Selasa, 15-10-2019 | 12:58:19

Belajar Membingkai Ulang Sebuah Pandangan

Oleh :

Utik Kaspani, SP.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Menjadi seorang guru yang tentu saja mempunyai tugas pokok untuk memberikan layanan pendidikan kepada para peserta didik setiap hari d madarsah adalah hal utama dan wajib bagi seorang guru. Dan tentu saja, objek yang akan disentuh setiap harinya adalah murid, yang nota bene juga sebagai wujud nyata dalam upaya untuk belajar memanusiakan hubungan.

Ruang lingkup interaksi dengan murid, tentu saja sedikit berbeda dengan interaksi kita diluar dinding madrasah yang banyak bersentuhan langsung dengan khalayak ramai. Ada hal-hal lain diluar sana yang tentu saja lebih kompleks dan beragam dibandingkan dengan kondisi kelas yang telah akrab kita geluti sebagai seorang pengajar setiap harinya.

Di lain pihak mengemban amanah utama sebagai seorang pengajar, ada tugas tambahan lain yang lembaga percayakan pada penulis yaitu sebagai seorang humas madrasah. Tentu saja, tugas tambahan ini sangat penulis jaga sebagai amanah yang harus secara maximal untuk dapat dijalankan demi mencapai raihan seoptimal mungkin. Tentu saja sesuai dengan tujuan utama dari tugas tambahan tersebut diberikan.

Dalam perjalan waktu mengemban tugas yang sangat banyak berhubungan dengan segala hal terkait humaniora tersebut, tentu banyak hal yang lambat laun dapat penulis ambil. Berangkat dari latar pendidikan yang tidak terlampau banyak berkecimpungan dengan dunia sosial dan kehumanioraan, tentu mengemban amanah sebagai seorang humas madrasah menjadi suatu hal baru yang penulis rasakan.

Terseok berliku adalah ritme perjalan yang harus penulis hadapi dan pelajari selama mengemban tugas mulia ini. Dalam perjalanan waktu yang akhirnya banyak bersentuhan dengan sisi kesosialan dan sisi humasnisme yang lain, tentu juga merupakan sebuah pengalaman dalam pembelajaran nyata yang tentu penulis maknai sebagai pengalaman belajar yang sangat menyenangkan, yang mungkin belum banyak penulis dapatkan sebelumnya.

Tidak semua orang yang penulis hadapi dalam terkait tugas kehumasan ini selalu seiring sejalan dengan apa yang menjadi cara pandang penulis. Pada mulanya tentu tak mudah untuk mampu memahami dan mencoba untuk dapat mengikuti alur pemikiran dari mereka yang tak sama dengan kita.

Perbedaan alur pemikiran dan cara pandang, tentu telah menjadi hal lumrah yang kerap kita temui. Namun, apakah semudah itu pula kita dapat menerima dan memahami pemikiran yang tak sama dengan apa yang kita pikirkan? Tentu tidak.

Belajar mencoba membingkai ulang pandangan yang tak sama dengan kita adalah salah satu upaya yang dapat kita tempuh untuk menghadapi persoalan yang kita temui di lapangan. Utamanya tentu saja terkait dengan tugas pokok dan fungsi kehumasan itu sendiri. Bahkan tak jarang, miskomuniksi ataupun miskonsepsi yang harus kita temui bukan berasal dari pihak luar, namun justru berasal dari pihak internal sendiri yang notabene terkadang sama-sama berprofesi sebagai pangajar.

Membingkai ulang pandangan, dapat penulis maknai sebagai belajar memahami sudut pandang orang lain, tanpa terburu-buru untuk menjustifikasinya terlebiuh dahulu. Buru-buru dalam mamaknai suatu hal bisa jadi akan berdampak kurang baik terhadap semua hal yang mungkin (baca : tentu) telah kita persiapkan secara baik dan matang.

Belajar memahami sudut pandang dan cara pandang terhadap suatu hal yang sangat mungkin tak sepaham dengan pikiran awal yang kita punya, tentu saja, hal ini membutuhkan ruang dan waktu tersendiri dalam memahaminya. Sedangkan hasil akhir yang akan kita putuskan haruslah tetap ada dalam koridor netralitas sesuai dengan aturan yang kita sepakati bersama. Ada beberapa langkah mudah yang dapat kita lakukan dalam upaya belajar membingkai ulang sebuah pandangan,

  1. Mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi ataupun menyela pembicaraan lawan bicara yang tengah kita hadapi.
  2. Biarkan lawan bicara kita untuk mengungkapkan semua pandangannya terhadap suatu hal yang tengah menjadi objek pembicaraan kita.
  3. Berikan kesempatan, ruang dan waktu yang semaximal mungkin, untuk dapat mengetahui alur dan tujuan dari lawan bicara yang tengah kita hadapi.
  4. Seandainya semua informasi yang telah kita butuhkan dapat kita peroleh, mulailah mencerna satu-persatu secara perlahan.
  5. Mendengarkan dan mencari tahu beberapa sudut pandang dari pihak lain yang terkait tentu sangat diperluakan, walaupun semata bukan menjadi satu-satunya acuan yang kita gunakan dalam menyimpulkan.
  6. Kesampingkan asumsi-asumsi yang berlebihan, namun tetap dalam koridor hipotesis-hipotesis yang tetap perlu pembuktian.
  7. Kesampingkan perasaan, kedepankan logika yang tentu sangat sering mengiringi dalam menghadapi pemecahan sebuah permasalahan.

Dari proses belajar membingkai ulang pandangan yang penulis pelajari, resapi, dan ambil maknanya, ada beberapa hal yang dapat penulis dapatkan dari proses ini, diantarnya :

  • Bersikap netral dalam menanggapi sesuatu hal, terlebih satu hal yang sama sekali atau baru saja kita ketahui. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan ataupun sekedar berpendapat apalagi berasumsi.
  • Bersikap santai, tidak mudah terprovokasi terhadap sesuatu yang baru saja kita pahami duduk perkaranya. Bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan memang, namun bukan berarti satu hal yang tak dapat kita coba.
  • Berani untuk mengatakan tidak terhadap suatu hal yang kita belum sadari atau pahami betul letak persoalannya. Tak jarang, dalam situasi yang kurang mengenakkan, searang humas madrasah yang sangat erat kaitannya dengan pihak luar sangat dituntut untuk berani mengatakan tidak.

Tentu saja hal ini sangat didasari dengan alasan yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan baik secara pribadi terlebih secara kelembagaan. Tidak mudah memang, acapkali pergulatan batin kontroversi antara logika dan perasaan masih sangat sering penulis rasakan. Namun dengan keyakinan walaupun lambat, Insya Allah apa yang kita coba untuk yakini akan terbukti secara nyata.

  • Tetap bersikap tenang dan tak mudah terkecoh dengan situasi yang ada, serta tidak mudah berubah pikiran dengan meniadakan asumsi-asumsi yang bisa jadi hanya akan memperkeruh suasana yang ada.
  • Tetap berpikiran posisitif dan berperasangka positif dalam menyikapi segala hal yang terjadi.

Dari apa yang telah penulis paparkan, tentu semua ini murni berasal dari sudut pandang penulis saja. Murni dari apa yang selama ini pula penulis rasakan. Penulis sangat terbuka akan masukan dan saran membangun terhadap tulisan ini. Dan penulis sangat terbuka terhadap diskusi lanjut yang dapat kita lakukan. Semoga sekelumit buah pikir dan pengalaman penulis yang masih sangat muda dalam mengemban amanah sebagai seorang humas ini dapat menjadi bahan bacaan yang bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya. Terutama bagi rekan-rekan guru yang baru saja memiliki tugas tambahan menjadi seorang humas madrasah seperti halnya penulis.