Selasa, 13-08-2019 | 04:08:12

Merayakan Keberagaman Wujud Aktualisasi Nyata Memaknai Kemerdekaan

Oleh :

Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

 

Semua anak terlahir hebat, semua anak adalah pribadi yang unik serta istimewa. Hanya karena ketidaktahuan kita sajalah yang terkadang mengerdilkan sesama mahluk ciptaan Tuhan. Acapkali kemampuan dan pengetahuan kita sendiri yang pada akhirnya menjadikan jurang diantara keberagaman yang ada.

Hadirnya anak-anak dengan kebutuhan khusus merupakan salah satu keberagaman yang perlu kita terima dengan hati terbuka. Kebutuhan khusus yang mereka sandang, bisa jadi mempunyai kelebihan lain yang belum tentu kita sendiri miliki. Tuhan Maha Adil, sangat tau apa yang terbaik bagi hambanya. Dan mungkin juga (pasti), dibalik keterbatasan mereka dalam beberapa hal yang kita sebut biasa, justru mereka memiliki potensi luar biasa yang hanya butuh diberi kesempatan yang sama, dan adanya penerimaan dari semua pihak (masyarakat, sekolah, dan pemangku kebijakan).

Namun pada kenyataannya, keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus (baca : dengan disabilitas) belum semua bisa diterima dengan baik ditengah-tengah masyarakat. Bahkan keberadaan anak-anak dengan disabilitas acapkali masih menjadi sebuah beban yang dirasakan oleh orang tua.

Untuk itulah perlunya gencar dilaksanakan kempanye publik tentang hak-hak anak yang harus diberikan sebagai bentuk pemenuhan hak anak yang memang harus dipenuhi. Semua anak dengan apapun kondisi fisiknya perlu untuk diberikan pengajaran dan kesempatan mengeyam pendidikan yang sama dengan anak-anak lain tanpa dengan kebutuhan khusus.

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, dengan apapun kondisi yang menyertainya, tentu juga memilliki hak dan kesempatan yang sama dengan anak-anak yang lain. Mereka dengan keterbatasan, juga perlu dan berhak mendapatkan pendidikan dan hak-hak anak lain seperti anak kebanyakan pada umunya.

Menjadi salah satu bagian dari kepanitian dalam kegiatan Festival Olahraga Inklusif Sukabumi 2019 yang baru saja diadakan di Pondok Pesantern Modern Assalam (Rabu, 07/08) merupakan sebuah pembelajaran dan pengalaman tersendiri bagi penulis. Punya kesempatan dan dapat berinteraksi langsung dengan anak-anak hebat merupakan sebuah kesempatan emas yang tentu saja menorehkan kenangan tersendiri bagi penulis.

Banyak hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari kegiatan yang syarat akan makna dan nilai tersebut. Yang pertama jelas merupakan nilai syukur atas karunia dari Allah atas nikmat sehat dan kesempurnaan fisik secara lahir maupun bathin. Dengan berkumpul dengan para penyandang disabilitas, tentu menjadi penyadar tersendiri bagi penulis betapa Allah telah mengakaruniakan nikmat yang tiada tara.

Hal kedua yang dapat penulis pelajari adalah, betapa hebat anak-anak dengan keterbatasan tersebut. Dibalik keterbatasan yang menyertai mereka, tawa bahagia tak pernah lepas dalam hidup mereka, dan yang jelas tidak ada keluhan atas keunikan dan keterbatasan fisik yang mereka miliki. Tentu ini juga menyadarkan penulis sendiri, betapa masih sering mengeluhnya penulis atas nikmat Allah yang telah penulis miliki.

Pelajaran ketiga yang penulis dapatkan adalah, bagaimana kita dapat menerima perbedaan orang lain yang secara fisik berbeda dengan kita. Nilai-nilai sosial dan kemasyarakatan dapat dibangun dengan berada ditengah-tengah saudara-saudara kita yang hidup dengan keterbatasan.

Dalam keterbatasan yang mereka miliki, tersimpan potensi lain yang luar biasa. Pelajaran lain yang dapat kita petik dari manfaat berkumpul dengan para disabilitas ini. Hal ini tentu sebagai bukti adanya pemberian kesempatan yang sama dalam hal pendidikan dan pemenuhan hak-hak dasar lainnya, terutama hak anak. Dengan adanya kesempatan yang sama, ternyata mereka pun dapat berprestasi yang membangggakan.

Dan, satu hal lagi yang sangat menyentuh hati penulis adalah, adanya orang tua-orang tua hebat yang dianugerahkan anak-anak istimewa ini. Anak-anak yang lahir istimewa ini memang terlahir dari orang tua yang hebat pula. 

Senyampang dengan memasuki Bulan Agustus yang merupakan bulan kemerdekaan bangsa ini, patut kiranya penulis sampaikan bahwa memaknai kemerdekaan dapat kita wujudkan dengan banyak hal dan cara. Dan salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk memaknai kemerdekaan negeri ini dengan memberikan kesempatan yang sama untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat berbaur bersama menikmati pendidikan dan pengajaran yang sama pula.

Tak ada lagi jurang pemisah dan pembeda antara anak-anak dengan kebutuhan khusus dengan anak-anak-anak tanpa kebutuhan khusus. Bersama bersinergi bahu membahu dalam memberikan kesempatan yang sama demi kualitas hidup yang lebih baik dimasa yang akan datang bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Dan satu hal menarik lain yang dapat penulis garis bawahi adalah, kembalinya dihidupkan permainan anak-anak tradisional yang telah lama ditinggalkan. Apalagi di era milenial 4.0 ini, dimana sudah banyak hal teralihkan dalam bentuk digitalisasi. Termasuk didalamnya adalah permainan anak-anak yang juga mulai beralih ke dalam bentuk digital.

Kembali diperkenalkannya kembali permaianan tradisional khas tanah Sunda yang syarat akan makna dan nilai-nilai sosial bagi para generasi muda ini tentu menjadi nilai tersendiri dalam memaknai arti kemerdekaan.

Semoga permaianan tradisional yang mereka mainkan saat terlakasananya Festival Olahraga Inklusi Sukabumi 2019 tidak saja berakhir saat itu saja. Justru menjadi era kebangkitan kembali permainan tradisional kita yang juga merupakan salah satu warisan leluhur bangsa.

Penulis menyadari, tulisan ini masih sangat banyak kekurangan dalam isi tulisan maupun konten penulisan. Untuk itu penulis sangat terbuka dengan kritik dan saran membangun untuk masukan dan diskusi lebih lanjut. Semoga dengan semakin pahamnya semua elemen masyarakat, dengan penerimaan terhadap anak-anak istimewa ini merupakan nilai luhur tersendiri secara sosial yang dapat kita lakukan dan menjadikan anak-anak dengan keistimewaan dan keunikan mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih unggul dan berkualitas lebih dimasanya yang akaan datang.