Kamis, 03-10-2019 | 08:14:41

Belajar Dari Sebuah Keistimewaan

Oleh :

Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Hadirnya anak-anak istimewa dalam sekolah umum sebenarnya bukan saja memberikan kesempatan yang sama pada semua anak untuk dapat mengenyam pendidikan yang sama, namun juga sangat istimewa bagi kami para guru.

Bagaimana tidak, mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dan mengenal mereka secara lebih dekat adalah hal lain yang dapat dipelajari oleh seorang guru. Banyak hal yang dapat dipelajari dari adanya interaksi ini. Tidak perlu merasa berkecil hati ataupun menyerah sebelum mencoba untuk menangani anak-anak istimewa ini. Justru sebuah tantangan yang harus dijawab oleh seorang guru sebagai salah satu bagian dari insan pembelajar sepanjang hayat.

Bukanlah hal yang mudah memang, apalagi sebagai seorang guru umum yang sangat boleh dikatakan minim dalam keilmuan tentang tata cara dan penanganan anak-anak berkebutuhan khusus. Namun bukan berarti sesuatu yang tak dapat dicoba. Bukankah memang seharusnya guru yang merupakan seorang agen perubah harus selalu mencoba hal-hal baru diluar kebiasaan yang telah biasa digelutinya sehari-hari?

Menjadi seorang guru tentu merupakan profesi yang mulia. Kemampuan  yang mutlak harus dimiliki bagi seorang guru antara lain kemampuan pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Selain itu guru sebagai mediator, transformator dan penyampai pesan dari mata pelajaran yang diampunya tentu memiliki kewajiban untuk dapat menyampaikan tujuan pembelajaran pada para peserta didik nya.

Mengajar di sekolah negeri tentu memiliki keberagaman variasi siswa. Tidak hanya relatif heterogen dalam suku, bahasa, bahkan juga agama. Hal ini mungkin sedikit berbeda dengan kondisi di sekolah berbasis agama. Yang relatif lebih seragam kondisi sosial (suku dan agama) para peserta didiknya. Saat itu penulis juga mengajajar di sekolah swasta lain yang berbasis agama.

Banyak hal yang harus penulis pelajari untuk masuk ke dalam kelas matematika ini. Bukan hanya masalah materi yang memang harus penulis siapkan. Nemun terlebih pada persiapan mental untuk menghadapi para peserta didik. Karena keterbatasan penulis yang bukan berasal dari bidang pendidikan. Menjadi tantangan tersendiri berada ditengah-tengah peserta didik yang tidak bisa dibilang sedikit.

Kemampuan untuk menguasai kelas, perlahan dapat penulis kuasai. Mungkin sedikit berbeda dari rekan-rekan kebanyakan yang memang berasal dari dunia kependidikan murni. Saat itu penulis dipercaya untuk memegang kelas tujuh mata pelajaran matematika. Hampir empat puluh siswa yang harus penulis hadapi dengan segala keunikan dan keberagamannya.

Di sekolah ini para peserta didiknya mayoritas dari keluarga yang sebenarnya dapat dikatakan berasal dari kalangan menengah kebawah. Mayoritas orang tua mereka berprofesi sebagai nelayan. Hanya beberapa diantara mereka yang berprofesi sebagai pedagang, pegawai, ataupun wirausaha.

Iklim geografi dari para peserta didik tempat mereka bermukim tentu juga sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kebiasaan mereka. Tinggal di daerah pesisir pantai tentu membuat pola dan cara mereka sedikit berbeda dengan mereka yang tinggal di daerah pegunungan. Daerah panas,ramai karena memang daerah pariwisata, dan relatif mudah temperamental, mempengaruhi pola pikir mereka. Dan satu hal lagi, mungkin juga karena tingkat pendidikan para orang tua mereka yang relatif tidak tinggi. Rata-rata mereka hanya mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah dasar saja.

Menghadapi jumlah siswa yang beragam, tentu juga diperlukan kesabaran dan kejelian lebih untuk mengenal mereka lebih dalam. Terlebih menghadapi anak-anak kelas tujuh, tentu diperlukan kesabaran ekstra, karena kebiasaaan mereka ketika masih sekolah di sekolah dasar masih sangat kental. Tak ubahnya mengajar anak-anak sekolah dasar, keriuahan, ramai, tawa canda, bahkan tangisan masih sering terdengar kala pertengkaran diantara mereka terjadi.

Dari hampir empat puluh siswa yang penulis miiki saat itu, kebetulan penulis juga ditunjuk menjadi wali kelas, ada satu orang murid penulis yang sangat menyita perhatian. Penulis tidak banyak tahu tentang siapa dan kenapa anak didik satu ini saat itu, maklum dia pindahan dari sekolah lain beberapa bulan setelah proses belajar mengajar berlangsung. Jadi memang memerlukan waktu tersendiri untuk lebih mengenalnya.

Dari sekian murid yang penulis miliki saat itu, ada salah satu murid penulis yang nampak berbeda dari yang lain, penulis tidak banyak tahu apa dan kenapa dia seperti itu. Lambat laun penulis cari tahu dari beberapa informasi yang penulis pelajari. Ternyata dia anak berkebutuhan khusus penyandang down syndrom.

Down syndrom adalah kondisi genetik yang menyebabkan gangguan belajar dan ciri fisik tertentu. Kondisi yang berlangsung seumur hidup, namun dengan perawatan yang tepat, orang dengan Down Syndrome dapat bertumbuh dengan sehat, hidup bahagia dan produtif bagi lingkungan (Wikipedia).

Tidak banyak pengetahuan dan cara yang penulis pahami untuk menghadapi siswa dengan kebutuhan khusus saat itu. Belum lagi kondisi siswa lain yang tak jarang ikut-ikutan membully murid yang satu ini. Kondisinya yang berbeda dari yang lain menjadikan bahan olokan dan ejekan dari kawan-kawannya yang lain. Belum lagi ternyata, kondisi orang tua dalam keluarga yang dapat dibilang tidak begitu bisa menerima kondisi dari anak tersebut.

Komunikasi mulai intens penulis lakukan terhadap pihak keluarga. Dari seringnya penulis  bertemu, bahkan ngobrol langsung dengan pihak orang tua, terutama ibunya, baru penulis  ketuahui kalau pada saat dalam kandungan ibunya terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan yang berhubungan dengan penyakit yang tengah dideritanya. Belum lagi memang kebiasaan buruknya yang gemar merokok. Tak jarang umpatan dan makin kerap mereka lontarkan pada anak tersebut. Hal ini mungkin juga karena tingkat penddikan dan perekonomian mereka yang relatif rendah. Hingga berpengaruh terhadap pola asuh yang mereka berikan. Namun sayang nya, kehadiran anak istimewa ini tidak dapat mereka terima dengan lapang hati. Dan bahkan menganggap kehadiran bungsu dari anak tiga bersaudara ini sebagai aib keluarga.

Dari ketiga anak yang mereka miliki, memang si bungsu inilah yang berbeda. Kedua kakaknya tumbuh dan berkembang secara biasa. Selain mengidap down syndrom, ternyata anak tersebut juga mengalami sedikit hambatan pada pendengarannya. Inilah yang menjadi perhatian khusus yang harus benar-benar diperhatikan.

Awal ia masuk kelas, tidak banyak interaksi yang  dia lakukan. Cenderung diam dan menarik diri. Namun anak ini sangat mudah emosi dengan gurauan-guraun yang sering dilakukan oleh kawan-kawan lainnya. Hingga tak jarang perkelahian kerap terjadi.

Tindakan tegas harus penulis ambil segera. Tak jarang penulis  harus mengevakuasinya  saat emosinya benar-benar tengah memuncak. Sambil memberikan pengertian pada siswa yang lain, namun tak jarang siswa yang lain justru menganggap penulis terlalu pilih kasih. Memang tidaklah mudah memberikan pengertian sepeti ini pada yang lain. Namun sedikit banyak mulai terlihat perubahan pada anak-anak yang lain.

Mengajarkan matematika yang menjadi tanggung jawab penulis  saat itu, tentu juga menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana mungkin penulis bisa mengajarkan seperti apa yang penulis ajarkan ke yang lain, sedangkan tingkat pemahaman dan penerimaannya pun berbeda dari yang lain. Akhirnya, pembelajaran yang penulis berikan hanya sebatas menulis, menyalin, mengenalkan hitungan sederhana, dan mengenalkan nilai mata uang. Keterbatasan dan lagi-lagi ketidaktahuan lah yang membuat penulis saat itu hanya bisa melakukan apa yang penulis rasa memang perlu untuk dilakukan.

Interaksinya  terhadap guru-guru yang lain pun dapat dikatakan tidak baik. Hanya dengan penulis saja saat itu, ia mau bersalaman. Bahkan jika ada guru lain yang menyapanya pun, ia tak pernah mau menjawab. Ketergantungannya sangat tinggi. Belum lagi sikap dari siswa lain yang memang kadang butuh kesabaran lebih untuk menghadapinya. Hingga setiap pelajaran penulis, kadang ia penulis dudukan tepat disamping penulis.

Ejekan, olokan, dan bullian dari siswa yang lain masih juga terus berjalan. Hingga suatu ketika, perkelahian pun tak dapat dielakan. Ntahlah, apa yang penulis  sarankan saat itu benar atau tidak. Yang jelas penulis hanya berfikir bagaimana caranya memberikan perlindungan diri terhadap Bian (sebut saja begitu). Saat itu penulis memberikan saran pada orang tuanya agar Bian diikutkan latihan karate. Kenapa karate, karena dengan olah raga inilah barangkali dapat membekali dirinya untuk menjaga diri. Itulah alasan mendasar yang penulis berikan.

Usulan penulis  pun akhirnya dapat diterima oleh pihak keluarga. Bahkan dalam berjalannya waktu, Bian berjanji pada penulis akan menampilkan kepiawaiannya berkarate pada even kenaikan kelas nanti. Jangan dibayangkan seperti anak-anak lainnya, tentu dengan kemampuan Bian sendiri. Saat yang dinanti pun tiba, Bian menepati janjinya. Bian penulis masukkan ke dalam daftar pengisi acara kenaikan kelas. Walaupun hanya dengan 3-4 gerakan yang terus berulang. Bahkan, penulis harus masuk arena untuk menghentikan aksinya, karena yang Bian tau, dia tampil. Itu saja. Penulis masuk ke tengah lapang pertunjukan, penulis peluk dia sambil mengatakan....”sudah ya Nak....Bian hebat. Sekarang kita selesai”... akhirnya dia pun mau menghentikan aksinya.

Selain itu, berkaitan dengan pelajaran agamanya, kami menjalin komunikasi dengan  pihak gereja selaku pembimbingnya langsung. Hubungan kami, dengan pihak gereja sangat baik. Butuh waktu hampir dua tahun lamanya untuk memantu Bian mampu berinteraksi dengan baik. Demikian pula dengan anak-anak yang lain. Lambat namun pasti Bian mulai mampu menerima kehadiran orang lain untuk mau berinterksi aktif dengannya. Bahkan pernah penulis  mendengarnya sendiri, ketika dihadapan yang lain, dengan bangganya murid penulis ini berkata,”itu guru aku..” Ya Allah, rasanaya tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan keharuan penulis saat itu.

Pelajaran yang penulis dapat dari kasus ini adalah, dibutuhkan kesadaran dari orang tua untuk berlapang hati dengan kondisi anak yang kita miliki. Mencaci dan memakinya bukanlah jalan keluar yang bijak. Yang ada justru hanya akan memperkeruh suasana.

Hingga pada suatu hari, penulis betul-betul mempunyai kesempatan untuk mengenal dan mempelajari tentang pendidikan inklusi, dan bagaimana seluk beluk tentang menangani anak berkebutuhan khusus. Dua hari bukanlah waktu yang lama. Dua hari bersama orang-orang hebat. Dua hari istimewa yang membukakan wacana tentang apa itu anak berkebutuhan khusus (ABK). Membuka pola pikir yang selama ini ternyata salah kaprah. Memang bukanlah hal yang mudah dalam waktu dua hari kami menerima materi yang betul-betul baru bagi telinga penulis. Mendengar begitu banyak istilah yang terasa asing. Tapi setidaknya, pertemuan singkat ini mampu membuka cakrawala baru penulis terhadap apa itu ABK.

Berbicara tentang ABK awalnya selalu terbayang anak-anak dengan kondisi tubuh yang sedari lahir atau karena suatu kondisi tertentu mengalami ketidaksempurnaan. Sehingga mereka hidup dalam keterbatasan. Yang sering kita menganggapnya dengan istilah anak normal dan tak normal. Padahal parameter normal dan tak normal itu sendiri adalah abstrak. Apakah kita juga normal? Apakah batas tingkat kenormalan itu? Apakah karena mengangap diri kita mampu berbicara, melihat dan sebagainya?...tidak….tak ada parameter yang jelas yang mengklasifikasikan tingkat kenormalan itu sendiri.

Ternyata semua itu salah besar. ABK adalah semua anak, tanpa terkecuali yang butuh pemdampingan atau pendidikan secara khusus. ABK terbagi menjadi dua kelompok, ada ABK permanen (kerena terlahir dengan kondisi tertentu, anak dengan kelainan fisik tertentu), yang sering kita sebut juga dengan penyandang disabilitas atau ABK temporer (mereka menjadi ABK karena kondisi tertentu, misalnya anak-anak korban bencana alam, sakit, anak-anak korban perceraian orang tua dll).

Pada dasarnya semua anak terlahir hebat. Ibarat kertas putih kosong, tergantung akan seperti apa orang tua nya akan menuliskan rona hidupnya dan mewarnai perjalanan hidup mereka. Namun tidak semua anak terlahir dengan nasib yang baik. Bahkan sering kita temui ABK terlahir dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu, hingga pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan layaknya anak-anak yang lain tak dapat mereka nikmati. Tapi…tak jarang juga kita temui anak ABK terlahir dari keluarga yang cukup mapan. Namun keberadaan mereka masih dianggap sebuah aib yang memalukan, hingga jarang dari mereka yang mendapatkan pendidikan yang seharusnya.

Berbicara tentang pendidikan, anak-anak ABK baik yang permanen maupun temporer berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik. Terlepas dari seperti apa kondisi mereka. Tidak perlu adanya pemisahan terhadap gaya dan pola belajar diantara anak ABK dan non ABK.

Sekolah inklusif adalah suatu upaya untuk menjembatani adanya keberagaman ini. Sekolah inklusif adalah salah satu upaya yang dapat kita lakukan untuk memberikan kesempatan dan pelayanan terbaik untuk anak-anak ABK. Sepintas mungkin masih terdengar awam ditelinga, terutama bagi kami yang tinggal dipelosok. Sekolah insklusif hadir sebagai upaya bagaimana belajar cara hidup dengan perbedaan, belajar dari perbedaan dan belajar dengan perbedaan.

Memberikan kesempatan dan peluang yang sama terhadap anak ABK adalah hal wajib yang perlu kita laksanakan, agar mereka juga mampu mandiri dan berdikari layaknya anak-anak non ABK. Sudah banyak anak ABK yang mendapatkan pendidikan yang layak hingga pada akhirnya mereka mampu menatap masa depan mereka dengan cerah. Sudah banyak diluar sana, anak-anak ABK yang berhasil dalam pendidikannya. Mereka mampu menjadi seperti apa yang mereka cita-citakan. Bahwa semua anak terlahir hebat…semua anak adalah permata yang sangat berharga, seperti apapun kondisi mereka.

Berbicara tentang pendidikan inklusif, adalah berbicara tentang keadilan. Yang tidak perlu memarjinalkan anak ABK permanen maupun temporer. Pendidikan inklusif adalah sebuah proses yang mulia. Tidak bisa hanya dilihat dari segi keunggulan akademis semata. Sekolah insklusig bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan apa yang ada pada anak ABK. Inklusi adalah belajar mengakui adanya perbedaan dan mengakomodir perbedaan itu. Bukankah pada dasarnya kita memang terlahir dengan segala perbedaan….perebedaan suku, agama, ras, dan sebagainya. Termasuk kehadiran anak ABK adalah bagian dari keberagaman itu sendiri.

Jika kemarin sebelum pertemuan ini kami, terutama penulis selaku seorang guru sering kali dibuat kesal, lelah, dan bahkan sering mengeluh terhadap anak-anak ABK ini, maafkanlah Ibu nak…ketidaktahuan lah yang menyebabkan kesalahpahaman ini. Semoga dengan adanya pertemuan  dua hari tersebut sedikit sedikit mampu membimbing kami untuk belajar lebih sabar lagi. Mampu belajar dalam sebuah keberagaman yang luar biasa.                                                                                                                                                                                                                      Sekali lagi semua anak terlahir hebat, semua anak adalah anugerah indah dari Sang Pencipta. Tak ada produk Tuhan yang gagal. Yang ada adalah ketidaktahuan dan keterbatasan kita lah yang menggagalkan untuk melihat segala karunia NYA.

Semoga kedepan, tidak akan ada lagi anak-anak ABK yang termarjinalkan, tersingkirkan…hingga hanya berakhir sebagai tukang parkir…..(Dedicated for Bian, my beloved student. You are my inspiration).