Selasa, 03-09-2019 | 07:30:34

Saat Guru Menjadi Sosok Pengganti Orang Tua Di Sekolah

Utik Kaspani

Oleh :

Utik Kaspani,SP.

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Madrasah tempat anak-anak menghabiskan hampir sepertiga waktu yang mereka miliki, seyogyanya harus dapat memberikan rasa yang aman dan nyaman. Bapak ibu guru yang adapun seyogyanya dapat menjadi pengganti sementara peran dan keberadan orang tua mereka di rumah.

Keberadaan sosok ayah dan ibu bagi seorang anak adalah garda terdepan yang seharusnya mendampingi tumbuh kembang anak yang ada. Idealnya sebuah keluarga yang utuh, tentu keberadaan ayah dan ibu memiliki peran dan fungsinya masing-masing selaku orang tua.

Namun apa yang penulis temui di lapangan, tak selamanya indah, seindah teori-teori yang digambarkan. Kenyataan pahit yang penulis temui tak jarang sangat berkorelasi terhadap sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak. Ada sebagian hal penting dalam hidup mereka yang terlewatkan, ntah tersengaja ataupun tidak.

Tingkah polah dan perilaku mereka yang acap kali sering harus membuat penulis menarik nafas panjang, sangat menggelitik untuk diketahui akar permasalahannya. Ekperimen sederhana (baca : survei singkat) pagi ini sungguh sangat mencengangkan. Dari sejumlah anak laki-laki dikelas, ternyata tingkat kedekatan emosional dengan ibu mereka di rumah sama sekali nihil. Hal ini dibuktikan dengan ikatan emosional diantara mereka yang sama sekali buruk. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pihak guru di madrasah  sebagai rumah kedua bagi anak-anak.

Keberadaan seorang ibu dan ayah dalam sebuah rumah tentu menjadi garda terdepan bagi anak-anaknya. Ayah dan ibu yang idealnyas elalu ada mengdampingi tumbuh kembang anak, pada kenyataannnya tidak selalu dapat bersama buah hati mereka. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, misalnya karena urusan pekerjaan, ataupun mungkin kondisi ayah dan ibu yang sudah tak bersama lagi (baca: berpisah).

Melihat fenomena dan kenyataan yang ada, disinilah peran ganda seorang guru harus dimainkan. Berperan menjadi sosok pengganti sementara bagi anak-anak adalah hal lain yang dapat kita jumpai dari seorang guru. Tidak hanya transfer keilmuan saja, namun juga melibatkan segenap emosi dan rasa untuk benar-benar dapat menjalankan peran ganda tersebut.

Anak-anak yang terpelihara kedekatan emosionlanya dengan orang tua memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan perkembangan fisik dan mental serta kecerdasan anak. Bonding atau kedekatan antara anak dan orang tua memegang peranan penting untuk tumbuh kembang anak yang optimal. Sebagian besar anak sebetulnya mengalami perasaan aman (secure) terhadap orangtuanya (secure attachment). Sementara mungkin ada sebagian kecil yang memiliki perasaan tidak aman (insecure). Pada anak yang secure cenderung berkembang lebih sehat mental dibandingkan anak yang  insecure. 

Anak yang secure terbukti mampu memecahkan masalah dengan lebih baik, lebih kreatif, menunjukkan lebih banyak emosi positif, lebih bisa bergaul karena lebih sensitif kepada teman-temannya, lebih banyak inisiatif dan lebih mampu menjadi pemimpin, lebih semangat belajar sehingga cenderung lebih berprestasi, dan masih banyak kelebihan positif lain.  Sementara anak insecure cenderung lebih banyak menunjukkan kemarahan dan agresivitas, sulit diatur, tunjukkan beberapa gangguan psikologis, dan beberapa kekurangan lain.

Dari fenomena yang tersebut diatas, guru dapat mengambil peran sementara untuk menghadirkan sosok orang tua bagi anak-anak dengan cara antara lain :

  1. Menjadi Teman Berbagi

Guru dapat mengambil posisi sebagai teman dan sahabat anak. Guru dapat menjelanakan peran gandanya selain sebagai orang tua juga sebgaai sahabat anak.

Dengan cara ini diharapkan anak dapat lebih terbuka dalam mencurahkan perasaan, mengadu, atau bercerita tanpa rasa malu dan segan.

 

  1. Menjalin komunikasi dengan baik

Salah satu alsan klasik yang sering kita temui saat ini adalah kesibukan orang tua dalam bekerja. Tuntutan kebutuhan kerap menjadi alasan utama hingga membuat hubungan anak dan orang tua menjadi renggang.

 

Komunikasi yang terbatas dan terkendala semakin memperlebar jurang yang telah ada. Padahal obrolan-obrolan kecil dapat membuat ikatan antara orangtua yaitu ayah, ibu dan anak semakin erat. 

 

Anak-anak dengan intensitas dan kualitas hubungan yang baik dengan orang tua akan dapat memberikan efek positif yang luar biasa. Nasihat-nasihat baik, akan membuat anak-anak bertindak dan berperilaku lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.  Selain itu, hubungan yang baik dengan orang tua maupun guru selaku sosok pengganti orang tua dapat mencegah timbulnya stres akibat tekanan-tekanan dalam kehidupan anak-anak.

Dua aspek penting dalam menjalin komunikasi dengan anak yaitu kuantitas dan kualitas. Kuantitas merujuk pada seberapa banyak dan seberapa sering orangtua atau guru menyediakan waktu bersama anak-anak. Sedangkan kualitas merujuk pada nilai atau mutu dari kebersamaan yang terjadi. 

 

Dengan adanya peran guru selaku sosok pengganti orang tua bagi anak-anak selama di madrasah, diharapkan anak-anak dapat  berkembang secara optimal dalam banyak aspek lainnya misalnya aspek kognitif, bakat, sosial dan sebagainya.  Tidak mudah memang untuk menjalankan semua itu, namun bukan hal yang mustahil untuk dicoba.

Tak sedikit masalah yang tengah dihadapi oleh anak-anak, mulai dari masalah tingkah laku, pergaulan, sampai masalah dari sisi keimanan. Baik guru yang menjalankan peran ganda baik di madrasah maupun di rumah tentut memerlukan pedoman dan panduan. Pedoman dan panduan ini, dapat kita temui dalam  menjadi surah Luqman ayat 12-19.

Tidak ada kata terlambat dalam memulai sesuatu yang baik. Semua butuh waktu dalam berproses. Baik menjalankan peran sebagai guru dan orang tua baik di madrasah maupun di rumah. Sama-sama kita belajar dan berproses. Bukankah sejatinya manusia memang adalah pembelajar sepanjang hayat. Bahkan melalui anak-anak didik kita yang sangat mungkin membutuhkan uluran kasih sayang kita.

Penulis sangat menyadari akan kekurangan dalam konten maupun teknik penulisan, untuk itu penulis sangat terbuka dalam kritik dan saran yang membangun, serta sangat terbuka pada diskusi lanjut.

Semoga sekelumit rangkaian kata berdasarkan hasil survei kecil pagi ini dapat menjadi salah satu alternatif bacaan yang bermanfaat. Dan semoga niat baik kita selaku pendidik dan pengajar yang menjalankan peran ganda selaku orang tua bagi anak-anak di madrasah menjadi nilai positif tersendiri yang kelak akan bermanfaat buat kita.