Rabu, 23-10-2019 | 11:21:06

Laksana Menegakkan Benang Basah

Oleh:

Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

Tulisan ini penulis buat sebagai refleksi selama hampir empat belas tahun mengabdi sebagai pengikut barisan Oemar Bakrie. Tentu masih sangat terbilang belia dan masih sangat seumur jagung untuk ukuran pengabdian pada anak negeri. Masih harus terus benar-benar kembali pada niat semula saat pertama memutuskan niat belajar menjadi seorang guru.

Profesi guru tentu profesi mulia yang tak akan lekang oleh waktu. Profesi yang mengabdikan ilmu dan pengetahuannya untuk dibagikan bagi anak didiknya secara tulus dan ikhlas demi kemajuan bersama.

Namun dari tahun ke tahun dalam meretas asa menjadi seorang guru, ada sedikit keprihatianan dan terkadang rasa kecewa dan hampir putus asa melihat bagaimana perkembangan anak-anak didik dari hari kehari. Apakah ada yang salah dengan apa yang telah kami lakukan dalam mendidik mereka sehari-hari?

Menjadi seorang guru tentu adalah menjadi seorang yang harus terus mau belajar sepanjang hayat. Semua guru adalah semua murid. Dari kalimat ini, tentu sebagai seorang guru dituntut untuk terus belajar, belajar sepanjang hayat. Tak ada kata lelah untuk terus mau meng up-grade kompetensi keilmuannya sepanjang masa.

Dalam menjalani hari berkutat dengan mereka, terutama ketika sudah tekait dengan masalah etika dan norma, terkadang penulis merasa disatu titik yang sangat memprihatinkan. Apakah memang seperti ini kondisi anak-anak di zaman sekarang. Saat ketika ingin menerapkan disiplin positif yang tak hanya sebatas pada teori belaka.  

Disiplin positif yang coba kami terapkan di madrasah kami, sebagai upaya nyata menuju madrasah ramah anak dalam implementasinya tak semudah teori yang kami baca. Banyak sekali kendala dan hambatan juga tantangan yang kami hadapi. Tak jarang terkadang perasaan ingin menyerah kerap menghampiri.

Beratnya tantangan yang terkadang penulis hadapi, tak melulu dari para siswa saja. Terkadang konsep disiplin positif yang coba kami terapkan, belum sepenuhnya dipahami oleh semua guru. Masih terpecahnya pemahaman dan konsep disiplin posistif itu sendiri justru terkadanag penulis rasakan justru berasal dari dalam (pihak sesama pengajar).

Membangun dan menerapkan nilai disiplin nyatanya tak semudah teori yang penulis bayangkan. Bahkan istilah disiplin positif, lambat namun pasti, kami tentu berupaya membangun kedisiplinan yang tidak diasosiakan dengan kekerasan, baik kekeresan secara fisik maupun secara verbal.

Kami sangat menyadari, memang hukuman yang bersifat fisik tidak akan memberikan dampak positif apapun. Justru akan meninggalkan kenangan dan mungkin juga trauma pada anak.

Beberapa ahli mendefinisikan disiplin positif secara bervariatif, namun secara umum terdapat pengertian-pengertian yang dapat diterima bersama, bahwa disiplin positif adalah:

  • Sebuah bentuk penerapan disiplin tanpa kekerasan.
  • Upaya mengomunikasikan perilaku yang efektif antara orangtua dan anak.
  • Mengajarkan anak untuk memahami konsekuensi dari perilaku mereka.
  • Mengajarkan anak tanggung jawab dan rasa hormat ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Menerapkan disiplin positif di madrasah, tentu juga harus dipahami terlebih dahulu oleh para guru sebagai garda terdepan di lapanagn dalam keseharian menghadapi siswa. Kesepakatan dan kesepaham awal harus terlebih dahulu dan disepakati oleh semua pihak tanpa terkecuali.

Keseragaman pemahaman diantara para pengajar tentu akan memudahkan dalam implementasi nyata yang mulai dapat kita terapkan sehari-hari. Jika hal ini telah dipahami, baru kita sebagai guru dapat mulai melangkah dengan satu pandangan yang sama. Tujuan dari penerapan implementasi ini tentu untuk  membantu para siswa memahami apa yang baik dan tidak baik bagi dirinya, untuk selanjutnya membantu mereka memahami bagaimana standar perilaku yang baik terhadap lingkungannya.

Banyak hal yang dapat kita peroleh dengan penerapan disiplin posistif ini tentunya, diantaranya memperkuat hubungan dengan anak, memahami perspektif anak-anak, membangun empati mempromosikan pengaturan diri (self-regulation), meniadakaan atau mengurangi hukuman memperkuat kepercayaan, dan memfasilitasi pemecahan masalah.

Menumbuhkan kesadaran pada diri anak memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Belum lagi pola asuh keluarga yang perlu juga kita lihat. Mengingat anak hanya dititipkan di madrasah sebagai rumah keduanya hanya sekitar 7-8 jam saja, tentu selebihnya akan kembali lagi pada keluarga masing-masing.

Komunikasi yang dibangun juga perlu dipererat juga dengan pihak orang tua, sebagai pengendali dan penanggung jawaab utama anak-anak saat berada di rumah. Butuh adanya kesaamaan visi dan misi untuk dapat meraih cita-cita yang sama.

Penulis menyadari masih banyak hal yang belum dapat kami lakukan secara maximal untuk mendapatkan hasil yang optimal. Masih banyak pekerjaan rumah yang masih tertunda yang belum kami selesaikan untuk mengharapakan apa yang kami inginkan. Semoga semangat disiplin positif yang kami cita-citakan tak berakhir tanpa hasil sekalipun ini bukanlah pekerjaan mudah laksana menegakkan benang yang basah.

Sedikit terlambat, namun tak ada salahnya sekedar untuk mengucapkan selamat hari guru sedunia buat rekan-rekan guru dimanapun berada. Semoga keikhlasan dan ketulusan Bapak Ibu dalam mencerdaskaan anak bangsa menjadi catatan amal kebaikan dari Yang Maha Kuasa.

Tulisan ini tentu semata dari apa yang penulis rasakan dan dari sudut pandang penulis. Penulis sangat menyadari akan banyaknya kekurangan baik secara konten maupun teknis penulisan. Untuk itu penulis sangat berharap adanya masukan dan saran membangun serta diskusi lanjut yang dapat kita bangun bersama. Dan semoga sekelumit kegundahan yang tengah penulis rasakan dapat menjadi bahan bacaan dan renungan bersama. Selamat hari guru sedunia buat Bapak Ibu pencerdas generasi masa yang akan datang.