Jumat, 27-09-2019 | 15:18:07

Saat Berdiri Diantara Aturan, Kebijakan, dan Toleransi

Oleh :

Tatep Sirojudin

(Kepala Tata Usaha MAN 2 Sukabumi)

 

Lima budaya kerja yang telah disusun oleh Kementerian Agama RI yang kemudian telah disahkan menjadi Peraturan Menteri Agama RI antara lain

  • Integritas yang meliputi keselarasan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar.

Menjalankan sebuah integritas dalam suatu lembaga tentu bukan perkara mudah yang dapat terjadi dalam satu dua hari. Integritas dapat dimaknai sebagai sebuah konsep kekonsistenan antara tindakan dan ucapan, terlebih bagi seorang aparatue sipil negara (ASN). Terlebih dalam etika yang kita junjung bersama, utamanya di madrasah tentu integritas dapat bermakna kejujuran dan kebenaran dari sikap yang dapat kita tunjukkan sehari-hari.

  • Profesionalitas yang meliputi bekerja secara disiplin, kompeten dan tepat waktu dengan hasil terbaik.

Sebagai seorang ASN yang tentu saja bertugas dalam fungsi pelayanan, utamanya terhadap parA peserta didik, profesionalitas tentu mencerminkan kompetensi dan keahlian. SebagaI seorang abdi negara tentu diharapkan dapat mengemban amanah dari tugas yang telah diberikan demi mencapai hasil yang optimal untuk mencapai tujuan bersama.

  • Inovasi yang meliputi menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik.

Perlunya inovasi dalam sebuah organisasi tentu dimaksudkan untuk pencapaian tujuan bersama yang diinginkan dan dibangun bersama. Adanya hal-hal baru yang bermanfaat dan berguna bagi banyak pihak dan tidak terjebak dalam rutinitas belaka.

  • Tanggung jawab meliputi bekerja secara tuntas dan konsekuen.

Adanya kesadaran yang tinggi untuk mempertanggung jawabkan kinerja masing-masing sesuai dengan tupoksinya masing-masing sebagi bukti nyata untuk menujukan kiprah masing-masing. Dan hal ini bisa dimaksudkan menjadi personal branding dari setiap individu yang mengemban amanah tersebut.

  • Keteladanan diantaranya menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

Memberikan suri tauladan yang sesuai dengan aturan dan etika noma yang ada, sudah menjadi harga mutlak yang harus dijalankan bagi seorang ASN pada khususnya.

Lahirnya lima  budaya kerja Kementerian Agama RI tersebut tentu saja dimakudkan untuk menjawab keinginan  mengembalikan citra dan kepercayaan baik Kementerian Agama dimata publik dengan dibuktikan dengan kinerja yang baik. Dengan bentuk pelayanan publik yang berbasisi akuntabilitas dan transparansi yang tentu saja harus didukung oleh kinerja dan totalitas serta keikhlasan kerja dari seluruh pegawai yang ada di lingkup Kementerian Agama, tanpa terkecuali.

Namun pada kenyataannya yang penulis hadapi dalam menjalankan tugas dan fungsi menjadi seorang kepala tata usaha, tidak selalu seperti apa yang penulis bayangkan. Banyak sekali dilema yang penulis hadapi saat mencoba menegakkan aturan diantara kebijakan dan toleran yang sudah terlanjur berjalan. Tulisan ini sengaja penulis buat sebagi refleksi satu tahun perjalanan penulis menjadi seorang kepala tata usaha di madrasah.

Menjadi seorang kepala tata usaha di sebuah madrasah memang merupakan hal baru yang penulis jalani ditahun pertama ini. Sebelumnya penulis banyak berkecimpung dalam dunia kehumasan di Kementerian Agama Kab. Sukabumi. Terkait dengan lima budaya kerja yang ada di Kementerian Agama, penulis berfikir justru hal pertama yang harus ditegaskan adalah keteladanan. Keteladanan adalah hal utama yang seharusnya dapat menjadi panutan dan contoh bagi yang lain.

Betapa pentingnya sebuah keteladanan, bahkan dalam Al Quran pun telah dituliskan dalam sebuah surat yaitu,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرا

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari akhir dan dia banyak mengingat Allah.”(Q.S.Al-Ahzab:21).

Hal ini tentu menjelaskan kepada kita, betapa keteladanan adalah hal utama yang semestinya kita berikan di lingkungan sekitar. Menjadi salah seorang aparatur sipil negara yang kebetulan ditempatkan pada sebuah madrasah tentu keteladanan adalah hal penting yang tak saja diucapkan namun butuh tindakan nyata dalam pengimplementasiannya.

Menjalankan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi jabatan dalam sebuah lembaga memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dukungan dan kesadaran dari tiap personal khususnya para sesama ASN yang ada dalam lembaga tersebut merupakan kunci kesuksesan demi menuju tujuan bersama yang diinginkan. Tidaklah mudah memang, namun bukan berarti sesuatu hal yang tidak dapat dicoba. Terkadang memang menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika harus berdiri menegakan sebuah aturan diantara kebijakan dan toleran yang sudah terlanjur berjalan.

Bukanlah hal yang mudah dalam merubah suatu hal yang terlanjur berjalan dan telah menjadi sebauh kebiasaan dan hal yang dianggap permakluman/toleran. Tentu butuh waktu dan proses yang panjang, tidak mudah, dan harus dilakukan secara terus menerus demi menegakkan sebuah aturan yang berlaku dengan baik dan benar.

Mengembangkan budaya kerja yang baik dan baru pun, tentu juga diperlukan perumusan nilai-nilai yang dipercaya akan membawa tujuan seperti yang diidamkan bersama sesuai visi dna misi yang telah ada. Membangun kesadaran terhadap nilai-nilai yang berlaku sesuai dengan aturan yang berlaku, bukan mengacu pada kebijakan dan toleran yang telah terlanjur berjalan sekalipun seharusnya dapat mengakar untuk upaya ke arah yang lebih baik.

Penulis menyadari, tentu masih sangat banyak kekurangan dalam tulisan ini, baik secra konten maupun dari teknik penulisan. Untuk itu penulis sangat terbuka dengan kritik dan saran membangun juga diskusi lanjut yang dapat kiat bangun. Semoga sekelumit buah pikir penulis, tentu saja dari sudut pandang penulis dapat menjadi salah satu bahan bacaan yang bermanfaat bagi yang membutuhkannya, dalam upaya bersama kita bersinergi membangun negeri melalui madrasah hebat bermartabat.