Selasa, 08-10-2019 | 09:53:03

Guru Dulloh Kembali : Hasad yang Baik

Oleh : Agus Salim

Setelah berhaji selama kurang lebih satu bulan, guru Dulloh berkesempatan kembali untuk memberikan kultum kepada para jamaahnya.

Allah ta'ala berfirman :

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS. Al Baqarah : 148).

Hadirin yang dimuliakan Allah, makna kalimat fastabiqul khairat dalam ayat ini adalah bersegera mentaati, menerima, dan mengikuti perintah/syariat Allah Ta'ala. Kalimat ini menanamkan sebuah prinsip keimanan didalam dada kaum muslimin; yaitu bersegera, berlomba, serta menjadi yang terdepan dalam melaksanakan ketaatan dan meraih ridho Allah Ta'ala.

"Dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba" (QS. Al-Muthaffifin, 83: 26)

Di banyak hadits kita pun menemukan taujihat nabawiyah yang mendorong umat Islam untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam beramal shalih. Misalnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Bersegeralah melakukan amal-amal saleh (kebajikan). (Sebab) sebuah fitnah akan datang bagai sepotong malam yang gelap. Seseorang yang paginya mukmin, sorenya menjadi kafir. Dan seseorang yang sorenya bisa jadi mu'min, paginya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan harga dunia." (HR. Muslim)

"Segeralah beramal sebelum kedatangan tujuh hal, tidaklah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, masa tua yang menguruskan, kematian yang menyergap tiba-tiba, Dajjal, seburuk-buruk hal gaib yang dinanti-nanti, kiamat dan kiamat itu sangat membawa petaka dan sangat pahit."

Prinsip fastabiqul khairat ini mengisyaratkan kepada umat Islam agar menjauhi sikap yang berlebih-lebihan dalam berlomba menikmati dunia.Hendaknya setiap muslim mampu bersikap proporsional dalam meraih dunia.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashshash, 28: 77)

Ayat ini mengarahkan agar orang yang dianugerahi oleh Allah Ta'ala kekayaan yang berlimpah-limpah, perbendaharaan harta yang bertumpuk-tumpuk serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkannya di jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan di akhirat.

Ayat ini juga mengarahkan manusia agar tidak meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan, minuman dan pakaian serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah Ta'ala, dan dalam kerangka ibadah kepada-Nya.

Dengan cara pandang fastabiqul khairat, persaingan serta munculnya rasa iri, hanya muncul dalam bingkai yang positif yaitu berlomba-lomba melakukan kebaikan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang : seseorang yang Allah berikan harta kepadanya lalu dia belanjakan sampai habisnya di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) kepadanya lalu dia menentukan (berhukum) dengannya dan mengajarkannya." (HR. Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Suasana seperti itu betul-betul terbangun di kalangan sahabat. Hal ini tergambar dalam hadits berikut ini :

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwasanya sekelompok orang dari sahabat berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Orang-orang kaya pergi mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Rasulullah bersabda, "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya satu tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma'ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan pada hubungan (dengan istri) kalian adalah sedekah." Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah seseorang mendatangi istrinya karena syahwatnya, apakah ia mendapatkan pahala?" Beliau bersabda, "Apa menurut kalian kalau dia meletakkannya pada yang haram. Bukankah baginya dosa? Demikian pula jika diletakkan pada yang halal, padanya ada pahala." (HR. Bukhari Muslim).

Sebelum menutup kultum Guru Dulloh memohon maaf karena kultumnya lebih dari tujuh menit karena saking bersemangat bisa kembali memberikan kultum kepada para jamaah yang Beliau cintai dunia akhirat.