Rabu, 09-10-2019 | 16:21:18

Membentuk Siswa Bermartabat Dengan Belajar kritis juga berempati dan Terhindar dari Propokasi

Oleh : Ade Ridwan, SH, SE.,M.KPd

Sekretaris Umum KKMA Kabupaten Sukabumi.

 

Maraknya para Pelajar melakukan Aksi Tolak RUKHP dimana-mana, yg ditujukan kepada DPR hampir setiap aksinya berakhir ricuh. Kelompok pelajar dari berbagai sekolah melakukan kerusuhan di beberapa lokasi. Mereka bentrok dengan polisi dan melakukan pembakaran seperti pos polisi dan motor, dan akhirnya, sejumlah pelajar diamankan polisi terkait aksi unjuk rasa yg berbuntut kekisruhan.

Murid kita hidup di ekosistem masyarakatnya, belajar dan bereaksi terhadap apa yang terjadi di lingkungan,Setiap hari, anak-anak di sekitar kita sesungguhnya mendapat berbagai pengalaman dengan kekerasan, pemahaman yang positif maupun negatif tentang demokrasi dan punya beragam hubungan dengan otoritas maupun orang dewasa yang ada."

 

Terkait peristiwa ini, mengingatkankan peran guru dan orangtua  untuk menjalankan fungsi pendampingan terhadap pelajar ini.

Tugas guru dan orangtua  adalah memberikan bimbingan terhadap anak-anak ini. Caranya bisa melalui upaya lewat contoh keteladanan, lewat komunikasi yang intensif bukan sekadar hukuman apalagi membalas dengan menguatkan lingkaran kekerasan,

 

Anak sebenarnya korban Anak-anak yang kita lihat sebagai pelaku atau oknum dalam berbagai peristiwa seringkali juga sebenarnya korban. Mengekspresikan diri dalam berbagai bentuknya, termasuk dalam demonstrasi, adalah bagian dari hak asasi. Tetapi, untuk bisa menjalankan perannya sebagai warga negara, anak butuh dukungan dan pendampingan agar bisa menyampaikannya dengan cara yang baik,  peristiwa ini menunjukkan bahwa pembiasaan disiplin dan kemandirian di sekolah, penumbuhan kepedulian pada masyarakat, pemahaman tentang hukum dan nilai-nilai karakter lain yang penting, seringkali masih belum terimplementasikan dengan baik di berbagai bentuk pendidikan formal maupun non formal, di sekolah maupun di rumah.

Tugas guru, dan orangtua adalah memberikan bimbingan terhadap anak-anak ini,Peristiwa ini menunjukkan bahwa pembiasaan disiplin dan kemandirian di sekolah, penumbuhan kepedulian pada masyarakat, pemahaman tentang hukum dan nilai-nilai karakter lain yang penting, seringkali masih belum terimplementasikan dengan baik di berbagai bentuk pendidikan formal maupun non formal, di sekolah maupun di rumah,Peran utama membimbing dan berkomunikasi bukan menghukum apalagi dengan kekerasan. Ini termasuk kepada anak-anak kita yang tidak ikut demonstrasi. Di usia remaja ini mereka sudah mengkonsumsi berbagai media, tetapi seringkali tidak didampingi saat mencoba memahaminya.

Buka ruang diskusi mengenai apa yang sedang terjadi, percakapkan apa yang dipercaya dan menjadi nilai penting yang dijaga oleh guru,orangtua, beri mereka kesempatan untuk bersikap kritis tapi sekaligus juga berempati terhadap apa yang terjadi,Intinya latihan menjadi warga negara yang demokratis itu butuh latihan dan bukan proses instan bukan juga sesuatu yang kita bisa biarkan anak-anak kita menghadapi peristiwa ini sendirian.