From Zero To Hero

From Zero To Hero

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Tugas tambahan sebagai seorang humas madrasah lagi-lagi menjadi satu hal yang akan terus penulis syukuri. Betapa tidak? Sekalipun diawali dengan sesuatu yang baru bagi penulis, tentu tak mudah dalam menjalani biduk menjadi seorang humas madrasah. Seperti yang pernah penulis sampaikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, begitu banyak hal yang harus “terpaksa’” penulis pelajari dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Pengalaman selalu akan menjadi guru terbaik. Sepanjang kita mau terus belajar dan memaknai pengalaman yang ada untuk bisa melangkah lebih baik. Pun demikian halnya dengan apa yang penulis terima dan jalani selama menjadi humas madrasah. Salah satunya adalah berkah dalam menulis.

Mengapa menulis? Tentu sebagai seorang humas, salah satu kemampuan yang dituntut adalah bisa menyampaikan segala informasi. Informasi yang diberikan tentu saja, tak selamanya dalam bentuk lisan namun juga dalam bentuk tulisan. Nah, disitulah awal mula berkah itu dimulai.

Kesulitan, tak tahu harus memulai dari mana? Tentu hal tersebut pun pernah penulis alami. Bahkan parahnya lagi, tidak tahu harus kepada siapa tuk bertanya. Akhirnya keputusan untuk belajar mandiri melalui sarana dan prasarana yang tak bisa dibilang mewah menjadi satu-satunya jalan keluar. Tapi akhirnya dalam perjalanan menulis itulah akan banyak kita temui kemudahan-kemudahan yang dapat memberikan energi positif yang luar biasa.

Lalu bagaimana semangat dan keistiqomahan itu harus terus dipelihara? Akan banyak hal yang dapat menunjang keinginan tersebut. Namun tentunya semua itu harus kita cari sendiri. Tidak akan datang tiba-tiba seakan berkah yang mendadak jatuh dari langit. Butuh perjuangan, usaha dan tentunya diiringi dengan doa yang tiada pernah putus.

Tak dapat penulis pungkiri, kalau mata ini akan langsung cepat tertuju pada postingan tentang menulis. Mengapa demikian? Karena penulis menyadari bagi penulis, menulis bukanlah bakat yang diturunkan. Melainkan ketekunan yang harus terus dipupuk dan dirawat. Tak ubahnya seperti kita dalam memelihara tanaman.

Bakat saja bagi penulis tiadalah artinya tanpa keistiqomahan kita dalam terus menjaganya. Penulis selalu memaknai alah bisa karena biasa. Dan penulis sangat percaya pepatah bijak yang mengatakan, bahwa pisau tajam karena seringnya diasah.

Sejatinya menulis pasti bisa dilakukan oleh semua orang. Karena menulis tak ubahnya sebagai sarana kita dalam membangun komunikasi. Apalagi bagi seorang guru, menulis rasa-rasanya bukanlah hal asing dan baru lagi. Bukankah begitu?

Susah bagaimana harus mengawali? Tidak tahu apa yang harus ditulis? Dan sejuta pertanyaan lain yang biasanya sering singgah saat kita sering berdiskusi. Dahulu pun penulis pernah mengalami sejuta pertanyaan diatas. Namun penulis  menyadari, meskipun sejuta jawaban yang kita terima sekalipun tanpa pernah ada satu upaya pun untuk memulai, sama dengan nol besar. Hanya sejuta alasan yang berakhir dengan bualan.

Apapun yang sempat kita pertanyakan, dan apapun jawaban dan motivasi yang diberikan oleh pihak lain, tanpa adanya satu tindakan satupun sama dengan bualan semata. Segala hal baik yang berasala dari luar, sebagus dan sehebat papun tidak akan pernha ada artinya, kalua kita sendiri belum pernah mau mencoba, dan terus mencoba.

Menulis butuh proses dan komitmen yang luar biasa besar. Tidak cukup dalam hitungan jam ataupun sehari dua hari saja untuk terus menulis. Setidaknya hal itulah yang penulis rasakan dan alami. Dan satu hal paling sulit di dunia ini bagi pribadi penulis adalah berkomitmen dengan diri sendiri. Acapkali kembali beribu alasan yang kita buat sendirilah yang akhirnya merusak semua itu.

Lantas, apakah selama ini penulis sudah merasa bisa dalam menulis? Jawaban besar dan bila perlu akan penulis garis bawahi dan tuliskan dengan tinta merah sekalipun adalah belum. Penulis masih akan terus belajar, belajar, dan belajar. Bukankah sejatinya kita adalah pembelajar sepanjang hayat? Maka disanalah ketika penulis menemukan tulisan yang membangun dan memberikan efek positif dalam kegiatan menulis penulis akan langsung terpikat.

Tak perlu merasa kecil dan rendah diri hanya karena tulisan kita belum sehebat penulis besar. Bukankah sejatinya penulis hebat sekalipun juga memulai dari menjadi seorang penulis pemula. From zero to hero...Berani memulai? Dan percayalah, terkadang dengan apa yang kita tulis bisa membuat orang lain merasa bahagia. Bukankah itu suatu hal yang indah? Lagi-lagi, setidaknya itulah yang penulis rasakan dan sangat menikmati.

Berada dalam komunitas yang sama-sama punya minat dalam tulis menulis juga merupakan salah satu upaya untuk terus membangun nilai baik dalam menulis. Mengingat dalam komunitas tersebut, tentu banyak hal baik yag dapat kita gunakan sebagai pelajaran yang berharga. Terus menimba ilmu dan keterampilan dari siapun orangnya, tak perlu merasa malu hingga akhirnya menulis pun tak jadi. Kembali beralasan.

Jadi jangan pernah berkecil hati. Mulailah menulis apapun yang ada dalam benak kita. Apa yang telah penulis paparkan, tentu murni dari sudut pandang penulis. Penulis menyadari, masih begitu banyak kekurangan baik dari segi konten maupun teknik penulisan. Untuk itu penulis sangat terbuka akan saran dan masukan yang membangun. Tak lupa, penulispun terbuka dengan diskusi lanjut yang dapat kita bangun. Semoga sedikit goresan ini dapat menjadi bahan bacaan yang bermanfaat.


Dibaca: 38 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter