Anak Polah Bapa Kepradah

Anak Polah Bapa Kepradah

Oleh :

Utik Kaspani,S.P.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Anak sebagai karunia yang Allah berikan tentu sudah selayaknya dan seyogyanya kita jaga dan rawat sebaik mungkin. Ukuran baik tentu relatif bagi setiap orang. Namun ukuran baik juga ada standart minimum yang tentu juga banyak disepakati oleh banyak kalangan, terlebih jika mengacu pada norma dan nilai agama.

Secara spiritual, anak memang bukanlah mutlak milik kita. Kembali pada makna titipan tadi. Ibarat anak panah, orang tua hanya memposisikan diri sebagai busur panahnya saja. Saat anak panah telah berhasil kita lesatkan, disitulah proses utama tengah terjadi.

Sebagai orang tua dan guru, tentu kita berupaya seoptimal mungkin untuk bisa membekali hal-hal baik yang kelak akan bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya kelak. Sebagai orang tua, dimanapun berada, apa pun kondisi dan keadaan orang tua tentu berharap dan berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Perubahan zaman yang terus melaju tanpa bisa kita hentikan adalah sebuah kenyataan yang harus kita terima. Pun demikian dengan keadaan yang pasti akan berpengaruuh terhadap anak-anak kita. Kecangggihan teknologi dewasa ini, seakan membawa anak-anak dengan pengalaman-pengalaman baru  yang serba hebat. Selain serba hebat, mereka juga tumbuh menjadi generasi yang lebih melek teknologi dibanding dengan generasi orang tuanya. Namun, apakah hal ini akan selalu dibarengi dengan baiknya akhlaq dan perilaku para generasi muda ini?

Rasa-rasanya, dunia pendidikan kita sering kali diuji dengan polah tingkah yang membuat kita sering menarik nafas panjang. Dan akibat polah dan tingkah mereka ini tentu ada atau banyak pihak yang dirugikan. Termasuk keberadaan orang tua mereka.

Kenakalan remaja dewasa ini, sudah semakin memprihatinkan. Bukan lagi sekedar bolos sekolah. Namun kenakalan mereka sudah sangat luar biasa bahan menjurus pada hal kriminalitas. Apakah yang terjadi dengan mereka terutama di rumah?

Rumah hendaknya menjadi surga nyata yang ada di dunia. Anak bisa mendapatkan tempat ternyaman dan terdamai yang mereka miliki. Bukan sebaliknya. Kebahagiaan dan kesenangan semu yang mereka dapatkan diluar.

Jangan sampai anak-anak kehilangan figur panutan utama. Baik itu dari orang tua, pun guru yang ada di sekolah. Mereka tetap membutuhkan sosok-sosk yang tidak saja dikagumi namun juga dapat menyayangi dan mengayomi mereka.

Anak polah bapa kepradah, peribahasa Jawa tersebut rasanya pas sekali untuk kita resapi dalam-dalam sebagai orang tua. Tidak saja menjadi orang tua bagi anak-anak yang ada di rumah, pun demikian dengan keberadaan anak-anak yang ada di sekolah.

Sebagai seorang guru, tentu keberadaan seorang guru di sekolah layaknya sebagai orang tua kedua bagi anak-anak. Laksana orang tua pada umumnya, segala tingkah polah anak-anak tentu juga akan membawa  (berpengaruh terhadap keberadan orang tua/guru). Apa yang dilakukan anak akan berimbas kepada orangtuaKembali pada makna bijak diatas, mengapa disebut kata bapa diatas? Jika kita cermati dan telaah lebih dalam, betapa makna kata bapa diatas mengacu pada keberadaan seorang ayah dalam keluarga.

Beberapa kasus belakangan yang sempat penulis tangani di sekolah, seakan-akan menjawab pernyataan diatas. Betapa besar pengaruh keberadaan seorang ayah dalam tumbuh kembang anak-anak dalam keluarga. Idealnya sebuah keluarga yang utuh, terdiri dari ayah ibu dan anak. Namun pada kenyataannya, apa yang kita hadapi tidak selalu seideal gambaran yang ada.

Lagi-lagi persolan kenakalan remaja. Apa yang merasukimu Nak? Belum usai rasanya permasalahan kenakalan remaja beberapa waktu yang lalu, sudah timbul lagi kasus yang tak kalah mengerikannya. Bahkan nyawa taruhannya. Trauma yang kemarin saja terjadi belumlah usai, sudah kembali tertorehkan kembali.

Lagi-lagi dunia pendidikan tercoreng oleh kasus-kasus yang tak bisa dianggap remeh. Persoalan kenakalan remaja diluar sana sudah sangat memprihatinkan. Kenalakan mereka buka lagi sekedar bolos sekolah, namun sudah menuju ke hal anarkhis. Bahkan senjata tajam sudah menjadi barang bawaan mereka.

Melihat keberingasan wajah-wajah mereka saat tertangkap pihak kepolisian pun, rasanya masih sukar dipercaya. Seperti tidak ada roman penyesalan tergambar di wajah mereka. Bahkan tak jarang gelak tawa masih pula mewarnai pembinaan yang dilakukan oleh pihak aparat terkait.

Lalu siapa yang paling gusar saat hal ini terjadi? Tentu banyak pihak, diantaranya pihak keamanan, orang tua, masyarakat, dan tentu termasuk pihak sekolah. Bahkan mungkin pihak sekolah lah yang paling utama dicari oleh pihak keamanan. Tidak menyalahkan pihak aparat, karena hal yang paling mudah mendeteksi keberadaan mereka dari seragam yang mereka pakai.

Identitas sekolah yang juga kerap mereka bawa ke luar, acapkali juga menjadi simalakama. Keonaran yang mereka buat diluaran sana, secara mudah dapat terkuak. Namun juga secara mudah menorehkan arang ke wajah sekolah.

Penulis yakin, tak ada satu orang tua manapun yang menginginkan anaknya terjerumus dalam pergaulan yang salah. Alih-alih menyelahakan kondisi orang tua yang bisa jadi sudah tidak lagi utuh secara umum. Bukannya membantu meringankan beban orang tua dengan sekolah yang benar, malah membuat resah dan khawatir banyak pihak.

Dan pihak sekolah, tentu berada di posisi yang sama. Terkadang dari apa yang penulis amati, kegiatan pembinaan yang dilakukan seakan  tidak menimbulkan efek jera bagi mereka. Bahkan mungkin bisa jadi makin membangkitkan rasa penasaran yang masih tersisa. Parahnya lagi, hal ini semakin memicu mereka untuk melakukan aksi-aksi kebrutalan lainnya yang lebih heboh. Astaqfirullahaladzim....

Keberadaan orang tua yang tak lagi utuh, ntah karena perceraian atau meninggal dunia  tentunya sangat berdampak bagi perkembangan psikis seorang anak. Figur ayah yang ternyata punya pengaruh besar bagi sang buah hati. Namun, apakah kehadiran seorang ayah yang ada dalam keluarga menjamin 100% akan kesuksesan seorang anak dalam meniti hidup dan kehidupannya? Belum tentu juga.

Semoga akan segera ada jalan untuk menuntaskan aksi-aksi kebrutalan ini. Ibarat memutuskan ikatan mata rantai setan yang terus menghantui, tentu butuh strategi dan cara yang luar biasa.  Mau dibawa kemana bangsa ini, kalau generasi-gneerasi harapan bangsa kita seperti ini adanya? Sadarlah Nak, bukan saatnya untuk adu kekuatan dengan cara kebrutalan. Namun belajar penuh makna adalah hal terpenting untuk terus mengawal negeri ini dan membangun masa depan yang lebih baik.

Oleh sebab itu, keberadaan guru di sekolah sebagai pengganti sosok orang tua selama di sekolah memegang peranan yang cukup vital. Semoga kehadiran bapak ibu guru di sekolah dapat mengisi sedikit celah kekosongan yang bisa jadi tak dimiliki oleh anak di rumah. Selamat berkarya, dalam berkah dan kasih-Nya.


Dibaca: 59 Kali

Sekretariat

Jl. Jenderal Sudirman No. 644

Bandung 40183 Jawa Barat Indonesia

Visitors Counter