Jumat, 30-08-2019 | 10:27:58

Stop Pernikahan Dini

Utik Kaspani

Oleh :

Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Berapa jumlah penduduk Indonesia saat ini? Tentu jumlah semakin bertambah dari hari kehari. Jumlah yang semakin menggunung sebagai akibat banyaknya jumlah pasangan usia subur yang merencanakan adanya keturunan sebagai bagian yang wajar dan sangat manusiawi dalam membina hubungan keluarga. Anak sebagai bagian tersendiri saat pasangan mulai hidup berumah tangga.

Tingkat perkawinan usia dini, sedikit banyak menjadi penyumbang terbesar meningkatnya jumlah penduduk dari hari kehari. Edukasi terhadap kesadaran dalam kesehatan reproduksi harus terus diupayakan sebagai bagian tak terpisahkan dari maat pelajaran IPA Terpadu yang penulis ampu. 

Tak dapat dipungkiri, angka untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi masih menjadi fenomena dan pekerjaan rumah tersendiri. Setelah lulus dari bangku MTs/SMP sederajat,  Ada juga yang lanjut ke SMA, atau ke pesantren, atau mungkin juga ada yang bekerja, bahkan melangsungkan pernikahan.

 Untuk yang akan melangsungkan pernikahan, satu kata dari penulis, “Stop, tahan dulu?” Mengapa? Banyak hal yang perlu dipertimbangakan saat akan  memutuskan untuk berumah tangga. Edukasi yang dapat kita berikan kepada siswa diantara                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  nya adalah :

  1. Rumah tanggga bukanlah perkara sehari dua hari yang dapat usai begitu saja. Diusia kalian yang belum dewasa seperti ini, sangat riskan untuk melangsungkan pernikahan. Tanggung jawab dunia akhirat adalah hal yang akan dibawa seumur hidup.

Bahkan Al Quran pun telah menuliskannya dalam salah satu surahnya, yaitu (QS An-Nur [24]: 33) 

"Hendaklah mereka yang belum mampu (kawin) menahan diri, hingga Allah menganugerahkan mereka kemampuan." (QS An-Nur [24]: 33) 

  1. Kesiapan organ reproduksi kalian. Salah satu tujuan menikah, adalah untuk memperoleh keturunan. Hingga sangat wajar dan manusiawi ketika pasangan yang baru saja melakukan pernikahan sangat ingin mendapatkan buah hati.

Terbukti dengan adanya menstruasi pada perempuan, dan tentunya mimpi basah pada laki-laki sebagai pertanda awal akil baliq pada laki-laki. Namun, ibarat bunga yang baru pertama berbunga, sangat rentan terutama bagi seorang perempuan untuk mengandung. Begitu banyak resiko yang dapat kalian alami kalau mengandung di usia yang terlampau dini.

 

Belum saatnya seorang perempuan untuk terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. Menjadi seorang ibu, butuh kesiapan mental dan fisik yang prima. Kesiapan fisik misalnya saat mengandung (seorang ibu hendaknya benar-benar dalam kondisi yang stabil kesehatannya).

 

Secara psikis, remaja usia belasan belum saatnya untuk menjadi seorang ibu. Masih begitu banyak hal yang dapat dilakukan daripada terburu-buru menjadi seorang ibu. Ilmu yang dimiliki untuk menjadi seorang ibu belumlah cukup. Mengapa ? Menjadi seorang ibu haruslah pintar. Karena seorang ibu adalah sekolah/madrasah pertama bagi anak-anaknya.

 

Selain itu kewajiban menuntut ilmu adalah kewajiban kita selaku umat muslim. Hal ini tertuang dalam QS. Mujadalah 11, yang artinya

Surat Al-Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ............

Artinya :”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.”(QS.Al-Mujadalah:11)

 

Dan satu hal yang harus dipahami, bahwa kecerdasan seorang perempuan adalah warisan yang akan diberikan seorang perempuan pada anak-anaknya kelak.

sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS al-Ahzaab:33).

Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para wanita, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki masyarakat.

Makna inilah yang diungkapkan seorang penyair dalam bait syairnya:

الأم مدرسة إذا أعددتَها

أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق

Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya

Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya


Ini menandakan bahwa, sebelum para remaja menjadi ayah dan ibu bagi anak-anaknya yang tentunya diharapkan menjadi generasi emas yang berkualitas, tentunya para remaja sebagai calon orang tua harus menjadi calon orang tua yang berkualitas terlebih dahulu.

Jadi, sebelum para remaja memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, alangkah lebih baiknya apabila saat ini para remaja berlomba-lomba untuk memantaskan diri terlebih dahulu. Penuhi hati dengan keyakinan dan keimanan yang baik, penuhi pengetahuan yang banyak dan membangun, memantaskan diri untuk jadi generasi yang berdaya saing tinggi. Dan belajar sebanyak-banyaknya dengan penuh kebermaknaan, untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dikemudian hari.

Tulisan ini semata berasal dari pemikiran dan pendapat penulis semata. Penulis menyadari masih sangat banyak kekurangan baik secara konten meupun teknik penulisan. Penulis sangat terbuka dengan segala kritik dan saran membangun yang dapat digunakan untuk peningkatan tulisan ini ke depan. Dan penulis sangat terbuka atasa diskusi lanjut yanng akan dibangun.

Semoga sekelumit rangkaian buah pikiran dari penulis yanng merupakan dari pengalaman-pengaalan praktik baik pengajaran yang telah penulis lakukan selama ini dapat menjadai salah satu referensi bacaan ringan bagi siapa saja yang membutuhkan. Tak ada maksud untuk mendiskriditklan atau maksud negatif lain yang mungkin tersirat maupun tersurat dalam konten ini.