah Saw. "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya." (HR. Bukhari & Muslim).

 

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Umar Ra merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yg dikaguminya, Abu Ubaidah Ra. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah. Namun beliau adalah Abu Ubaidah Ra, yang hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya. Umar Ra pun menangis membaca surat balasan itu. Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah Tha'un dinegeri Syam.

 

Total sekitar duapuluh ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu. Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash Ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau lah yang menyelamatkan Syam hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini salah satunya dengan memisahkan orang yang sehat dengan orang yang sudah terjangkiti. Disamping itu, Amr bin Ash berkata:

"Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jauhilah dan berpencarlah dengan menempat di gunung-gunung." Ujar beliau.

 

Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung.

Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

 

Sudah semestinya kita belajar dan mengambil ibrah dari bagaimana orang-orang terbaik itu mencermati dan   bersikap terhadap wabah penyakit. Kisah inilah yang harus menjadi panduan dan kabar gembira ditengah kesedihan ini untuk kita semua karena merebak dan berjatuhannya korban pandemi Covid-19. Belajar dari fenomena kisah orang-orang terbaik diatas, ada konsep yang harus kita lakukan dengan segera, yaitu:

 

Pertama, karantina atau lebih tepatnya partial lockdown, partial lockdown adalah mengunci akses masuk secara sebagian atau parsial, khususnya didaerah-daerah yang sudah terpapar Covid-19. Dengan tentu saja negara hadir untuk mencukupi kebutuhan hidup masyarakat yang sedang dikarantina, agar tidak keluar dari daerah yang terpapar, sebagaimana sabda Rasulullah Saw diatas. Maka dari itu kebijakan berdiam diri di rumah dan menghindari kerumunan manusia menjaga diri dari keramaian (social distancing) harus benar-benar dilaksanakan agar pergerakan penularan dapat diminimalisir sampai wabahnya berhenti.

 

Kedua, bersabar. Karena Rasulullah Saw bersabda:

"Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin. Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah Swt tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid.

(HR. Bukhari dan Ahmad).

 

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah. Karena Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah Allah Swt menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya." (HR. Bukhari).

 

Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya. Kita pun harus menyempurnakan ikhtiar dengan tetap menjaga kesehatan dan kebersihan, mencuci tangan dengan sabun, mendawamkan wudlu dan segera memeriksakan diri ke dokter saat ada gejala-gejala yang menunjukkan Covid-19.

 

Yang keempat, banyak berdoalah. Dan doa-doa keselamatan itu sudah kita lafadzkan di setiap pagi dan sore. Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say'un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul'alim

(Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui). Wallahu a'lam.

 

Dari berbagai sumber.

Sahabat karib Anda:

Herwan


Dibaca: 127 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter