Belajar Dari Sebuah Musibah

Belajar Dari Sebuah Musibah

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Rizki, jodoh dan maut adalah ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah. Semua kejadian yang terjadi, pasti semua terjadi atas izin dan kehendak-Nya. Alih-alih bersimpati terhadap musibah yang baru saja menimpa murid-murid SMPN 1 Turi Sleman Yogyakarta, yang ada justru sebaliknya.

Rattusan murid hanyut dalam kegiatan susur sungai yang mereka lakukan siang menjelang sore tersebut. Air bah yang tiba-tiba datang menggulung, tak mampu mereka hindari, hingga musibah itu pun tak dapat dielakkan. Kegiatan yang semula direncanakan menjadi ajang pembelajaran yang menyenangkan, dalam sekejab berubah menjadi kejadian yang sangat mengerikan.

Seketika berita itu muncul dipermukaan, dengan kecanggihan teknologi informasi dewasa ini seakan semakin membuat runyam. Hujatan,cacian dan makian menghampiri disaat tengah dirundung duka. Penulis yakin, tak ada niat sedikitpun untuk mencelakai anak-anak tersebut. Terlebih bagi seorang guru yang layaknya adalah orang tua kedua bagi anak-anak selama berada di sekolah.

Kita semua tahu, kegiatan pramuka telah ada sejak lama bangsa ini berada. Sebagai salah satu pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa. Menciptakan generasi-generasi muda yang siap dan mandiri dalam hidup dan kehidupannya. Kegiatan pramuka yang identik dengan alam pun, pasti juga syarat akan makna dan harapan yang akan disematkan pada anak-anak. Sekali lagi penulis yakin, tidak ada niat sedikit pun untuk menjemput petaka.

Berkawan dengan alam, kita tak pernah tahu tentang apa yang akan terjadi di depan. Mungkin terlebih dengan kondisi cuaca  yang sedang tak menentu akhir-akhir ini. Lantas, apakah dengan hujatan, cacian dan cibiran yang kita berikan akan membuat suasana menjadi lebih baik? Tentu tidak.

Alangkah lebih baiknya, kita doakan saja supaya anak-anak yang belum ditemukan segera dapat diketahui keberadaannya. Pencarian yang telah berlangsung dengan begitu sigapnnya, tak perlu kita kotori dengan ungkapan-ungkapan yang kurang layak untuk disimak. Tanpa harus mengeluarkan hujatan, cacian dan cibiran, tanpa semua itu pun penulis yakin, para guru dan pembina yang terlibat sudah sangat terpukul dengan musibah ini.

Satu pelajaran berharga bagi kita semua. Menjadi bahan evaluasi bagi semua, termasuk juga bahan masukan untuk kegiatan kepramukaan saat ini. Materi-materi diluar kegiatan alam mungkin dapat kita masukkan ke kurikulum kepramukaan. Tanpa tidak mengurangi rasa hormat terhadap materi-materi yangs selama ini sudah berjalan dengan baik.

Meninjau ulang dan berinovasi tentang materi ajar,seperti nya hal yang wajar dan lumrah. Terlebih anak-anak ini akan hidup di zaman yang tentunya sudah sangat berbeda dengan kita saat dulu dan sekarang. Di era serba digital seperti saat ini, mungkin ada baiknya kita juga mulai melirik bagaimana cara survival di era digital untul para milenial...

Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang telah terjadi. Biarkanlah aparat berwenang yang akan menindak lanjuti lebih intens. Cukup penguatan dan doa yang bisa kita berikan, baik kepada korban, orang tua, dan terlebih pada pihak sekolah. Semoga anak-anak yang lain segera ditemukan keberadaannya. Untuk yang menjadi korban jiwa, semoga Allah menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan untuk keluarga yang ditinggalakan semoga diberi kesabaran dan ketabahan. Dan tentunya untuk korban-korban luka lainnya dapat segera diberi pendampingan untuk menyembuhkan dari traumanya.  Kepada pihak sekolah, dan utamanya pada para pembina pramuka semoga selalu diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi usibah ini.

Musibah dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada diri kita. Andai kita yang ada dalam posisi mereka, bagaimana rasanya menerima cibiran dan hujatan yang terus berdatangan? Sedih, trenyuh dan marah sekalipun dengan adanya musibah ini adalah hal yang wajar. Sangat manusiawi. Namun, apakah dengan lontaran perkataan yang penuh dengan amarah ini akan dapat mengembalikan seperti sedia kala? Lagi-lagi tentu jawabannya tidak. Biarlah kejadian ini, sebagai pembelajaran buat kita semua. Biarlah kejadian ini sekaligus pengingat bagi kita semua. Dan satu hal yang harus kita ingat, semua terjadi atas izin Nya.

Manusia hakikatnya adalah pembelajar sepanjang hayat. Biarlah hal ini juga menjadi cerminan bagi kita untuk bisa belajar dari sebuah kesalahan. Kesalahan yang tak pernah kita inginkan sekalipun.

 


Dibaca: 78 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter