Rabu, 23-10-2019 | 14:01:48

Belajar Menulis “Indah” Sebagai Alternatif Belajar Mengelola Emosi Pada Anak

Oleh :

Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Banyak cara yang dapat kita lakukan sebagai seorang pengajar untuk membantu siswa dalam belajar mengelola emosinya yang cenderung masih kurang stabil. Diantaranya memancing, berkebun, dan berolah raga.

Semua hal tersebut dimaksudkan untuk dapat menyalurkan emosi dan tenaga anak yang tengah bergejolak. Butuh sarana dan pengalihan kegitan, agar tenaga dan emosi yang sedang dalam masa puncak dapat tersalurkan ke dalam kegiatan yang lebih baik. Tidak berakhir dengan kebrutalan, apalagi berakhir dengan sesuatu yang dapat mengancam keselamatan jiwa anak. (Misalnya berkelahi, tantrum, bahkan tawuran).

Sepertinya saat ini, sudah agak jarang kita temui anak-anak yang masih menuliskan pengalaman hariannya ke dalam buku harian secara manual. Tidak seperti di era tahun 80-90an dimana keberadaan buku harian dengan kunci gemboknya sebagai pengaman yang begitu booming saat itu.

Kegiatan menulis secara manual saat ini, dengan kertas dan pensil sudah tidak begitu familiar dikalangan anak-anak pada umumnya. Dengan segala alasan yang sebenarnya juga sangat masuk akal, hal ini tanpa kita sadari atau tidak sebenarnya menggeser salah satu kepandaian anak dalam hal motorik halus, utamanya menulis  indah.

Kecanggihan teknologi di era 4.0 ini, dimana hampir semua lini telah tersentuh teknologi canggih dengan digitalisasinya. Termasuk juga dengan kegiatan tulis menulis dengan kertas dan pensil. Banyaknya teknologi canggih dewasa ini, anak-anak sudah banyak yang beralih kepenulisan digital dari pada menulis secara manual dengan kerta dan pensil.

Belum lagi dengan pengaruh budaya asing yang lambat laun telah menggeser sedikit demi sedikit tatanan kebahasaan yang ada di kalalangan muda. Gencarnya pengaruh budaya asing, baik itu bahasa maupun  budaya yang dapat mereka akses dengan sangat mudah di dunia maya, tentu menjadi salah satu penyebab utama juga bergesernya budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebahasaan yang ada.

Selain pengaruh dari bahasa-bahasa asing yang juga memang telah meajdi kebutuhan untuk dipelajari sebagai bahasa internasional, ada juga bahasa gaul dikalangan muda. Bahasa-bahasa pergaulan yang kerap menjadi bagian dari generasi yang ada itu sendiri. Istilah bahasa “alay” dikalangan muda, mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar.

Bahasa-bahasa yang sengaja mereka ciptakan sendiri di kalangan terbatas (bahasa prokem). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, sah-sah saja sepanjang mereka dapat menggunakan dan menempatkannya sesuai dengan waktu yang tepat.

Dampak dari adanya penggunaan segala teknologi canggih dewasa ini, salah satunya sangat terlihat juga dalam hal komunikasi. Kecanggihan teknologi dewasa ini juga secara perlahan menggeser kebiasaan berkomunikasi.Karena lebih cenderung sendiri berkomunikasi melalui dunia maya. Efek dari kecanggihan teknologi, bagai dua sisi mata pisau. Satu sisi dapat mendekatkan yang jauh, namun di sisi yang lain acap kali menjauhkan yang dekat.

Dengan menulis secara manual (kertas pensil) serta penggunaan struktur kalimat yang baik dan benar (tidak disingkat, tidak menggunakan bahasa alay) akan berdampak :

  1. Melatih kesabaran
  2. Secara perlahan dapat memebantu mengelola gejolak emosi yang mungkin sedang dalam kondisi kurang baik.
  3. Melatif kemampuan berbahasa yang baik, terutama berbahasa secara tertulis yang baik dan benar.
  4. Dampak melatih kemampuan motorik halus dan kasar anak.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam upaya membantu anak untuk mengelola emosi yang tengah bergejolak dengan belajar berbahasa yang baik dan benar diantaranya :

  • Kegiatan ini tentu tidak alan terlihat hasilnya dalam sekejab dan menjamin 100 % akan berjalan lancar dan sukses.
  • Butuh waktu untuk berproses dan ke konsistenan dalam kegiatan ini (therapi).
  • Diperlukan bimbingan (guiding) yang konsisten dan berkelanjutan.

Dari semua yang telah penulis paparkan tentu, murni dari sudut pandang penulis. Penulis menyadar tentu sangat banyak kekurangan baik secara konten maupun teknis penulisan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya masukan berupa kritik dan saran yang membangun. Serta tak lupa penulis berharap adanya diskusi lanjutan yang dapat kita bangun.

Semoga dengan sekelumit buah pikiran dari penulis ini dapat menjadi salah satu bahan bacaan yang bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan. Dan dengan semangat memperingati bulan bahasa, mari bersama-sama kita kembali belajar berbahasa yang baik dan benar sekaligus sebagai upaya nyata dalam membantu anak-anak dalam mengelola gejolak emosi mereka yang masih dalam proses pencarian jati diri.